antara aku, kau dan dia part 53 ibk – jogja

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

# tulisan terakhir tentang ibk karena beberapa hari lagi insya Allah bisa pulang ke jogja.

setelah kemarin menulis tentang hal macam-macam pada tulisan ini mencoba untuk fokus kepada apa yang kami sebut dengan tradisi. thomas pada awal-awal emailnya pernah mengutarakan tentang tradisi panjang yang ada di tci. pada waktu itu saya berpikir masih bisa mengikuti tradisi tersebut tetapi seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang terjadi dan akhirnya sampai juga di ibk. sesampainya di sini saya baru sadar ternyata tradisi itu berat, tidak mudah untuk diikuti. tradisi apa sih ? tradisi mengembangkan metode baru. dari sinilah saya sadar nama-nama yang sering saya baca termasuk nama dari pembimbing s2 dulu.

hal ini sangat kontras dengan apa yang ada di aic di mana kami stagnan dengan itu-itu saja, termasuk metode hasil temuan dari ibk. ah, kenapa jadi ingat kualifikasi doktoral dan magister yang dulu pernah disampaikan pas penyambutan mahasiswa s2-s3. di mana salah satu kualifkasi lulusan magister dan doktoral adalah mampu mengembangkan riset ke arah baru. huf, jadi merasa malu sendiri.

untuk meniru tradisi ibk dalam mengembangkan metode baru tentu butuh perjuangan yang panjang apalagi dengan sarana dan pra sarana, kondisi sdm yang berbeda dengan ibk. yang jelas kita harus membuat tradisi sendiri yang tidak mesti sama dengan ibk. tradisi yang sesuai dengan kondisi yang ada di jurusan kimia dan hal itu harus segera dimulai dari sekarang.

hal menarik lain yang saya temukan di sini adalah sinkronisasi antara lab eksperimen – komputasi. mereka saling bekerja sama mengerjakan riset. metode baru yang dikembangkan di sini bukan sekedar memenuhi hasrat keingintahuan saja tetapi juga untuk memenuhi tuntutan eksperimen. misalnya ketika kita melakukan simulasi dinamika molekular padatan – cairan, SiO2 – air – asam amino misalnya nanti bisa digunakan untuk memodelkan fasa diam dari HPLC. atas dasar pemikiran itulah, saya pergi ke ibk dengan harapan bisa mempelajari hal baru yang bisa menjembatani antara aic dengan lab eksperimen. selama ini riset aic dengan eksperimen sangat berbeda, mungkin salah satu penyebabnya adalah stagnasi tadi. oleh karena itu, aic harus out of the box, harus meihat kebutuhan lab eksperimen di jurusan kimia. karena di lab kimia fisik itu yang sering dikembangkan adalah katalis, maka sejak awal saya mengajukan usul simulasi dinamika molekular salah satu material pengemban katalis dengan interaksinya dengan air. harapan ke depannya adalah mempelajari reaksi terkatalisis *tapi entah kapan bisa terwujud*. tentu saja, kita tidak mungkin menerapkan metode yang ada di tci untuk digunakan di aic. hal ini dikarenakan tci juga masih menggunakan metode tersebut untuk riset di sini, inilah yang tak maksud out of the box, kalau kita mencari jurnal-jurnal masih ada beberapa metode lain yang masih bisa diterapkan di aic. inilah misi pribadi di ibk, bukan lagi untuk mengejar S3 dan semacamnya tetapi bagaimana caranya mengekstrak /memahami konsep apa yang diperoleh di sini kemudian untuk kembali dan mewariskannya pada aic sehingga pada akhirnya aic dan jurusan kimia dapat lebih berkembang. harapan saya seperti itu *Setinggi apapun teknikmu kalau tidak bisa mewariskannya pada generasi penerus, percuma*. oh ya, bukan berarti kita meniru secara persis metode yang ada di ibk lho, melainkan mengambil konsep dan berusaha mengembangkannya.

alasan paling krusial mengapa tidak bisa menggunakan metode yang ada di tci adalah KARENA KEBUTUHAN PERANGKAT KOMPUTASI YANG SANGAT TINGGI. saya di sini bekerja menggunakan komputer dengan prosesor core i7 3.4 Ghz, RAM 4 GB dan harddisk 4 TB. itu hanya untuk simulasi dinamika molekular klasik *yang mana test-nya macam-macam* sementara untuk perhitungan menggunakan metode mekanika kuantum, perangkat yang digunakan adalah 64 prosesor intel xeon untuk satu job, padahal ada 4 job yang harus dilakukan berarti menggunakan 256 prosesor, sementara di aic sendiri hanya ada satu kluster komputer dengan 100 prosesor amd opteron *tua* yang mana sebagian dari nodes-nya down ketika saya berangkatšŸ˜¦. sementara komputer-komputer yang ada masih sekelas pentium 4 yang sudah berumur lebih dari 10 tahun yang lalu. begitulah, kita memerlukan kombinasi antara orang yang tepat dengan mesin yang tepat di aic. mengapa sih komputer-komputer tua itu tetap dipertahankan ? wallahu a’lam, mungkin petinggi aic bisa menjawab. kalau untuk perangkat keras apabila kita menggunakan program simulasi dinamika molekular yang sudah mendukung GPU acceleration, kita bisa menekan harga perangkat keras menjadi lebih murah, contoh program yang sudah support GPU antara lain gromacs, amber, petachem. tetapi jika kita menggunakan program komputasi (dan sayangnya yang sering digunakan) tidak mendukung GPU seperti turbomole dan gaussian tetap saja kebutuhan perangkat komputasinya mahalšŸ˜¦ .

# kluster yang ada di ibk bisa dilihat di sini

jadi yang bisa disimpulkan antara lain: membangun tradisi dan sinkronisasi dengan eksperimen.

Hiburan mahasiswa s3 di sini adalah game komputer, meski terkadang mereka terlihat serius, ternyata serius main game. selain game komputer, hiburannya adalah youtube, facebook *nek sik terakhir ini saya hahahaha*. intinya harus seimbang antara kerja dengan main. mereka biasa datang bebas, tapi rata-rata pulang di atas jam 5 sore. kalau saya di ibk datang sekitar jam 8 lalu pulang jam 16.30, tahulah alasannya. bulan juli-agustus ini adalah bulan-bulan libur kuliah sehingga sebagian dari mereka biasanya pulang ke negaranya masing-masing atau berlibur. beda sekali ketika di aic, di mana biasanya datang cuma sebentar setelah itu pergi lagi entah pergi kerja, main, ke perpus dll. well, oh ya di sini pembimbing termasuk aktif dalam menanyakan hasil pekerjaan kita, termasuk aktif dalam membimbing, menjelaskan macam-macam. sejujurnyaĀ  itulah yang saya sukai dari ibk. bahkan sebelum dia pergi selama dua minggu, masih sempat datang ke ruangan saya dan memberikan arahan apa saja yang harus dikerjakan padahal paginya sudah bersiap untuk packing pulang ke indonesia. yang jelas dituntut paling tidak agar target yang pembimbing inginkan bisa tercapai. untuk hal-hal yang baru dan belum pernah dikerjakan, biasanya dia akan memberikan contoh *cuma sekali, setelah itu kita disuruh mencoba-coba sendiri. pernah suatu hari saya lupa satu hal yang penting dan minta thomas mengulanginya sekali lagišŸ˜¦ . begitu juga jika ada masalah, sebisa mungkin semua kita tangani sendiri, beda dengan aic di mana ketika ada masalah yang kita andalkan adalah orang lain.

oh ya satu hal lagi yang penting tentang ibk. selama di sini saya sempat main ke Hafelekar, puncak pegunungan alpen dan ke danau achensee. sebagaimana yang kita tahu eropa memiliki keindahan alam yang sangat indah. karena mereka merasa harus “menjual” keindahan alam maka secara naluriah mereka akan berusaha menjaga kebersihan alam. pada waktu kami pergi ke danau dengan mata kepala saya sendiri melihat orang-orang ibk membawa kembali sampah yang mereka hasilkan. di tempat kami main, ada bekas api unggun dan yang tersisa hanyalah arang, tidak terlihat sampah plastik dll. begitu juga di puncak pegunungan alpen, bersih tidak ada sampah plastik. sikap ini yang mungkin perlu ditiru oleh warga negara kita. terutama yang sering naik gunung dan mengaku sebagai pencinta alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s