antara aku, kau dan dia part 17 bimbel tuuutttt

Hahaa, akhir-akhir ini aku lagi bingung cari kerjaan dan sempat terpikir kembali untuk menjadi tentor les saja😛. Pas lagi googling gak sengaja nemu blog anak SMA (mungkin sudah lulus) yang nyaris kena tipu salah satu bimbel abal-abal di kota ini (dan mungkin dulu aku juga tipu bimbel abal-abal itu :P). akhirnya ingat lagi dengan draft tulisan yang sudah lama tersimpan ini, berikut adalah tulisannya (masih asli tanpa pengeditan sama sekali lho).

Barusan saya melihat iklan salah satu bimbel terkenal di kota ini. Setelah membaca-baca brosur tersebut rasanya ngeri juga melihat paket-paket yang ditawarkan dengan berbagai macam jaminan yang semuanya bermuara pada dua hal, lulus dengan nilai bagus (entah UN, SNMPTN atau yang lainnya) dan diterima di perguruan tinggi ternama dan sudah barang tentu biaya bimbelnya juga tidak murah. Kemudian muncul satu benak pertanyaan di pikiran saya, mengapa sih harus ke bimbel? Apakah belajar di sekolah tidak lagi mencukupi? Ataukah takut akan nilai jelek dan tidak lulus ujian? Nilai jelek dan tidak lulus ujian itu adalah implikasi dari belajar kita selama ini. Jika kita rajin belajar, maka kita akan pandai dan jika kita pandai, maka kita akan lulus ujian. Kan begitu logika yang diajarkan sejak bangku pertama sekolah dasar.

Kembali ke masalah bimbel, sejak saya SD saya sudah masuk ke dalam dunia perbimbelan atau sering yang disebut dengan les-lesan. Entah apa sebabnya bapak dan ibu saya dulu memaksa saya masuk ke salah satu les-lesan. Mungkin mereka berdua takut saya tidak lulus EBTANAS atu bagaimana entahlah. Padahal waktu itu, I’m sure I can do it. Nah, kebetulan juga di les-lesan saya itu pengajarnya juga guru SD, jadi saya rasa tidak ada bedanya dengan pelajaran di sekolah. Bahkan bukan hanya itu, di sekolah pun saya juga harus ikut les hingga sore hari😦. Tampaknya ketakutan akan nilai jelek membuat para guru terpaksa harus ngeles hingga sore.

Masuk ke SMP yang favorit membuat saya merasa tertinggal dengan teman-teman (maklumlah), meski demikian saya memiliki teman-teman yang mau mengajari bahkan memberikan contekan PR pada saya (yang terakhir ini sumpah saya sudah tobat gara-gara ketahuan dan mau diusir keluar kelas oleh pak guru). Nilai saya juga bisa dibilang tengah-tengah, bagus tidak jelek tidak, tapi akhirnya juga saya masuk bimbel. Mungkin waktu itu gara-gara yang promosi adalah orang yang ngakunya dari kampus ternama dan berbakat pelawak hingga mampu membius kami untuk masuk ke sana. Payahnya lagi, ternyata apa yang saya jalani ini tidak membuat nilai saya menjadi naik atau turun, tetap di tengah-tengah. ckckck –__–“.

Lulus dari SMP dan gagal masuk SMA favorit apalagi SMA tidak favorit kemudian hanya diterima di sekolah yang biasa-biasa saja, ternyata tidak membuat uang yang konon katanya akan dikembalikan bila gagal ternyata tidak. Dari sini saya mengambil pelajaran -> jangan terlalu percaya sama iklan, lihat tanda bintang, ada atau tidak. Selama di sekolah ini saya tidak merasa ketinggalan pelajaran bahkan terkadang buku-buku yang saya baca tidak nyambung dengan pelajaran, tapi akhirnya lagi-lagi saya masuk ke salah satu bimbel juga. hedeehh. lah kok bisa? Ceritanya begini, masuk ke kelas 3, teman-teman saya ramai-ramai “bedhol bimbel” ke salah satu bimbel tertentu, kemudian ada juga yang secara sendiri-sendiri “transmigrasi” ke bimbel yang lain, namun ada juga yang tidak masuk ke bimbel (termasuk saya pada awalnya) bahkan ada yang pulang sekolah langsung kerja hingga malam. Biasa kan ketika menginjak dewasa kita jatuh cinta dengan orang lain, ternyata gadis pujaan saya waktu SMA dulu (ah, siapa namanya ya? Lupa) masuk ke bimbel, akhirnya tanpa pikir panjang lagi saya juga ikut masuk ke bimbel dengan biaya sendiri (nabung men) dengan harapan bisa satu kelas dengan si gadis tersebut. Tapi apa daya, ternyata kami beda hari. ya sudahlah.

Dari niat awal yang salah ini ternyata membuat ke depannya juga salah, di les saya lebih sering tidur karena kecapekan dan dingin (hehe, cuma setengah jam kok), kadang malah pulang, dan cuma ikut satu jam pelajaran karena takut tidak dapat bis untuk pulang hingga akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali diktat dan kuitansi pembayaran. Ya, salah sendiri, bahkan ketika saya sudah dipastikan masuk ke kampus ini, masih juga ikut bimbel sampai SNMPTN. akhirnya saya lulus dengan nilai UN yang sama dengan teman saya yang malah kerja sepulang sekolah itu.

Oke, kembali ke pertanyaan awal. Mengapa sih harus ke bimbel? berkaca dari dua pengalaman saya waktu SD dan SMP dan saya rasa alasan ini cukup mewakili kebanyakan orang tua yang memasukkan anaknya ke bimbel adalah karena kita takut nilai jelek, tidak diterima di PTN favorit atau tidak lulus UN. Seolah-olah jika tidak lulus UN, dapat nilai jelek, tidak diterima di PTN/SMA favorit merupakan kiamat besar. Padahal setelah diterima di PTN/SMA favorit masih ada lagi ujian yang jauh lebih sulit daripada di SMA/SMP, yaitu : bagaimana agar kita bisa eksis di sana. Perlu diketahui tipe-tipe soal di PTN berbeda jauh dengan SMA/SMP yang rata-rata check point. Tipe soal check point ini sih, dengan ngitung kancing baju saja bisa, susahnya lagi dengan adanya check point, kita tidak dapat mengukur secara pasti apakah kita memang benar-benar bisa menjawab soal atau ngawur atau nyontek orang lain atau beli jawaban dan seabrek alasan lainnya, tetapi soal di PTN lebih mengarah pada analisis dan kemampuan menerjemahkan maksud soal serta lebih realistis.

Dikotomi antara sekolah/PTN favorit dengan tidak juga lah yang turut menyumbang orang tua untuk memasukkan anaknya ke bimbel. Sudah mafhum, bahwa image sekolah/PTN favorit adalah sekolah-sekolah yang diisi oleh siswa-siswi cerdas, fasilitas lengkap dan sebaliknya sekolah/PTN tidak favorit diisi oleh siswa yang biasa saja, cenderung nakal dan fasilitas seadanya. iya ga? Inilah salah satu ketimpangan pendidikan di negara kita. Bisa dilihat ketika musim PSB tiba, sekolah favorit pasti banjir siswa. Belum lagi jika musim ujian masuk PTN tiba, jurusan favorit di satu kampus pasti akan kebanjiran calon mahasiswa.

Pendidikan yang baik adalah dengan melihat proses pembelajaran, tidak sekadar menghasilkan lulusan dengan menggunakan berbagai macam cara. Setiap orang memiliki kecerdasan tersendiri dan tugas pendidik adalah bagaimana caranya agar kecerdasannya itu teroptimalkan, mungkin saja di bidang sains, ada yang tidak cerdas namun di bidang sosial justru lebih cerdas begitu juga sebaliknya. Terlebih lagi pendidikan adalah untuk menghilangkan kebodohan yang ada dalam diri kita dan tahu mana yang benar dan mana yang salah, bukan sekedar mengerjakan soal. Bisa dilihat bagaimana gambaran pendidikan negara kita dengan cerminan tindak tanduk para pelajarnya.

Satu hal yang kurang saya sukai adalah dengan adanya rumus-rumus cepat bin ajaib. Adanya cara-cara semacam itu justru adalah “pembodohan” pada orang lain. Bagaimana tidak? seharusnya orang lain diajarkan bagaimana logika dari suatu materi sehingga dia benar-benar paham akan apa yang dipelajarinya. Sepengalaman saya di kampus, rumus-rumus cepat yang banyak beredar ketika masih duduk di bangku SMA, sama sekali tidak bisa digunakan ketika ujian mid atau ujian akhir? Kok bisa? Jawabannya sederhana, karena soal ujian mid atau ujian akhir adalah essay, bukan check point.

Adanya rumus-rumus cepat itu disebabkan karena “tugas” bimbel adalah mengantarkan siswa lulus UN/SNMPTN. Hal ini bisa dilihat dari brosur-brosur iklan bimbel. Selain itu, ketidakpuasan atas pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru di sekolah membuat siswa menjadikan rumus-rumus cepat sebagai tempat pelarian.

Lalu apakah yang harus dilakukan oleh siswa? (karena saya pernah menjadi siswa dan belum menjadi guru atau orang tua). Tidak ikut bimbel? Jawabannya ikut atau tidaknya bimbel itu terserah kalian, tapi satu hal yang bisa saya sarankan untuk dilakukan adalah jika tidak paham, bertanyalah (orang yang bertanya akan terlihat bodoh selama 5 menit, tapi orang yang tidak mau bertanya akan terlihat bodoh untuk selamanya), kemudian coba pahami apa maksud dari yang diajarkan guru-guru kalian. Dengan demikian, pelajaran di sekolah akan lebih mudah dipahamidan diresapi (halah).

Hmm, entah mengapa juga materi yang diajarkan di sekolah sangat banyak, misalnya saja di pelajaran ilmu Kimia, hampir semua materi yang diajarkan di sekolah akan diulangi dan diperdalam lagi di bangku kuliah. Mungkin hanya beberapa saja hal yang memang baru di bangku kuliah. Lebih gila lagi, matematika terutama integral, materi integral ini diulangi lagi sama persis di mata kuliah kalkulus. Bahkan saya sempat mengulangi mata kuliah ini. Bisa dibayangkan, materi yang di bangku perkuliahan diajarkan di tingkat SMA. Mengapa tidak dikurangi saja materinya, kemudian diajarkan bagaimana penerapannya? Inilah fenomena pendidikan di negara kita. Berbicara tentang bimbel, tidak hanya mencakup satu permasalahan, tetapi melibatkan banyak aspek dalam pendidikan dan mungkin tulisan ini masih belum bisa membahas secara komprehensif tentang pendidikan.

Wallahu a’lam.

# aku juga sudah lupa kapan nulis ini, tapi akhirnya tak posting juga hehe

 

 

 

2 thoughts on “antara aku, kau dan dia part 17 bimbel tuuutttt

    • seharusnya sih di sekolah saja cukup cz materinya juga sama hanya beda penyampaian dan ingat cara2 cepat bin kilat itu gak akan berguna di kampus karena soal2 di kampus adalah esai bukan pilihan ganda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s