antara aku, kau dan dia part 46 Aryo, teman lama

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Proses alamiah yang terjadi selama beberapa hari ini tapi oleh ibu saya malah dianggap tidak normal memaksaku untuk pergi ke RS kemarin. Yah, meskipun dalam hati aku tidak suka dengan RS dan karena satu hal sehingga sampai sekarang belum terdaftar di BPJS KESEHATAN, tapi aku menurut saja, itung-itung biar ibu lega.

singkat cerita, akhirnya kemarin ketemu dokter jaga yang seumuran sehingga akhirnya kami malah saling tertawa di IGD dan cek kesehatan malah jadi “formalitas” saja. Dokter tersebut mengingatkanku akan dua hal. Pertama, cita-citaku menjadi dokter kandas di tengah jalan, harusnya dulu pas diberi memilih jurusan mana saja di kampus ini, aku pilih kedokteran sekalian saja tapi apa daya tangan malah nge-klik kimia. Sudahlah, itu takdir nak. Kedua, tentang salah seorang temanku yang kini juga menjadi dokter. Aryo, anak kelas IPA 1. Waktu kami sama-sama di SMA memang kami tidak akrab. Di SMA dulu teman-temanku cukup banyak, mulai dari yang nakal hingga yang paling alim se-sekolah, kecuali Aryo. Entah kenapa waktu di SMA aku tidak bisa akrab dengan dia. Maklum perawakan Aryo yang masih mirip anak SMP, suara yang kecil mirip anak-anak mungkin dianggap aneh tapi memang benar, Aryo adalah murid termuda, kira-kira waktu lulus dia baru berusia 15 tahun (mirip dengan anak-anak akselerasi yang sering masuk koran itu). Secara akademis pun nilai Aryo tidak terlalu bagus, aku pernah menemukan daftar peringkat kelas IPA 1, nilainya mengenaskan. Aryo termasuk yang tidak lulus UNAS waktu itu.

Aku tidak pernah melihat dia lagi setelah lulus hingga hari itu, ya hari di akhir bulan Februari 2008 di Masjid Kampus. Aryo lewat di depanku saat aku sedang duduk di sana. “Yo!” Panggilku. “Eh, kamu di sini ya” Jawab dia. Kira-kira kurang lebih ini yang kami obrolkan waktu itu :

aryo : “gimana kuliahmu di kimia ?”
neax : “alhamdulillaah lancar.. kamu sendiri sibuk apa sekarang ? ” waktu itu dia memegang buku les, kupikir dia ikut les agar bisa lulus UNAS.
aryo : ” ini, kuliah di kedokteran sama ngambil pelajaran lagi di SMA”
neax : “haa? beneran yo ?” (serius, waktu itu aku benar-benar kaget karena beberapa teman yang kukenal pintar, bahkan top class IPA 1 tidak lulus UM UGM)
aryo : “serius ini beneran. aku lulus UM UGM kemarin”
neax : “kamu pake paket C bisa ?”
aryo : “bisa, nanti ikut UNAS lagi terus pakai ijazah SMA”

gara-gara cerita itu pas adikku masuk SMA yang sama denganku, dia bilang “ga papa, nanti kamu jaga ya jangan sampai termakan pemikiran yang aneh-aneh”

setelah itu aku lupa Aryo bilang apa intinya kami ngobrol ngalor ngidul… yang jelas dia merasa kesepian waktu SMA karena berbeda keyakinan dengan apa yang diajarkan waktu SMA terutama pelajaran-pelajaran agama. dia merasa kesepian selama tiga tahun gara-gara keyakinannya itu. Dia mengaku pernah berdebat dengan guru akidah akhlak gara-gara tidak sepakat dengan apa yang beliau ajarkan. Waktu itu pun aku juga merasa ada yang aneh dengan pelajaran tersebut, makin dipelajari makin bingung. Aku jadi ingat satu lagi teman yang memiliki keyakinan yang sama yaitu akhwat namanya dilla (kalo ga salah sih). aku pernah meminjam bulughul maram dan terjemah shahih bukhari dari dia hanya untuk mencari hadist apakah musik itu haram atau tidak. menginjak kelas XI, dilla lebih memilih keluar dari sekolah karena tidak betah tidak punya teman dan keluar dari organisasi islam di sekolah. sejak saat itu aku tidak tahu kabar dia lagi. Aryo bercerita kalau mental dia lebih kuat daripada dilla sehingga bisa bertahan tiga tahun tanpa teman. waktu itu juga aku tahu kalau sebenarnya Aryo anak salah satu orang kaya di Jakarta, kakaknya juga seorang dokter jadi orang tuanya mendorong dia untuk menjadi dokter juga. sejak hari itu, aku kadang-kadang bertemu dengan Aryo sekedar meminjaminya buku kimia atau mengajarinya kuliah kimia dasar di FK. pernah suatu hari sebelum KKN, aku meminjam dua buku tentang obat yang sangat tebal dan berat. Mungkin karena anak kedokteran  bukunya tebal maka bayaran mereka juga tinggi setelah jadi dokter.

Pertemuan kami berikutnya terjadi di maskam, tepatnya di bulan agustus 2011. waktu itu kuliahku sedang kacau, tidak mau ikut membuat laporan PKM karena skripsiku sendiri tidak kunjung selesai dan makin tidak jelas arahnya ke mana, nilai yang keluar kurang memuaskan dll. akhirnya kuputuskan untuk sholat dan merenung di maskam, biasanya nanti dapat inspirasi di sana.

sesudah sholat, aku duduk di sayap utara maskam. tiba-tiba ada seseorang pria bermasker dan berambut panjang menghampiriku dan mengucapkan salam. tentu saja, aku jawab salam tersebut. tak kusangka dia malah bilang “Hei, kamu lupa sama aku ya?”. “kamu siapa ?” jawabku. “ini aku, Aryo!”. dari nada suaranya memang mirip Aryo, tapi dari dandanan yang dipakai berbeda dengan Aryo yang kukenal dulu.

aryo : “gimana kuliahmu ? sudah lulus belum ?”
neax : ” yah begitulah, belum yo masih lama ketoke ”
aryo : “lah kenapa ?”
neax : “skripsiku ga selesai-selesai yo…” (meh setaun lho digarap)
aryo : “aku sudah lulus kemarin mei (2011 maksudnya)”
neax : “wwuh keren, kamu co-ass (itu kerja praktek di tempat mana gitu sebelum diangkat sumpah dokter)”
aryo : ” ogah, aku ga mau co-ass, males”
neax : “lah terus bukane ga bisa praktek ya sebelum co-ass”
aryo : “iyo e, gelar S.Ked itu ga ada gunanya, makanya aku ambil spesialis sekarang”
neax : ” di mana yo ?”
aryo : “di Seoul”
aku tambah kaget.
aryo : “IPK-mu berapa ?”
neax : “wah jelek e, masih 3,0 sekian, kamu ?”
aryo : “wah, aku juga jelek, 3,6 gitu”

wah ga bener ini anak, IPK segitu masa’ dibilang jelek. di kimia IPK segitu sudah dianggap sangat bagus dan setahuku di teman-teman S1 yang sekelasku cuma segelintir orang saja yang bisa menembus IPK segitu salah satunya adalah Wahyu..

aryo : “heh, kamu ga kalau di FK itu rata-rata IPK-nya 3,8an ke atas”
neax : “hah!”
aryo : “kalo TOEFL-mu”
neax : “cuma 440-an yo…”
aryo : “wah ga cukup itu, ga cukup..kalo mau keluar negeri minimal 550”

waktu itu aku tidak berpikir untuk keluar negeri, bisa lulus secepat mungkin saja sudah alhamdulillaah….

akhirnya kami mengobrol panjang lebar lagi. Aryo bercerita tentang korea selatan yang sebagai salah satu belajar kedokteran yang terbaik di dunia. etos kerja orang korea yang sangat tinggi, mereka dikasih tugas keesokan harinya sudah selesai, cerita bagaimana cara dia dapat supervisor, sulitnya mengalokasikan waktu untuk sholat, bahkan dia harus sholat di kamar mandi kering, kadang dia harus ikut-ikutan minum sake gara-gara ditawari supervisor, cerita bagaimana dia part time di sana, kagum pada umat muslim yang ada di korea selatan. Waktu aku tanya pengalaman mistis dia di kampus dan rumah sakit, dia juga cerita bagaimana pernah mengalami kejadian horor di gedung FK, ketemu pasien yang kepalanya harimau badan manusia pas belajar praktek di RS tertentu, ketemu suster jadi-jadian dll. Kami benar-benar ngobrol banyak waktu itu… Di akhir pertemuan kami, dia bilang “Kamu harus bisa sekolah keluar negeri”.

Itulah pertemuan terakhir kami, sejak saat itu aku tidak pernah ketemu lagi dengan dia. Meski beberapa temanku yang lain juga ada yang menjadi dokter, entah kenapa cuma Aryo yang paling memberikan kesan mendalam. Apa yang ingin kusampaikan di sini : peringkat di kelas itu bukan sesuatu yang absolut, peringkatmu jelek bukan berarti masa depanmu suram. Begitu juga sebaliknya, peringkatmu bagus belum tentu juga masa depanmu cerah. Setiap orang lahir dengan bakat dan keunikan masing-masing, tidak dapat disamaratakan satu sama lain. Oia, meski Aryo pernah diperlakukan tidak menyenangkan, dia tetap sungkem pada para guru-guru kami untuk minta do’a restu agar bisa sukses ujian. Ujian apa gitu, dia sudah berulang kali gagal, baru kemudian dia datang ke SMA dan minta ma’af sekaligus minta do’a restu pada para guru kami. Aku juga kurang paham dengan apa yang terjadi pada pendidikan SMA di negara ini, semua diukur dengan angka-angka padahal angka-angka tersebut bisa saja dimanipulasi untuk mempertahankan apa itu yang disebut dengan nama besar sekolah, agar para siswanya bisa diterima di program kuliah gratis dari pemerintah. Di satu sisi ini memang tidak masalah asal siswa tersebut sembodo dengan nilai yang ada di rapor, tetapi jika tidak ? Gara-gara harus mengejar angka-angka itu kadang para guru lupa untuk mendidik mental dan moral para siswa seperti kejadian siswa SMK di Seyegan yang terbunuh baru-baru ini, setiap tahun kita melihat anak-anak SMA yang bertingkah laku seperti orang gila setelah dinyatakan nilai mereka di atas ambang batas minimal kelulusan (angka lagi)…

oke cukup sekian dan semoga bermanfa’at!

# I wish I can see you again, Aryo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s