antara aku, kau dan dia part 31 My beloved city

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Lama juga tidak mengupdate blog ini, kali ini aku ingin membahas sedikit tentang kota tempatku tinggal dari sisi sosial, meski aku sendiri bukan sosiolog. Pada waktu masih kelas 1 SMA dulu, aku termasuk anak yang tidak berminat dengan pelajaran sosiologi karena membosankan. Setiap kali pelajaran itu dimulai, aku hanya mengamati pohon mangga di samping jendela kelasku (maklum kelasku di lantai atas) tetapi ketika kuliah aku malah mengambil jurusan yang ternyata berbau “sosiologi”. Hanya saja, “sosiologi” di MIPA itu relatif mudah dipelajari karena objek yang dipelajari selalu taat pada hukum yang telah digariskan, berbeda dengan manusia yang kadang tidak taat hukum.

Hampir 9 tahun telah berlalu dari pertama kali aku mendapatkan pelajaran sosiologi itu dan ternyata memang ada benarnya juga apa yang dikatakan guruku waktu itu. Hal yang paling kuingat dari perkataan guruku ketika itu adalah masyarakat itu lebih cenderung bersifat reaktif daripada proaktif, maksudnya ketika ada sebuah kejadian maka akan lebih banyak yang berkomentar begini dan begitu daripada bagaimana caranya agar kejadian tersebut tidak terjadi atau terselesaikan dan kemudian guruku itu juga pernah mengatakan bahwa negara kita ini menjadi begini karena lebih suka belajar ilmu alam daripada ilmu sosial hahaha (bener juga ya). Contoh sederhanya kita mungkin tidak sadar bahwa polisi tidur itu merupakan alat pengendali perilaku sosial secara represif dan preventif.

Jika kita perhatikan maka benar juga bahwa masyarakat itu cenderung bersifat reaktif dan selalu saja “terlambat”, misalnya begini ketika masih hangat gonjang-ganjing bawang merah dan putih mahal, coba lihat pasti banyak yang berkomentar karena begini dan begini atau karena begitu dan begitu. Mengapa saja kita tidak mengantisipasinya dengan dari dulu meningkatkan produksi bawang dalam negeri? Barulah ketika kejadian itu terjadi semua saling bicara, saling menyalahkan. Aku juga masih ingat ketika tahun lalu musibah pesawat jatuh, tiba-tiba semua saling berkomentar dan mengaku menjadi pakar penerbangan, pakar ini, pakar itu bahkan di group facebook yang tidak ada kaitannya dengan ilmu penerbangan pun juga ikut-ikutan membahas. Yang terakhir ketika ada kasus yang terjadi di kota ini, lagi-lagi semua saling berkomentar, entah itu pejabat, polisi, komisi ini, komisi itu dan semua berbicara mengomentari kejadian yang sudah terjadi, tanpa mencari sebab apa sih akar masalah dari kejadian itu. Kebanyakan komentar yang diberikan pun tidak bersifat objektif (melihat kejadian yang sebenarnya secara lengkap kemudian menganalisis apa yang sebenarnya terjadi dan baru memberi kesimpulan) tetapi hanya melihat dari satu sisi saja, misalnya dari sisi si korban kejadian atau dari sisi minoritas (inilah yang sering keluar dari para komentator itu dan kebanyakan surat kabar, maka dari itu aku malas menonton tv dan membaca surat kabar). Rata-rata yang dibahas di media elektronik dan cetak adalah efek setelah kejadian, siapa pelakunya, apa yang harus kita lakukan setelah ini dan terkadang hiperbolis juga seperti negara dalam bahaya, sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan mengapa ini bisa terjadi, apa yang harus dilakukan agar ini tidak terjadi kembali dan semacamnya.

Bila kita mengamati bagaimana kehidupan sosial masyarakat kita ternyata ada yang berubah, masyarakat cenderung menerima dengan permisif apa yang mereka anggap sebagai trend, misalnya hot pants. Ketika aku masih kecil dulu rasanya tidak ada wanita desa yang keluar memakai celana pendek tapi sekarang? Bisa dilihat sendiri, tidak di kota atau di desa ada wanita yang berani keluar dengan memakai celana pendek. Apalagi jika dikaitkan dengan sifat-sifat yang konon katanya arif, tenggang rasa dll. ternyata sudah banyak yang hilang, lihat saja pada jam-jam masuk kantor atau sekolah semua takut telat sehingga saling salip, saling melanggar lampu merah. Perlu kesadaran bahwa jalanan itu berbeda dengan arena balapan Moto GP. Di jalanan semua memiliki hak yang sama karena sama-sama membayar pajak dan sudah sepantasnya di jalanan itu kita saling menghargai orang lain. Arena balapan itu merupakan jalanan yang khusus untuk balapan, mengasah skill pembalap dan teknologi motor. Coba tengok Moto GP, para pembalap itu memakai safety gear dan tidak asal nyalip, berbeda dengan jalan raya. Belum lagi pengguna knalpot berisik (aku tidak tahu mereka mengalami gangguan pendengaran atau gangguan kesadaran karena kalau mereka sadar pastilah mereka tidak akan memakai knalpot yang berisik itu, artinya mereka tidak sadar ketika memakai knalpot berisik,, wallau a’lam). Aku pikir di kota lain pun sama.

Hal lain yang masih kuingat dari pelajaran sosiologi adalah tentang citra dan gelar, misalnya ada yang diberi gelar karena keahlian, Racun Barat misalnya, karena studi (jelaslah), afiliasinya dengan orang atau lembaga tertentu atau karena keturunan para raja. Bicara tentang citra dan gelar pastilah ada ingin dipertahankan terus, misalnya negara agraris? Apa masih layak gelar ini disandang sementara hampir semua bahan makanan yang kita konsumsi hasil impor? Dan juga alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan atau tempat lain juga sangat tinggi, sementara di sisi lain para petani kita “dijajah” baik secara ideologi (maksudnya jika kita masuk ke kelompok tani maka kita harus patuh pada apa ingin kelompok tani itu tanam, misalnya tahun ini kelompok tani menanam padi jenis ini, maka kita wajib menanamnya) atau dari segi teknis (sulit mendapatkan pupuk, hama dll). Petani adalah pekerjaan yang berat, butuh mental dan fisik yang kuat, maka dari itu sulit untuk meregenerasi petani muda, kecuali kalau tidak sangat terpaksa mana ada anak muda yang ingin kembali ke sawah. Kembali lagi ke bahasan sosial di kota ini, kota ini menyandang citra sebagai kota pendidikan, budaya dan semacamnya padahal jika kita lihat kembali fakta di lapangan ternyata secara sosial citra tersebut kurang tercermin atau bisa dibilang tingkat pendidikan tidak tercermin pada sebagian orang-orang yang ada di kota ini. Itu dari fakta sosial, belum lagi dari segi tata kota, misalnya antara fasilitas pendidikan dan hiburan ternyata jauh lebih banyak fasilitas hiburan. Masih jelas di pikiranku sampul majalah kampus yang kubaca ketika KKN dulu. Kampus paling tua di negara ini ternyata dikelilingi dengan aneka pusat hiburan. Jika ada waktu coba berkeliling kampus, belum lagi 100 meter keluar kampus kita sudah disuguhi aneka macam hiburan. Belum lagi jika kita berhenti di landmark kota ini dan melihat ke arah utara dan selatan maka yang ada hanyalah baliho-baliho iklan. Bahkan aku pernah melihat sendiri, mungkin awal bulan Maret kemarin di dua perempatan, satu di kota ini dan yang satu di ring road ada baliho besar yang isinya wanita-wanita muda yang memakai hot pants (salah satu diantaranya sudah diganti dan yang terbaru cobalah main ke rel kereta api, akan ditemukan hal yang sama juga), tentu ini berseberangan dengan budaya asli kota ini yang menjunjung tinggi kesopanan dalam berpakaian dan budaya kita sebagai orang timur. Coba kita lihat kembali vandalisme yang ada di kota ini, ada beberapa di antaranya yang merupakan “kelompok pelajar”. Sudah mafhum, jika satu “kelompok pelajar” akan bergesekan dengan “kelompok pelajar” yang lain. Dalam hal yang paling sederhana coba tengok kembali cara-cara mereka yang berseragam naik kendaraan dan silahkan memberi komentar sendiri, apa yang tercermin dari sikap mereka? Sangat aneh menurutku para siswa mogok belajar hanya karena mereka diminta memakai spion standar. Hal ini akan menjadi panjang dan rumit jika dikaitkan dengan pendidikan. Sudah sepantasnya jika orang-orang yang digaji di bidang pendidikan untuk bangun agar pendidikan lebih banyak menghasilkan produk daripada sisa reaksi (pengotor). Kalau tidak bisa ya, untuk apa mereka digaji.

Satu sisi sosial yang sangat menarik di kota ini adalah penghormatan tinggi kepada pemimpin apalagi jika pemimpin itu dari kalangan kesultanan, rasanya aku belum pernah melihat ada demonstrasi di depan kantor kesultanan. Kebanyakan demonstrasi dilakukan di perempatan jalan titik 0 km. Yang menariknya lagi kalaupun ada demonstrasi di depan kantor gubernur pasti sopan dan tidak anarkis, pendemo cenderung duduk dan mendengarkan orasi. Bisa dibandingkan dengan demo yang ada di ibukota, kebanyakan berakhir dengan rusuh. Penghormatan dan taat pada pemimpin inilah yang menyebabkan tidak adanya pilgub di kota ini. Jika kita cermati maka rata-rata yang menjadi pemimpin di daerah ini adalah yang memiliki tingkat penghormatan paling tinggi, misalnya sultan, raja atau jika dilingkup RT/RW adalah orang yang paling kaya atau yang memiliki pengaruh paling besar. Bahkan pak RT membuat kesalahan, tidak ada yang berani menegur karena pakewuh. Jika kita ingin membicarakan bagaimana lingkup nasional, lihat terlebih dahulu lingkup RT, bagaimana Pak RT/RW memimpin kampung karena pemimpin itu cerminan rakyatnya.

Rata-rata pengamat menjadikan efek ekonomi sebagai penyebab pengaruh perubahan sosial di masyarakat. Orang lebih mudah berbuat kejahatan karena pengaruh ekonomi. Kesimpulan ini bisa jadi benar jika kita melihat kejahatan yang dilakukan orang-orang kecil, seperti mencuri, merampok, dll tetapi akan salah jika kita melihat bagaimana seorang koruptor yang sebenarnya sudah kaya raya tetapi masih juga korupsi. Aku pikir hanya karena faktor ekonomi saja ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan sosial misalnya kepuasan, orang belum bisa dikatakan kaya ketika belum memiliki mobil. Oleh karena itu, rata-rata orang yang berpenghasilan tinggi pasti memiliki mobil, meski ketika digunakan mobil itu hanya diisi oleh pengemudi sendiri saja. Faktor lain yang menyebabkan perubahan adalah sikap meniru, misalnya begini ketika kita berada di lingkungan yang pelosok maka secara naluri kita akan meniru sikap-sikap orang yang tinggal di daerah yang lebih maju agar tidak dikatakan tertinggal, misalnya dari segi berpakaian, cara bersikap dll. Hal ini tentu saja sangat dibantu dengan keberadaan televisi melalui sh*netron-sh*netron dan film-filmnya. Lama kelamaan hal ini akan menggerus bagaimana budaya arif yang diwariskan secara turun temurun. Jika kita berbicara dengan lingkup yang lebih kecil lagi perubahan sosial ini dikarenakan adanya perubahan di keluarga di mana interaksi antara orang tua dengan anak menjadi minim karena kesibukan orang tua (bapak ibu). Hal yang sangat menarik adalah sekitar tiga minggu yang lalu sebelum subuh aku melihat seorang pemuda tidur di pinggir jalan padahal dia bukan orang gila karena ada sepeda motor yang masih baru di dekatnya. Berawal dari faktor keluarga inilah maka kemudian akan mempengaruhi ke lingkungan yang lebih besar lagi.

Di dunia ini tidak ada tempat yang sempurna, begitu juga dengan kota ini yang dengan segala kedamaian di dalamnya pasti ada tempat yang tidak aman terutama jika daerah tersebut memiliki komponen penyusun yang sangat kompleks atau memang dikenal tidak bisa memberi rasa aman. Nah, penyebab tidak bisa memberi rasa aman ini bisa jadi karena di bawah pengaruh minuman keras sehingga layak jika tempat di mana minuman keras itu dijual secara legal harus ditutup (dengan konsekuensi tidak bisa lagi mendapatkan pajak). Inilah yang menjadi tugas penegak hukum agar mewujudkan keamanan dan ketertiban secara nyata.

Akhirnya aku sadar mengapa di cerita silat itu pendekar yang dulu melegenda akhirnya pergi ke tempat yang sepi dan meninggalkan hiruk pikuk dunia persilatan karena mereka ingin mendapatkan harmoni yang lebih baik dengan tatanan sosial yang lebih sederhana karena dalam tatanan sosial yang sederhana itulah ditemukan rasa, aman, tenteram, damai dan tidak terlalu berpikir ingin mendapatkan sesuatu. Hal ini tentu mustahil diperoleh di kota besar dengan segala kompleksitas penyusun tatanan sosial di dalamnya, baik itu di rumah mewah atau di rumah yang sederhana.

#Mari ciptakan kota yang berhati nyaman, sembada, projotamansari, mbinangun dan handayani

# Ma’af bila ada kata yang salah, ini semua cuma keprihatinanku saja🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s