antara aku, kau dan dia part 62 nikah dulu atau doktoral dulu

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

suatu hari entah hari apa itu dan kapan saya tidak sengaja melihat iklan tentang mbak-mbak yang ditanya mau nikah dulu atau s2 dulu oleh kedua orang tuanya. kalau tidak salah di akhir iklan itu mbak tersebut bilang kalau nikahnya nanti setelah s2 *cmiiw*

waktu itu saya tidak pernah berpikir kalau suatu saat akan mendapatkan pertanyaan yang sama dengan apa yang dialami mbak-mbak itu karena ibu memang tidak pernah menanyakan kapan nikah, sudah punya gandengan belum dan pertanyaan semisal. maklum, karena dalam keluarga kami, yang terpenting bagi orang tua adalah karir dan pendidikan, masalah jodoh hampir tidak pernah dibahas. memang sih, dulu pernah ada yang saya kenalkan ke ibu tetapi kejadian itu sudah lama sekali.

justru pertanyaan kapan menikah itu pada awalnya muncul dari anak-anak lab mengingat mereka tahu kalau saya akan berangkat sekolah lagi. ada yang bilang nikah dulu mas, nanti keburu tua, ada juga yang mengusulkan nanti sekolah bawa istri mas, biar kayak film yang latarnya ada di eropa itu. waktu itu sih, pertanyaan semacam itu tidak terlalu saya respon. namun, seiring dengan berjalannya waktu ternyata ada salah seorang teman yang kebetulan diterima juga sebagai dosen ternyata akan menikah sebelum berangkat s3. walhasil, hal ini memancing pertanyaan yang serupa dari para dosen senior. saya sudah seringkali ditanya dengan pertanyaan serupa “kapan nikah? tuh si dia sudah menikah”. setelah melewati perenungan dan bertapa, akhirnya saya menemukan jawaban yang pas menurut saya.

“no married before Ph.D”

ada beberapa alasan mengapa jawaban tersebut merupakan jawaban paling baik dalam kasus saya. oh iya, lupa bilang kalau untuk urusan asmara, sejauh ini tidak dapat digeneralisasi karena masing-masing kasus harus dilihat per kasus. termasuk dalam kasus saya ini. oleh karena itu, saya akan mencoba memberikan beberapa alasan yang semoga masuk akal.

1. kuliah membutuhkan fokus
hal ini tentu sudah menjadi sesuatu yang umum ketika kita sedang sekolah maka fokus utama adalah bagaimana bisa menyelesaikan sekolah dengan baik sembari mengasah soft skill, memperluas jaringan dll. apalagi ketika kita menempuh kuliah di luar negeri, fokus ini jauh jauh lebih dibutuhkan karena atmosfer pendidikan yang berbeda dengan yang ada di negara kita.pengalaman selama 3 bulan di innsbruck tahun lalu membuktikan hal tersebut. kita harus bertarung melawan rasa kangen rumah, kangen orang yang disayang ketika itu, kangen jogja agar semua kerjaan yang ada di sana bisa selesai tepat waktu. lantas, bagaimana kita bisa fokus jika harus meninggalkan anak istri jauh di sana ? kalau saya sih, orangnya ga tega-an lah meninggalkan ibu dan adik saja sudah berat apalagi ditambah dengan meninggalkan istri.

2. mengurus kuliah s3 di austria itu ribet
tentu ini hal ini menjadi catatan tersendiri. mengurus berkas untuk s3 itu ribet dan memakan waktu serta biaya. housing, letter of admission dkk. belum lagi jika ditambah dengan harus mengurus surat-surat untuk menikah, tambah ribet lagi kan ?

3. menikah di kala sedang menempuh studi itu malah mengganggu konsentrasi
point ketiga ini berkaitan dengan point 1 di atas. bagaimana mungkin ketika di tengah penelitian yang mana seharusnya kita fokus, belajar banyak hal, meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk riset eh, malah harus mengurus tetek bengek pernikahan. situ bisa kagebunshin ? belum lagi biaya untuk pulang balik dari ibk ke indonesia yang tidak sedikit. hal ini juga yang mengganjal ketika mendengar satu dua junior yang menikah ketika masa studi/riset. entah kenapa merasa aneh saja, ketika lagi  butuh fokus untuk mengerjakan riset tapi malah mencari “masalah” lain. kenapa tidak menikah sebelum sekolah saja ? mungkin antara pria dan wanita beda kali ya. wanita ketika makin tinggi jenjang pendidikan dan melewati masa “ideal” konon katanya makin sulit mencari jodoh. ya kali, apa gelar akademik itu hal yang selalu kita tulis ? selalu diumbar ke setiap orang ? menurut saya itu bukan alasan yang masuk akal. kemudian, ketika kamu diberi kesempatan oleh negara dengan target tinggi, maka seharusnya itu yang menjadi prioritas bukan hal lain. oleh karena itu, rasanya tetap saja aneh dan ngganjel. ya kali, kalau kemampuanmu setingkat dewa mungkin itu tidak masalah, tapi kalau masih ada banyak yang pengin dipelajari mendingan menyelesaikan sekolah dengan baik dulu. mungkin juga takut tidak mendapatkan jodoh atau takut kekasihnya merasa “tidak pantas” juga ada, tapi ah, sudahlah itu tergantung sudut pandang masing-masing orang juga. kadang jadi berpikir, apa saya termasuk dalam “simulation-holic” ?

4. mahasiswa doktoral itu anak buahnya supervisor
ya, sudah jadi rahasia umum jika mahasiswa doktoral adalah anak buahnya supervisor. jika supervisor tidak mengijinkan untuk pulang ya kamu bisa apa ? apalagi kita harus memberikan alasan yang masuk akal kenapa menikah di tengah studi ? kenapa tidak sebelum atau sesudah saja ?

menempuh studi doktoral bukan saja mengenai pendidikan melainkan bagaimana cara kita untuk survive. kalau dipikir-pikir lagi semua senior saya dulu menikah sebelum atau sesudah sekolah. memang sih, ada yang bilang nikah dulu nanti istri dibawa ke sana, kan ada tunjangan keluarga to ? hmm, yang patut dipikirkan adalah mengurus dokumen untuk tinggal di ibk itu yang ribet, harus keluar dari studentheim dan mencari apartemen. semua teman-teman doktoral yang sudah menikah tidak ada yang membawa keluarganya ke ibk. lagipula, nanti istri semisal ada, mau ngapain selama 3 sampai 4 tahun ? kalau mau kuliah, harus dapat beasiswa dulu, jadi ibu rumah tangga ? lah kalau itu mending nanti saja setelah semua beres, malah bisa hemat. memang sih, ada teman yang menikah juga di tengah-tengah studi tapi ingat mereka semua adalah mahasiswa s3. namanya mas novik dan mbak sarah. mas novik belajar di stuttgart dan mbak sarah belajar di ibk.

5. belajar dari pengalaman pertama kali datang ke ibk
kesalahan terbesar ketika waktu di ibk dulu adalah saya pertama kali datang ke ibk adalah pernah menyukai seseorang yang berada di indonesia dan ternyata dia sudah punya pacar. hal ini sangat mengganggu ketika saya tahu bahwa dia sudah punya ketika itu karena membuat mood menjadi hilang ketika di lab. bisa dibayangkan ? jika kamu terpisah jauh dengan orang yang kamu sayangi kemudian dia berubah pikiran ?uii, lagi-lagi kamu menciptakan masalah tersendiri. oleh karena itu, saya selalu berpikir untuk fokus menyelesaikan studi dulu baru kemudian menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenis. mengapa sih harus sampai memaksakan diri sampai jenjang doktoral ? ada motivasi tersendiri ketika saya memutuskan mengambil jenjang doktoral. pertama, karena dulu pernah menolak tawaran s3 dari supervisor pas di ibk dan alhamdulillaah-nya pintu itu masih terbuka sehingga kesempatan ini tidak ingin saya sia-siakan lagi. kedua, karena ibk merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan teknik dan belajar mengenai kehidupan. hanya beberapa bulan setelah pulang dari ibk, september 2015, gelombang-gelombang kehidupan tak hentinya menerpa. dari situ saya meyakini bahwa ibk merupakan salah satu tempat yang cocok untuk fokus belajar, bukan di jogja yang terlalu banyak “gangguan”. alhamdulillaah Allah memberikan kesempatan sekali lagi untuk ke ibk.

6. ibu belum mengijinkan
sebagaimana yang dijelaskan di awal tulisan ini, ibu jarang membahas masalah jodoh dst. meski dulu sudah pernah tak kenalkan dengan seseorang sepertinya masih belum sreg. sebagai anak yang baik dan berbakti (eaaa), saya mencoba memahami jalan pikiran beliau. ada beberapa alasan yang meski tidak diutarakan secara langsung tapi bisa ditebak yaitu ibu ingin agar membantu adik biar lulus sarjana dan bahkan kalau bisa menempuh master. nah, sebagai kakak yang baik (halah) tentu kepentingan adik juga dipertimbangkan dan memang saat ini saya harus mendukung agar dia bisa lulus sarjana dan “memastikan” masa depannya. kedua, sebagai anak pertama dan cucu pertama, ibu ingin saya ikut bertanggung jawab membantu anggota keluarga yang lain, ya karena di keluarga kami, solidaritas dan tolong menolong adalah hal yang utama. ketiga, ibu lebih ridho kalau saya sekolah lagi daripada harus “dilepas” ke orang lain, buktinya meski dulu sempat protes kenapa pergi lagi, tapi toh akhirnya juga mendukung. bahkan sering ibu bilang, kalau kamu ada kesulitan keuangan, bilang saja nanti ibu bantu sekadarnya. *entah kenapa pas nulis alasan ini, tiba-tiba terharu sendiri*

7. belum menemukan calon yang sesuai dengan kriteria ibu
mungkin beberapa tahun yang lalu, saya termasuk anak yang egois, jarang nurut apa kata ibu. namun seiring dengan berjalannya waktu, usia ibu yang semakin menua, ada baiknya saya nurut kriteria yang ditetapkan oleh ibu. apa sih kriteria yang ditetapkan oleh ibu ? yang jelas harus orang jogja dan dekat rumah (mungkin agar tidak perlu mudik). bukan itu ding alasannya, karena ibu tidak kuat untuk pergi jauh misal naik kereta 8-9 jam atau naik kendaraan lama-lama sehingga beliau pernah bilang, kan absurd to nek ga datang ke acaramu. yah, memang ada teknologi pesawat terbang sih hahaha, tapi untuk yang satu ini saya juga sepakat dengan ibu. kedua, ibu mensyaratkan yang sudah punya pekerjaan atau pendidikan yang setara dengan saya. maklumlah, kami orang dusun, jadi pemikirannya masih seperti itu. ketiga dan yang paling penting adalah bisa mengayomi ibu dan adik serta keluarga yang lain. mungkin ini yang sulit ya dan kita tidak pernah tahu apakah “dia” bisa mengayomi atau tidak karena butuh waktu untuk membuktikan. selebihnya untuk masalah aspek fisik, keuangan dll ibu tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. oleh karena itu, karena calon tersebut sulit ditemui dan mungkin makin sulit ketika berada di ibk, lebih baik fokus dulu ke sekolah.

8. tidak ingin menggantung nasib orang lain
nah, ini juga…kira-kira bagaimana perasaanmu digantung oleh orang lain ? begitu juga dengan perasaan orang yang tidak ingin digantung. oleh karena itu, karena di point atas tadi hampir tidak mungkin menemukan kriteria yang sesuai dengan apa yang diingini oleh ibu, kmudian tidak ingin agar studi terganggu, maka saya juga tidak ingin menggantung perasaan orang lain selama 3 tahun. toh, kalau ada jodoh ya pasti akan bertemu lagi. kalau kata guru agama islam pas di MAN dulu, kamu berjanji dengan orang lain setelah sekian tahun akan menikahi dia, emang kamu bisa menjamin umurmu sampai hari itu tiba ? biarkan dia bebas, kalau ada yang mau melamar ya silakan, daripada harus menunggu 3 tahun.

no pain, no gain, begitu kata mas saleh kemarin sore. memang “pain”-nya adalah ketika kita disalip teman sendiri untuk menikah, tapi yakinlah “pain” ini akan terbayar tuntas, daripada nanti malah tidak fokus ke sekolah dll. oleh karena itu, selagi masih sendiri nikmati hidup. main game, jalan-jalan, naik gunung sendirian dll. yah, jadi ingat tujuan ke ibk bukan cuma untuk sekolah tapi juga untuk “menikmati hidup”. saya sendiri sadar  konsekuensi ketika memutuskan untuk pergi ke ibk lagi bakalan “mengabaikan” urusan asmara tapi entah kenapa dalam hati juga lebih sreg jika mengerjakan hal-hal yang berbau riset, pendidikan daripada harus jatuh bangun mengejar apa yang namanya cinta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s