antara aku, kau dan dia part 25 my high school memory, cross country

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Pagi ini baca tweet teman jaman SMA dulu yang kesusahan menghilangkan perut buncit, padahal waktu itu kami (yah kebanyakan siswa laki-laki) termasuk berbadan atletis lho hahaha. Rahasianya karena memang guru pelajaran olahraga kami itu sangat serius kalo mengajar, jadi jangan harap bisa main-main pas pelajaran olahraga.

Pelajaran olahraga menjadi hantu yang menakutkan bagiku, selain qur’an-hadist (pas kelas XI SMA), gimana tidak guru yang galak, semi militer, serius, punya standar tinggi. Melihatnya saja aku sudah pusing haha. Hmm, kali ini aku ingin cerita sedikit tentang jaman SMA.

Waktu itu aku masuk ke sekolah yang tidak terkenal, kalah terkenal dengan kampus dan tempat belanja yang menjadi tetangganya. Tahun pertama okelah, masih main-main. Tetapi pas masuk kelas XI, wuhh, rasanya dilema, sengaja tidak naik kelas nanti dikeluarkan dan kalau naik kelas ketemu dua guru yang “sangar” (meski dua-duanya guru wanita, bukan pria), guru olahraga dan qur’an-hadist. Karena pelajaran olahraga lebih dulu daripada qur’an-hadist, maka aku bahas dulu pelajaran olahraga.

Guru kami namanya Bu *, meski ini sekolah berlabel agama tetapi beliau sendiri tidak memakai kerudung, cuma topi baret (gak tau sekarang gimana). Beliau terkenal keras, tegas dan tidak pandang bulu (waktu itu keponakannya juga satu kelas denganku dan dia sama-sama kerap mendapat hukuman denganku hahaha). Aku tidak bisa membayangkan 104 hari harus bertatap muka dengan guru tersebut. Ritual sekolah kami di setiap semester adalah cross country. Cross country adalah lari sepanjang 5 Km (bisa lebih), treknya milih, mau keliling kampus atau cuma jalan kota. Kalo keliling kampus diberi waktu 30 menit, kalo keliling kota cuma 20 menit maksimal. Rutenya kalo kampus yah nurut jalur bis lah dan si bu guru akan stand by di salah satu lokasi untuk mengabsen, jadi jangan harap bisa motong jalur karena pasti ketahuan dari timer si bu guru. Kalau keliling jalanan kota ya, dari sekolah ke selatan, mentok ke barat ada perempatan belok kanan, terus perempatan lagi belok kanan dan pertigaan belok kanan. Yah, semacam itulah.

Mimpi buruk (paling tidak bagiku) dimulai di minggu-minggu berikutnya. Pemanasan harus benar, harus bisa mencapai batas minimal. Maka dari itu, jika aku tidak bisa mencapai standar yah terpaksa cross country. Terutama di olahraga yang tidak kusukai seperti senam lantai dan bola voli. Paling tidak karena kami serius dalam pelajaran olahraga, badan dan stamina kami menjadi lumayan baik haha. Tak jarang juga, kalau aku lagi malas pergi ke sekolah, membuat alasan tidak masuk. Nanti aku minta ibu atau adikku mengantar surat ke sekolah. Sialnya, aku pernah sekali ketahuan membolos. Waktu itu aku tidur di tempat simbahku dan sialnya aku bangun jam 7 pagi, jadi percuma saja ke sekolah. Minggu berikutnya, bu guru menanyakan pada temanku siapa yang kemarin tidak masuk, jadi kena deh. Lari lagi men..

Di akhir masa kami sekolah, kelas XII semester I. Bu guru mogok mengajar kelas kami (sekarang siswa yang mogok belajar). Kalau dipikir-pikir itu gara-gara aku juga sih hehe. Hari Kamis guru kimia kami masuk ke kelas, minta alat-alat praktikum yang ada di kelas kami dibersihkan karena mau dipakai kelas lain. Waktu itu aku, ketua kelas dan beberapa teman lain tahu tentang hal itu dan aku sendiri juga sudah mengingatkan mereka. Keesokan harinya, bu guru kimia menagih alat-alat itu dan ternyata masih belum juga dibersihkan padahal akan dipakai di jam pertama. Mau tak mau, kami harus membersihkan alat-alat itu padahal ada aturan semua siswa wajib ikut tadarus al-qur’an sebelum pelajaran dimulai. Nah, sepulang dari kamar mandi, tiba-tiba bu guru olahraga melihatku (karena memakai seragam olahraga) dan bertanya “dari mana kamu?”. Aku menjawab “dari kamar mandi bu, membersihkan alat-alat kimia yang akan dipakai bu guru kimia”. “Sudah masuk kelas sana cepat!”. Aku segera berlari masuk kelas. Selesai tadarus, bu guru olahraga tadi masuk dan langsung menggebrak meja sambil amarah-marah dan tidak mau mengajar kelas kami (kebetulan juga materi ketika itu adalah senam lantai). Kami cuma diam saja. Ketua kelas, wakil dan beberapa teman berusaha melobi dan minta ma’af tapi akhirnya gagal. Tiga minggu pelajaran olahraga kosong + nilai ujian akhir kami tidak dinilai (cuma asal saja memberi nilainya). Menjelang terima rapor, guru kami baru bisa mema’afkan dengan catatan 3x pelajaran yang kosong harus diganti dengan cross country + 1x untuk nilai ujian akhir + 1x bagi yang ketahuan membolos. Waktu itu aku cross country jalanan kota sebanyak 3x dan 1x untuk keliling kampus (karena 1x keliling kampus = 2x jalanan kota).

Mimpi buruk pelajaran olahraga berakhir dengan ujian praktek. Inilah puncak mimpi buruk itu. Kami ujian praktek mulai dari jam 7 pagi hingga 1 siang (terutama aku dan beberapa orang teman). Bisa dibayangkan, badan kami pegal-pegal karena terlalu capek. Ujian itu diakhiri dengan keliling sekolah 3x dan aku pencatat waktu terbaik di kelas hehe (karena sudah terlalu sering cross country :D). Sialnya gara-gara senam lantai, aku harus lari cross country lagi. Itulah cross country terakhirku, kira-kira 6 tahun yang lalu.

Karena terlalu sering cross country, terkadang aku jadi malas ke sekolah dan nanti sajalah, lari saja. Bahkan, untuk urusan lari aku sering mengalahkan teman-temanku yang atlet. Aku masih ingat bagaimana menjadi yang tercepat di kelas dan nyaris ikut seleksi lomba lari.

Guru yang “sangar” berikutnya adalah guru qur’an-hadist. Yah, meski tidak seperti guru olahraga, tapi lumayan juga apalagi aku tidak mendapatkan LKS dan harus fotokopi sendiri. Memang ini sudah menjadi kewajiban bagi umat islam agar menghafal al-qur’an dan hadist. Ceritanya begini pelajaran itu ketika itu pas hari Sabtu, kami diminta untuk menghafal semua ayat, hadist, dan penjelasan yang ada di LKS. Okelah, minggu pertama temanku dipanggil, dia tidak bisa menghafal semuanya. Kontan saja, dia dimarahi oleh bu guru di depan kelas dengan habis-habisan. Minggu berikutnya giliranku, karena aku menganggap sudah masuk bab berikutnya, maka yang aku hafalkan adalah bab berikutnya. Sial, aku juga kena marah bu guru katanya siapa suruh kamu menghafal bab berikutnya, dasar pemalas begini dan begini + buku tulisku tidak kusampul hijau pula. Setiap kali guru itu mengajar kelas menjadi tenang penuh dengan ketakutan dan khawatir kalau sewaktu-waktu dipanggil. Beban kami baru terangkat jika ada mas PPL dari kampus lain datang. Huff, legaa.. Gara-gara dimarahi itulah aku jadi pengin membuktikan kepada guru qur’an-hadist itu kalo aku bisa. Minggu berikutnya, tanpa menunggu siapa yang dipanggil aku langsung maju dan membuktikan hafalanku. Alhamdulillaah, sukses. Tapi ternyata, ada orang lain dari kelas sebelah yang langsung hafal 3 bab. Wuhh… Kalau aku tidak salah ingat dia itu adalah primadona angkatan kami, masuk ke SMA ini dengan nilai tertinggi, pintar, anak pondok pesantren, lumayan cantiklah, kaya jadi wajar bila menjadi incaran teman-temanku haha (Oh God, if I had never met her, everything would have better). Berita terakhir yang kudengar dia masuk ke fakultas kedokteran di kampus swasta dan sudah co-ass tahun kemarin, mungkin saja sekarang sudah menjadi dokter.

Perilaku bu guru qur’an hadist berubah setelah lebaran, semua menjadi lebih santai dan rileks. Namun, tetap kena marah kalau tidak hafal qur’an dan hadistnya. Sayang sekali, guru itu pensiun ketika aku menginjak kelas XII dan ternyata metode guru di kelas XII berbeda dari guru itu, jadi kami tidak harus menghafalkan 1 LKS lagi, itulah sisi negatifnya. Aku juga baru tahu kalau beliau istri salah satu guru besar statistika di kampus kami.

Tidak ada sekolah yang sempurna, dengan segala kekurangan dan kesalahan yang pernah terjadi, aku tetap menghargai sekolahku dulu. Hmm, aku bukan pakar kurikulum dan pendidikan tetapi terkadang siswa perlu dipaksa agar belajar dan bisa memahami materi yang diajarkan karena kalau tidak dipaksa terkadang tidak mau belajar.

One thought on “antara aku, kau dan dia part 25 my high school memory, cross country

  1. Pingback: antara aku, kau dan dia part 45 memories in gundam’s film | Niko Prasetyo's personal blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s