antara aku, kau dan dia part 37 aku bapak dan kakek

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Aku tidak tahu harus menulis dari mana, entah kenapa aku jadi ingat dengan dua sosok yang berbeda dalam kehidupanku selama ini, bapak dan kakek. Mungkin saja karena keduanya telah meninggal hingga aku ingat kembali apa yang bapakku ingin katakan tetapi tidak kesampaian karena tidak mau mengatakan atau karena telah meninggal.

Sekitar satu minggu lalu kakekku masih sempat datang ke rumah, maklum saja karena aku jarang pergi menengok dan sempat mengobrol sebentar, jarak di antara kami agak jauh dari dulu dan sulit untuk didekatkan meski dia kakekku sendiri. Rabu malam kami masih sempat ke masjid bersama dan aku lihat beliau masih sehat-sehat saja. Kamis sore aku dibangunkan adikku katanya kakek sakit dan akan dibawa ke rs pr. Langsung saja aku segera ke sana dan ternyata memang benar, simbahku nyaris tidak sadar katanya sih sakit perut. Waktu itu yang ke sana adalah x , y, z [mereka adalah anak-anak simbahku], lalu aku, ibuku, s dan cucunya yang paling kecil, yg (anaknya z).

Tak berapa lama setelah pemeriksaan, suster memanggilku “mana keluarganya mbah tg?” “iya sus”. Dokter juga menanyakan siapa-siapa kami, setelah dijelaskan dokter mengatakan bahwa usus kakekku ada yang bocor dan harus segera dioperasi malam ini juga, secepatnya. Oke, dalam hal ini aku tidak berwenang memutuskan apa yang akan kami lakukan, ketiga anak kakekku kemudian berembug dan entah siapa yang mengambil keputusan  yang jelas anak-anaknya minta rujukan ke rs lain saja yang agak jauh. Bukan main kagetnya aku mendengar keputusan itu! Kakekku segera dirujuk ke rs lain, dugaan jelek pun muncul, hal ini wajar karena rs yang jadi rujukan bukan rs yang lebih canggih tetapi rs dengan fasilitas yang lebih jelek daripada rs pr, absurd! Karena hari sudah larut malam, kami semua pulang yang tinggal di sana adalah x dan anaknya yang datang menyusul. Tapi entah kenapa keesokan harinya justru aku bertemu ag yang sedang menunggu mbahku, katanya sih kami pulang dia datang.

Keesokan harinya, aku sendiri ke rs rujukan tadi naik motor, sementara ibuku dan beberapa anggota keluarga lain, termasuk x naik mobilnya x. Hari jum’at aku dan ibuku menunggu simbahku sampai sore. Rencananya sih setelah jum’atan akan dioperasi tetapi tidak bisa karena kondisinya semakin memburuk. Sore hari, sebenarnya aku diminta menunggu simbah tetapi ibuku mengajak pulang karena aku tidak mau makan selama seharian, entah bakso, rawon, sop buntut, iga bakar tidak mampu menggodaku. Jika dipikir lagi  hal ini wajar karena jika ada tindakan medis seharusnya yang dimintai tanggapan adalah anak-anaknya dan anehnya semua anaknya sore itu pulang, hanya mantu kesayangannya saja yang menunggu simbah. Hari itu aku benar-benar capek dan tidak doyan makan, pulang makan sholat lalu tidur. Pagi inilah aku mendapatkan berita tadi.  Bahkan mantunya simbah juga pulang untuk ronda dan tidak kembali lagi. Seingatku si y dan s yang menunggui simbahku sampai tadi pagi. Jadi si y dan s lah yang menjadi saksi kematian kakekku.

Ya, seperti yang sudah kuduga, cucu kesayangannya si ag langsung menangis mendengar berita ini, aku sendiri merasa sedih tapi tidak terlalu  mengingat jauhnya hubungan kami dan tiba-tiba saja aku jadi ingat kematian ayahku yang merupakan anak sulung simbahku sekitar 10 tahun lalu.

Jika ingin jujur, ayahku bukanlah anak kesayangan kakek dan nenekku, kematian bapakku merupakan kejadian yang sangat menyedihkan, menyakitkan dan memalukan bagiku yang waktu itu masih kelas 3 SMP. Itu sebabnya jauhnya hubunganku dengan kakek, nenek dan adik-adiknya bapakku sendiri, secara tidak langsung ayahku sendiri yang mengajarkan untuk sebisa mungkin tidak berurusan dengan mereka, mulai dari hal sepele hingga yang penting.  Bapakku sendiri mungkin juga tidak suka pada mereka tetapi sebagai anak tertua, kakak beliau tetap bertanggung jawab, mengalah , tidak pernah merasa iri hati, sabar, mandiri dan tidak suka ribut. 13 tahun lalu, kakekku juga sakit keras, waktu itu bapakkulah yang paling serius untuk mencari obat, bahkan setelah secara medis dinyatakan sulit untuk sembuh beliau mencari pengobatan alternatif agar kakekku bisa sembuh. Belum lagi menggantikan pekerjaannya, mengurus sawah, sapi. Baktinya pada orang tua berakhir ketika beliau kritis selama dua hari dan selama itu juga nenekku tidak pernah menjenguk, terlalu!

Tiba-tiba saja adikku datang dan menggandeng tanganku sambil menangis katanya kita dijelek-jelekan dan dipersalahkan karena tidak mau menunggu sampai malam, tumben adikku sampai menangis. Sudahlah biarkan saja omongan-omongan seperti itu . Memangnya  jika aku yang menunggu lantas malaikat izroil tidak jadi mencabut nyawa?? bukankah seharusnya anak-anaknya yang lebih bertanggung jawab?? jika saja aku yang menunggu, maka tentu saja aku akan semakin dipersalahkan karena kakekku meninggal, itulah yang aku pertimbangkan ketika aku pulang sore itu, lagi pula cucu-cucu, mantu-mantu kesayangan malah pulang semua tetapi tidak dipersalahkan bahkan mantunya ada yang sama sekali tidak menengok, geezz!). Perlu diketahui nenekku sendiri tidak menunggu simbah sama sekali, katanya tidak boleh oleh x. Hubungan kakek nenekku juga tidak akur, entah apa sebabnya. Sebagai istri dan sudah berkeluarga selama puluhan tahun(mungkin lebih dari 50 tahun) seharusnya dia sadar bahwa mungkin saja hal ini akan terjadi. Aku sama sekali tidak menggubris semua omongan mereka pada hari ini, semua tidak kuhiraukan dan bahkan terkadang emosiku juga tersulut tetapi kucoba untuk diam dan tidak marah. Aku tidak pernah merasa rendah diri pada mereka meski aku tidak kaya karena bapakku dari dulu tidak pernah menekankan kekayaan, melainkan ilmu. Bapakku dan y sendiri juga tidak akur, tidak pernah ngomong-ngomong (bahasa jawanya jothakan). Hari inipun aku tidak menangis tetapi aku mengingat-ingat sedikitnya kenanganku dengan simbah dan ternyata ada beberapa dari itu tidak ingin kuingat-ingat kembali! Ya karena itulah aku mengatakan sedikit atau mungkin tidak ada kenangan manis dengan seseorang berstatus kakek dan entah kenapa aku jadi ingat ketika keluarga kami dalam masa-masa kesusahan, kakek tak mau menolong sementara ada tetangga yang mengalami kesusahan dia dengan murah menolong. Semua masih kuingat dengan jelas. Akhirnya simbahku dimasukkan satu liang lahat dengan bapakku dan absurd ketika aku baru sadar di berita lelayu nama bapakku tidak dicantumkan sebagai anak tertua dari simbahku. Sudahlah, bukan hal yang besar.

Mungkin apa yang aku rasakan ini tidak normal, tapi memang ini yang kurasakan hari ini, kesal pada mereka yang berkata jelek pada keluargaku. Hal yang masih kukhawatirkan adalah apa yang akan terjadi setelah ini, semoga bukan hal yang buruk. Semua orang pasti akan meninggal, begitu juga dengan mereka, diriku dan kalian semua. Aku hanya berpikir jika saja bapakku masih hidup saat ini, mungkin saja beliau akan setuju dengan apa yang dikatakan oleh dokter rs pr tetapi ya sudahlah ini merupakan takdir dari Allah subhanahu wa ta’ala yang harus kita terima. Mengenai ucapan miring hal itu sudah biasa, biasalah memutar balikkan fakta dari dulu selalu begitu, maka dari itu, aku skeptis saja. Skeptis adalah sikap ilmuwan, tidak asal percaya. Siapa yang menanam maka dialah yang akan menuai, jangan terlalu menghiraukan ucapan orang lain dan jangan pernah mengikuti rasa marah. Tidak akan terlibat dalam tindak pidana adalah syarat untuk mendapatkan beasiswa, aku tidak mau beasiswa ini lepas hanya karena terpengaruh ucapan-ucapan orang lain. Apa untungnya meladeni ucapan mereka, apakah aku untung? apakah aku kehilangan uang? tidak! biarkan saja hingga kematian itu sendiri yang akan menghentikan mereka.

# note yang kudapat dari facebook muslim.or.id

#Tips-tips agar hati selalu nyaman terhadap orang lain#

1. Senantiasa berbaik sangka terhadap orang lain

Berkata Umar ibnul khattab,”Tidaklah engkau mendapati apapun dari saudaramu yg cenderung ke hal negatif kecuali sll engkau arahkan ke hal positif”

2. Jaga lisan, banyak diam di rumah & lebih menyibukkan aib sendiri

3. Selalu berdoa,
“Allahummak finiihim bima syi’ta”

“Ya Allah, lindungilah aku dari mereka menurut apa yang Engkau kehendaki.”

4. Jangan terlalu menghiraukan perkataan orang lain

Berkata imam Syafi’i,”Barangsiapa yang mengira akan terbebas dari kata-kata orang lain, maka ia akan menjadi gila. Allah saja yg Maha sempurna, dikatakan, salah satu dari yg tiga. Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yg merupakan manusia yg paling sempurna akhlaknya, dibilang tukang sihir & orang gila. Maka, masih adakah orang yg bisa selamat dr mulut manusia setelah Allah & rasul-Nya?”

Semoga bermanfaat!

Ditulis oleh Ustadz Jazuli, Lc

# Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah,lalu ia mengucapkan istirja’ ( innalillahi wa inna ilaihi rajiun) dan kemudian mengucapkan : “Ya Allah limpahkanlah pahala kepadaku atas kesabaranku menerima musibah ini, dan gantikanlah aku dengan yang lebih baik dari musibah yang menimpaku ini.”
Niscaya Allah gantikan dengan yang lebih baik darinya.

#hadist shahih dari ummu salamah radhiyallahu anha ketika abu salamah radhiyallahu anhu meninggal.

#dari komentar teman -> Ojo dadi pikiran brader, Manusia kan salah satu bentuk energy, ngga pnh bs punah, cm berubah n berpindah ke lain dimensi. Masalah salah dipersalahkan, ora usah dipikir, nek waras kan ora melu tuding menuding, cz yo ra bakal gawe balik,, sik penting saiki guyub bareng, n ndang d rampungke kwajibane dadi anak puthu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s