antara aku, kau dan dia part 38 ramadhan itu berharga bro

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Setelah kematian kakekku, aku jadi ingat ada draft tulisan yang hampir sebulan kubiarkan mangkrak di hard disk komputer, tentang Ramadhan, mengingat bertemu bulan Ramadhan itu hal yang sangat berharga. Berikut tulisannya :


Kalender komputerku masih menunjukkan awal bulan Juni, tapi tak terasa Ramadhan akan segera kira-kira satu bulan lagi. Yah, ini adalah tulisan keempatku tentang Ramadhan, setelah beberapa tulisan yang telah lalu.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk beribadah, memperbanyak amalan sholeh. Ibarat toko, inilah bulan diskon, bulan doorprize, bulan penuh rejeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Umat muslim seharusnya memanfa’atkan kesempatan yang datang sekali setahun ini karena tidak ada jaminan bahwasanya kita akan bisa bertemu dengan bulan Ramadhan setiap tahunnya. Aku masih ingat khotib-khotib yang dulu dari kampung Mlangi, itu lho salah satu kampung pondok pesantren sekaligus sentra mercon (mungkin saja sekarang sentra mercon itu sudah hilang) satu per satu pergi wafat sehingga tahun kemarin tidak ada satupun khotib dari kampung tersebut mengisi ceramah di masjid kampung kami. Namun demikian, para kapital berpikir berbeda, mereka tidak ingin melewatkan bulan Ramadhan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya. Mereka tidak peduli lagi dengan apa itu kekhusyukan ibadah yang penting bagaimana caranya bisa meraup untung terutama di akhir-akhir bulan Ramadhan. Tentu miris, sekaligus sedih ketika di akhir-akhir bulan Ramadhan,umat islam malah asyik ber-i’tikaf di pusat-pusat perbelanjaan, di toko-toko bukan di masjid, masjid semakin lama menjadi semakin sepi.

Mungkin kalian berpikir, ah ini terlalu berlebihan. Berlebihan? Coba tengok saja Tv kalian, isinya cuma iklan makanan dan minuman tok, seolah Ramadhan cuma sirup, kue kering dan mudik! Apalagi itu ditayangkan juga di siang hari, tentu hal ini merusak kekhusyukan ibadah puasa. Mereka menciutkan esensi Ramadhan hanya makan minum, ngabuburit, humor yang tidak lucu selama menjelang berbuka puasa dan sahur. Belum lagi ditambah dengan sinetron berbau agama yang merusak itu. Itu baru dari tv saja, belum lagi mal-mal, toko-toko yang tak kalah dengan tv. Pernahkah kita berpikir, siapakah yang meraih keuntungan (dalam bentuk uang) paling banyak selama bulan Ramadhan? Tentu para pemilik toko, mal, pabrik makanan minuman dll. yah, bisa kalian tebak sendiri apa yang mereka anut?

Sungguh miris memang ketika banyak yang menyambut Ramadhan dengan cara-cara yang tidak ada gunanya seperti pawai, konser. Kalau kita berpikir apa manfa’at yang bisa diambil dari acara-acara semacam itu? kenapa mereka tidak berpikir untuk menambah ilmu tentang puasa, zakat, tarawih karena siapa tahu mereka nanti menjadi panitia kegiatan bulan Ramadhan. Yang lebih miris lagi, ketika baru saja Ramadhan berakhir kita sudah kembali dalam kemaksiatan. Oia, aku jadi ingat kejadian tahun lalu. Ketika itu teman-temanku bertekad ingin mengembalikan kejayaan kampung kami sebagai jawara lomba takbiran. Aku sendiri pernah ikut takbiran hanya satu kali, pas kelas satu SMA, sejak saat itu aku tidak pernah ikut lagi karena memang tidak ada yang mengajak dan kedua aku tidak suka acara-acara semacam itu. Meskipun posisiku ketika itu adalah ketua panitia kegiatan ramadhan di masjid tetapi ini adalah inisiatif seluruh pemuda-pemudi di kampung. Pada malam idul fitri itu aku ke masjid, di sana kulihat teman-temanku sudah bersiap untuk mengikuti lomba takbiran padahal adzan isya’ sudah berkumandang, ya sudahlah, aku sendiri tidak ikut lomba tersebut. Oia, lomba itu dilaksanakan di daerah selatan kampungku.

Keesokan harinya, hari idul fitri aku bertanya pada beberapa teman yang ikut lomba itu dan ternyata ada sebuah kejadian miris yang terjadi selain kalah yaitu rombongan kami ketika pulang dikejar oleh sekelompok pemuda desa tetangga yang tengah mabuk hingga para teman-teman kami yang wanita ketakutan hingga lari masuk ke dalam masjid bahkan mobil pickup yang digunakan ketika itu kaca depannya rusak sehingga kami terpaksa harus menggantinya. Pak ketua takmir pun berpesan agar tahun depan tidak usah ikut event lomba takbiran lagi di manapun ketika rapat pembubaran panitia. Memang sih bukan sekali ini saja kampung kami terlibat kericuhan, beberapa tahun lalu katanya (karena ketika itu aku tidak ikutan) kontingen lomba takbiran kami juga terlibat kericuhan dengan kampung sebelah dan sejak saat itu kampung kami vakum dalam lomba takbiran hingga muncullah ide untuk mengembalikan kejayaan yang berakhir miris itu.

Aku juga tidak habis pikir mengapa orang-orang tua itu tidak melarang anak-anak mereka agar tidak membeli petasan atau kembang api? Bukankah itu menghambur-hamburkan uang saja kan? Aneh memang ketika di luar sana banyak orang yang bekerja keras demi mendapatkan uang sementara di sisi lain banyak orang yang justru membakar uang mereka sendiri! Begitulah, di negara ini banyak yang berpidato ingin memajukan pendidikan, tetapi dia sendiri hidup dari acara-acara yang tidak mendidik, absurd!

Dalam lingkup yang lebih luas lagi, terkadang aku merasa kasihan, ya kasihan pada mereka yang hidup dari bersandiwara, menjalankan kehidupan sebagai orang lain dan harus patuh terhadap skenario yang telah dibuat. Kasihan sekali mereka, mengais rejeki dari berpura-pura dan kebohongan. Yah, begitulah, ada yang berpidato peduli Indonesia, pendidikan dll. tapi mereka sendiri hidup dan mungkin menjadi orang kaya dari tayangan-tayangan yang sama sekali tidak mendidik.

Cukup mengesalkan juga ketika simbol-simbol agama ini dijadikan atribut sandiwara karena itu justru kerusakannya dobel, misalnya ada wanita berkerudung tapi pacaran, bercampur baur dengan lawan jenis. Hal ini seolah-olah ‘melegitimasi’ pacaran itu diperbolehkan dalam Islam, padahal Islam melarang semua sarana menuju perzinaan. Miris!! Dan saya semakin yakin bahwa di bulan Ramadhan kelak tayangan-tayangan seperti itu akan semakin marak. Oleh karena itu, tidak kompromi lagi selain mematikan tv kalian sekarang juga! Semoga umat muslim sadar apa yang sebenarnya mereka inginkan dari tayangan-tayangan semacam itu.

Semoga tulisan singkat ini menjadi renungan bagi diriku sendiri dan kita semua agar mengisi bulan Ramadhan dengan banyak ibadah. Hmm, biasanya orang-orang yang ibadahnya diterima di bulan Ramadhan mereka akan lebih giat lagi di luar bulan Ramadhan dan ingat Allah kita tetaplah sama baik itu di luar dan selama bulan Ramadhan, terakhir sebagai seorang muslim dan warga negara Indonesia biasa, aku sangat berharap bahwa tahun ini kita berpuasa dan berhari raya bersama-sama dengan pemerintah kita, meskipun kita tahu pemerintah tidak lepas dari berbagai kesalahan, tentu saja mereka kan juga sama-sama manusia to, sebagai perwujudan persatuan dan kesatuan umat Islam, mari kita hilangkan ego dan kefanatikan kita terhadap organisasi, kelompok atau partai tertentu. Alangkah indahnya bila umat Islam bisa bersatu padu berpuasa dan berhari raya bersama-sama.

# akhirnya kuposting juga🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s