antara aku, kau dan dia part 16 sun, litle bit of anticlimax story

Beberapa hari ini aku membongkar kembali isi lemariku. Ternyata sebagian besar file-file kuliahku dulu masih ada. Semua kulihat satu per satu, ada tulisan di salah satu materi kuliah “Insya Allah sampai lulus tetap menjadi mahasiswa kimia” hehe hingga tanganku berhenti pada sebuah kumpulan file yang masih kuingat dengan jelas apa itu, presentasi pertamaku bersamanya, sun. Tak terasa ingatanku melayang ke dua tahun yang lalu di mana kami semua baru saja selesai KKN, erupsi Gunung Merapi, Piala AFF hingga pergantian tahun baru.

“Ibarat mencintai matahari, hanya mampu merasakan sinarnya tanpa mampu memandangnya apalagi menggapainya”

Sebenarnya orang itu adalah orang yang baik bahkan aku pernah menganggapnya sebagai “manusia langit”, kaya, cantik, pintar, pandai bergaul dll. Namun aku sendiri tidak terlalu menggubris dia, bahkan sangat jarang kami bercakap-cakap. Mungkin karena ketika itu aku lebih sibuk di kuliah (halah), ke perpus (cari majalah dan koran gratisan), ngenet (SIC broo, gratis tis tis hehe) sehingga interaksi antara kami bisa dihitung dengan jari, salah satunya ya presentasi pertama kami yang pertama itu. Namun siapa sangka bahwa dia akan masuk ke pikiranku sehingga membuatku sedikit stress. Stress? Ya karena aku berani memikirkan orang lain yang dari segi materi jauh di atasku. Arrghh, susah sekali menghapus dirinya dari pikiranku, sinarnya terus menerangi otakku hingga nyaris saja aku salah langkah. Apalagi dengan beberapa kalimat-kalimat ajaibnya yang membuatku semakin bingung, senang, stress, malu dll. Semuanya bercampur aduk menjadi satu terutama setelah aku diingatkan Pak Muhalal agar tidak mencari wanita yang lebih kaya dariku, carilah yang ekonominya sama denganmu. Gara-gara kata-kata ajaibnya itu juga untuk pertama kalinya dalam 22 tahun hidupku aku berani keluar mengikuti perayaan tahun baru (na’udzubillah).

“ love is not only blind, but also dumb, deaf and stupid”

Feel itu semakin menjadi-jadi setelah tahun baru, tapi aku masih ingat bahwa kuliahlah yang utama dan jangan sampai nilaiku jeblok gara-gara hal sepele ini. Hingga akhirnya aku juga ikut salah satu kuliah pilihan bersamanya padahal aku juga gak ngerti itu kuliah belajar apa, ah itu urusan belakang.

Dalam cerita fiksi tentu saja ini akan berakhir dengan happy ending, tapi ternyata dalam realita happy ending itu terkadang tidak terjadi begitu saja dan kapan saja. Semua ini ternyata berakhir dengan anti klimaks, dia lebih memilih pria lain (bukan berarti aku pernah mengutarakan apa yang tak rasakan pada dia lho). Aku bahkan melihat mereka berdua bersama seharian, inilah saat yang sulit agar emosi kita tidak terlihat dan raut wajah kita tidak berubah. Kejadian itupun sebenarnya sudah kuprediksi jauh-jauh hari karena apa yang aku rasakan tidak sesuai dengan pepatah Jawa “witing tresno jalaran saka kulino”.

“the sun goes down, I feel the light betray me”

Sejak hari itu aku lupa terhadapnya, memang sih kami masih semester itu sering ketemu gara-gara aku terlanjur mengambil kuliah pilihan bersamanya, tapi terus terang feel itu hilang begitu saja. Mungkin ada benarnya perkataan temanku “wanita itu terkadang antara lisan, hati dan perbuatan tidak pernah sama”. Meskipun demikian, dia tetap bersikap baik padaku, begitu juga denganku. Yang lalu biarlah berlalu toh itu semua adalah urusan pribadi dan jalan hidup masing-masing orang.  Aku tak ingin mengungkit-ungkit kembali cerita lama, biarlah itu menjadi masa lalu. Berita terakhir yang kudapatkan dia telah lulus dari kuliah, sementara ketika itu aku masih harus berjuang merevisi skripsiku dan terakhir kami bertemu di salah satu acara kampus, itupun cuma sebentar saja karena aku saat itu memang sedang terburu-buru.

“someone whom you reject today, will reject you tomorrow”

Meski aku masih ingat dengan orang itu dan segala kebaikannya, tapi feel itu sudah tidak ada. Entah, mungkin karena sudah kebal dengan feel itu sehingga tidak mempan lagi. Toh, nomer hapenya juga sudah lama hilang. Bisa jadi ketika pengharapan kita berakhir dengan anti klimaks maka otak kita akan menampilkan sisi “trauma”, itu lho dia yang pernah nolak kamu, ngecewakan kamu sehingga otak tidak akan memicu kita untuk mencintai orang yang pernah menolak atau mengecewakan kita.

Yak, barang tak cari sudah ketemu. File-file kuliah tadi asal aku masukkan saja ke lemari bersama secuil memori dengannya pas masih kuliah dulu.

Oke, apa yang bisa diambil dari tulisan ini? Yang namanya cinta itu tidak pernah datang tiba-tiba, dia datang karena kita membiasakannya dan terus memikirkannya. Nah, ketika semua berakhir dengan anti klimaks segala bayangan kita tentangnya akan menjadi hilang dan otak dengan sendirinya akan melupakannya.

See you again on antara aku, kau dan dia next part😀.

 

One thought on “antara aku, kau dan dia part 16 sun, litle bit of anticlimax story

  1. Pingback: antara aku kau dan dia part 46 robohnya gedung B1.02 | neax502's simple blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s