antara aku, kau dan dia part 28 turun gunung, kembali ke dunia persilatan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Turun gunung, itulah dua kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian pada hari ini. Setelah sekian lama aku berlatih di gunung akhirnya aku kembali lagi ke dunia persilatan, meninggalkan dunia di mana kebaikan dan kejahatan saling bertarung di sisi lain dan di bagian sempit dunia persilatan juga sesama pendekar juga harus saling bertarung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Beberapa malam lalu bulan baru sudah muncul, pertanda masaku untuk latihan yang kujalani selama beberapa bulan telah selesai.

Pergi meninggalkan dunia persilatan untuk berlatih, merenung dan merumuskan langkah selanjutnya adalah cara terbaik, setidaknya menurutku untuk menenangkan pikiran dan mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Kuasa. Dalam kesunyian gunung aku mengasah kembali pusaka-pusaka dan jurus-jurus yang kuperoleh dulu sembari mencari pusaka, kitab jurus dan menemukan aji-ajian yang mungkin tidak diketahui oleh orang-orang di perguruan lamaku. Sesekali aku menjadi buruh tani di perkampungan dekat tempatku berlatih hanya sekedar untuk mendapatkan beberapa kilo gabah untuk kuolah menjadi nasi, terkadang juga membantu petani bayam untuk menjualkan bayam-bayam mereka, di lain hari aku menjadi pengantar nasi menggunakan kuda putihku. Orang-orang di perkampungan itu terkadang bertanya apa sebenarnya tujuanku dan hendak ke mana aku ini? Dan jawabanku selalu sama, menjadi maha guru.

Maha guru adalah profesi yang paling mulia, selain guru tentu saja. Maha guru memiliki beberapa akses ke guild dan penguasa negara. Meski demikian, tugas utama maha guru adalah mengabdi untuk pengembangan rakyat jelata, menemukan ajian baru dan mencetak pendekar-pendekar baru tentu saja. Beberapa teman seperguruanku dulu kini telah mendapatkan padepokan baru untuk menjadi maha guru. Ada yang pergi ke negeri timur, ke barat, menyeberang ke negeri seberang dan ada yang tetap bertahan di perguruan sembari berlatih, tentu saja dengan level yang lebih tinggi, jurus-jurus yang lebih ampuh dan pengakuan dari negara. Ada juga yang bergabung dengan guild (serikat) untuk mendapatkan misi, yah mereka dibayar berdasarkan kesuksesan misi yang mereka jalankan. Dunia persilatan sekarang berbeda dengan jaman Kwee Ceng, Oe Yong, Yo Ko, Wiro Sableng, Si Buta dari Gua Hantu, Wong Fei Hong, Fong Sai Yuk, bahkan terlalu berbeda. Di masa mereka hanya sedikit orang yang menekuni dunia persilatan sehingga ada “penguasa” dari masing-masing daerah, Racun Barat misalnya. Sekarang di mana-mana terdapat padepokan dan perguruan yang satu sama lain mengajarkan hal yang sama sehingga hampir jurus semua pendekar nyaris sama!. Hal inilah yang membuat persaingan antar sesama pendekar menjadi sangat ketat dan tentu saja, guild hanya membutuhkan segelintir dari mereka saja. Para pendekar yang gagal bersaing akhirnya memilih menjadi rakyat biasa, membuka lapak-lapak mereka sendiri atau mencari-cari guild yang membutuhkan jasa mereka walaupun itu tidak sesuai dengan ilmu yang mereka pelajari. Terkadang aku jadi ingin tertawa manakala melihat para pendekar lainnya saling bertarung di pertemuan antar guild, mereka saling bertarung dengan orang lain dan teman mereka sendiri hanya untuk diterima dan mendapatkan misi, tetap saja pemilik guild akan mendapatkan keuntungan yang besar dan tak jarang pemilik guild besar masuk sebagai dalam kategori “40 godfather guild”. Begitulah dinamika dunia persilatan sekarang, penuh liku, kawan menjadi lawan, yang tidak diterima di guild dan padepokan menjadi terlupakan.

Di masa lalu pun aku pernah juga ikut pertemuan para guild, bertarung dengan pendekar lain padahal waktu itu ada sebuah guild besar yang telah memanggilku untuk menjalani ujian masuk guild. Menyesal, tapi sudahlah. Sejak saat itu aku sadar bahwa masih ada jurus-jurus yang harus kupelajari, menemukan hal baru dan orisinil. Kuputuskan untuk “pensiun pertama” dan pergi ke gunung. Beruntung burung merpati masih sering lalu lalang membawa kabar berita dari dunia persilatan, burung prenjak masih mau berkicau pertanda masih ada yang mencariku, meski bukan orang guild.

Di gunung inilah aku menemukan pertapa yang ternyata juga menjauhi dunia persilatan dan membangun sebuah tempat yang menjadi ajang mencari pengakuan bagi para pendekar. Tempat semacam ini dulu juga pernah kutemui di kota dan aku gagal mendapatkan pengakuan karena persiapanku yang minim. Kegagalan tidak boleh terjadi dua kali, aku berlatih sendiri sebelum mengikuti turnamen pengakuan, maklum si pertapa tadi mematok harga yang tinggi untuk berlatih di sana. Akhirnya malam turnamen pun tiba, dengan tenang aku masuk ke tempat itu dan wow, ternyata banyak juga ya yang ingin mendapatkan pengakuan dari pertapa. Rata-rata mereka berasal dari padepokan dan perguruan, mereka butuh pengakuan untuk mendapatkan padepokan dan perguruan yang lebih baik dan pergi menjelajahi dunia persilatan. Singkat cerita kali ini aku berhasil mendapatkan pengakuan dari pertapa tersebut, pikiran untuk kembali ke dunia persilatan mulai berhembus, bekalku kurasa sudah cukup. Kembali ke dunia persilatan membutuhkan mental yang kuat karena bisa jadi kita kagok dengan situasi terkini dunia persilatan.

Hujan deras membasahi Bumi Keraton saat aku kembali lagi ke dunia persilatan. Kuda putihku kupacu dengan hati-hati agar tidak jatuh, dialah temanku yang paling setia dan paling berharga. Kondisi tubuhku masih belum fit gara-gara perjalanan dari gunung ke kota. Akhirnya aku kembali lagi ke kota dan perguruan ini tanpa menyapa siapapun karena orang-orang di sini sudah banyak yang berubah, aku juga tidak bertemu dengan teman-temanku ketika masih berlatih di sini dulu, mungkin mereka sedang latihan. Meski dari segi tempat tidak banyak yang berubah dari perguruan nomor satu di negara ini. Negara? Negara ini sedang dikerubuti partai-partai yang ingin menjadi penguasa negara hingga harus dibentuk panitia untuk mengatur partai dan pemilihan penguasa. Oleh karena itulah, penguasa dan petinggi negara ini lebih sering membahas partai daripada negara dan rakyatnya. Berita-berita yang dibawa oleh burung-burung merpati pun sebagian besar hanya membahas partai, begitulah partai di dunia persilatan dari dulu saling berebut untuk menjadi penguasa. Di tengah rintik hujan dan awan mendung aku berjalan menuju tempatku menghabiskan masa-masa terakhir di sini. Seperti biasa, tempat itu sepi, hanya pusaka-pusaka yang ada di sana. “Eh, neax, akhirnya keluar juga kamu!” Sapa penjaga tempat ini. “Hehe, iya pak, baru turun gunung”. Tentu saja, penjaga itu tahu kalau aku belum mendapatkan misi dari guild manapun.

Aku datang ke sini untuk mencari teman lamaku saja. Beberapa tahun lalu dia kembali dari daerah selatan, sebentar lagi dia mungkin akan menyeberang ke negeri utara bersalju untuk berlatih pada salah satu maha guru terbaik yang ada di dunia ini dan katanya di daerah selatan banyak padepokan dan perguruan yang bagus dan kehidupan yang lebih baik. Negeri itu jauh, harus melewati lautan luas dan banyak orang yang ingin ke sana tapi hanya sedikit yang berhasil. Untungnya, salah satu pusaka dan ajian yang ada di sana juga telah kupelajari sendiri. Aku tidak ingin terpaku dengan satu pusaka saja, masih banyak pusaka lain yang bisa digunakan dan dipelajari. Pusaka yang digunakan di sini sudah sering kugunakan dan mungkin sudah ada di luar kepalaku. Hari ini dia memberiku surat wasiat dan penggalan catatan jalan yang harus kutempuh untuk menuju negeri selatan, meski banyak juga negeri yang lain memberikan pengharapan untuk kehidupan yang lebih baik. Yah, meski demikian aku harus tetap berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan harus mengalahkan banyak pendekar dari utara, barat dan timur yang juga berlomba untuk mencapai negeri selatan.

Cuma sebentar saja aku berada di tempat ini, tak enak juga rasanya terlalu lama di sini karena sudah bukan lagi masaku untuk di sini, giliran pendekar-pendekar lain dan anak-anak muda lain untuk berlatih di sini, aku sudah terlalu tua rasanya, uhuk uhuk. Menjelang keluar dari tempat latihan ini, penjaga memberiku sebuah “hadiah”, pusaka yang dulu kugunakan dan kini telah lama hilang. Tak kusangka juga aku akan melihat bekas maha guru-ku sedang berada di ruangannya, kabar terakhir yang kudengar beliau kini menjabat sebagai kepala pembuatan dan pencatatan kitabdi perguruan ini. Ah, cerita lama dengan beliau tak perlu kuceritakan di sini karena akan memakan waktu lama dan saat ini pun bertemu dengan beliau aku rasa kurang bermanfa’at, lain waktu saja.

Turun gunung berarti siap kembali memulai pertarungan di dunia persilatan, aku tidak mungkin melupakan jasa-jasa orang kampung di gunung yang telah memberiku sedikit makanan untuk bertahan hidup. Waktu akan terus berputar, tak selamanya kita harus berada di gunung, terkadang kita perlu mengukur sejauh mana kemampuan kita dengan pendekar lain, meski tidak di perguruan atau guild. Tubuhku masih belum pulih benar, besok sajalah aku baca surat wasiat itu, jalan menjadi maha guru!
(Bersambung..)

#lagi belajar membuat cerita silat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s