antara aku, kau dan dia part 14 end ramadhan di kampung

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Tak terasa Ramadhan sudah akan berlalu, padahal rasanya baru kemarin aku memposting tulisan tentang Ramadhan. Meski pada Ramadhan kali ini aku “dipaksa” untuk lebih aktif lagi, tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Bagaimana tidak sejak SMP aku sudah jarang bertemu dengan warga kampung sini dan juga teman-teman se-angkatanku. Terlebih lagi aku belum tahu bagaimana kondisi medan yang harus dijalani, permasalahan apa yang dihadapi panitia Ramadhan.

Hmm, sebenarnya tulisan antara aku, kau dan dia dikhususkan untuk mengambil hikmah dari hal-hal yang kutemui sehari-hari, bukan untuk mengumbar aib diri sendiri maupun orang lain. Namun demikian, dalam tulisan kali ini aku sedikit menyoroti permsalahan menahun yang dialami panitia Ramadhan di kampungku sehingga dengan demikian kalian akan tahu mengapa aku malas atau merasa terpaksa harus menjadi pucuk pimpinan panitia Ramadhan. Jika dikaitkan masalah ini, maka akan ada kaitan dengan episode 30 Juni yang tak posting setahun yang lalu lho hehe.

Entah mengapa ketika aku berinteraksi dengan orang lain sering terkadang muncul feel aneh yang menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan itu sendiri kemudian terjawab meski butuh beberapa lama atau beberapa tahun. Terus terang masalah utama yang dialami panitia Ramadhan di kampungku adalah tentang zakat. Bagaimana tidak? Di sini orang yang mampu membayar zakat juga menerima zakat fitri -__-“.

Sedikit mundur dari masalah itu, hari pertama aku tarawih (malam Sabtu), aku dan seorang senior panitia Ramadhan katakanlah X harus menyerahkan bingkisan kepada Khotib ketika itu. Maka dari itu, panitia telah menyediakan teh hangat dan kue, yah biar sedikit formal lah. Waktu itu terjadi percakapan antara aku, Khotib dan si X

Khotib    : (bertanya padaku) Ini mas siapa?
Aku    : NeaX pak.
Khotib    : Mas NeaX sudah bekerja atau masih kuliah?
Aku    : Masih kuliah pak, di Kimia UGM, tapi tinggal menunggu wisuda besok setelah lebaran.
Khotib    : Ooo..alhamdulillaah, besok mau kemana? kerja atau S2?
Aku    : penginnya sih S2 pak, tapi masih lihat-lihat kondisi dulu. Kalo memungkinkan S2 tapi kalau          tidak ya  cari kerja.
Khotib    : lah dulu gimana planningnya mas?
Aku      : dulu sih pengin S2, tapi kok kayaknya harus cari kerja dulu pak.
Setelah itu sang Khotib sedikit menceritakan masa lalunya dan menyarankanku untuk S2 saja jika pengin jadi dosen.
Khotib    : kalo mas ini siapa?
X        : saya X pak
Khotib    : sudah menikah mas atau sudah punya anak?
X         : sudah pak.
Khotib     : anaknya sudah berapa?
X          : empat pak, yang paling besar baru kelas 4 SD.
Ketika itu muncul feel aneh dalam batinku.
Khotib     : masnya kerja di mana?
X          : di selatan go**** pak, di percetakan.
Khotib     : wah bagus ya, pasti lagi banyak orderan.
X          : tidak juga, ya dulu pas awal-awal kerja setiap hari masuk, tapi sekarang cuma kalau ada pe          sanan saja datang, kalau tidak ya tidak datang.
Khotib     : istri kerja apa?
X          : istri bantu menjahit di rumah pak.
jebb, perasaan aneh itu semakin menguat. Percakapannya cukup sampai di sini saja.

Perasaan aneh itu masih terus terbawa hingga pada suatu malam kami sempat bercakap-cakap tentang zakat, apalagi dengan rencanaku yang hendak mengubah teknis pembagian zakat dengan mengundang pembicara. Karena aku baru pertama kali terjun sebagai panitia Ramadhan dan dia sudah puluhan tahun berkutat dengan panitia Ramadhan, maka aku percaya saja apa yang dia katakan bahwasanya percuma mengundang pembicara untuk memperbaiki teknis pembagian zakat di sini karena memang teknis itu sudah terjadi selama bertahun-tahun. Selagi dia bicara terus mulai dari perzakatan, sekularisme, kapitalisme dan liberalisme, aku membuka file-file zakat selama ini. Cukup aneh juga formulir perolehan zakat dibuat dengan sangat simpel, tanpa tahu siapa petugas yang menerima zakat. Sebenarnya dia dari awal memang tidak setuju dengan rencanaku itu, entah kenapa soalnya sejak sebelum Ramadhan pun dia sudah mengompori tentang percuma mengubah teknis pembagian zakat tanpa mengedukasi umat. Makanya mas, sekarang tak panggilkan pembicara yang paham zakat agar meluruskan pemahaman petugas zakat di kampung. Akhirnya aku termakan juga dengan omongannya itu hingga sempat terbesit untuk membatalkan saja rencana itu.

Waktu terus berlalu hingga memasuki minggu kedua bulan Ramadhan. Tidak ada hal yang aneh ketika itu, Semua berjalan seperti biasa hingga akhirnya si X langsung pulang setelah tadarus, biasanya dia yang mengambilkan gelas untuk peserta tadarus dan kemudian mencucinya. Karena si X tidak ada, akhirnya aku dan Mas K yang mencuci gelas. Selesai mencuci gelas, teman-teman mulai berdatangan untuk membuat dekorasi pengajian Nuzulul Qur’an. Aku duduk di sekretariat masjid bersama Mas K. Tiba-tiba Bendahara masjid masuk untuk mengambil lampu sambil bersungut-sungut pada Mas K.

bendahara    : kae wingi si X tak uring-uring nganti entek entute. Jane aku mangkel tenan, ra tri              mo mesjid dielek-elek. (Aku mulai was-was jangan-jangan ada yang salah dengan diriku).
bendahara     : lah piye to co, duit zakat maal, infak, shadaqah ki ra ono laporane taun wingi. tr              us mbah sis wedok kae yo biyen pas isih urip yo tau nyumbang mesjid 500.000 terus                   digawa si X, tapi ra disetorke neng mesjid, rong taun iki duit zakat ra ono lapora                  ne, urung sing taun-taun biyen.
Mas K         : lha terus wonge muni pie?
bendahaara     : malah muni nek ra ono aku mesjid ki ra mlaku. (aku mulai ingat cerita si X tentang              jasanya terhadap masjid ).  Mbok ra ono kowe e mesjid malah mlaku ne lancar, mbok                   kowe arep lunga neng cokro e ra masalah wong kowe le ketok yo mung nek pasa.
Mas K          : wis yo laporke takmir wae.
bendahara      : takmir e pruttt, ngerti ngono kuwi mung meneng wae (aku mulai berpikir kembali omo              ngan pak bendahara ini ada benarnya). Jane aku ki ra seneng, genah kono ngerti il                   mu agomo mung meneng wae, teko ndarus, mangan njuk mulih. Ra tau ngurusi masjid.
Koyo ngono kok disebut takmir.
Mas K           : hehehe.
Pak Bendahara kemudian pergi keluar sambil membawa lampu untuk membuat dekorasi pengajian. Sementara itu aku dan Mas K pulang. di tengah jalan aku sengaja melambatkan kaki dan bertanya
Aku          : jane ono opo to mas?
Mas K        : kae lo neaX si X ki gawa duit zakat maal, infak, shadaqah taun wingi tur ra ono la              porane, urung kuwi taun-taun biyen.
Aku          : lho kok iso?
Mas K        : lah piye meneh to neax kan selama ini sing ngurus zakat kae karo Mas J, maka ne ka              beh ki ra ngerti duit zakat neng endi wae. Yo mung kae sing ngerti. Jujur wae awak                  e dhewe ki kurang personil. Kowe ngerti to, nek aku kan esuk neng pasar, sore lagi               bali. Mas J yo iso ne awan. Makane ben esuk si X sing jaga. Kan saiki muda mudi ne                  lagi sregep, sesuk mbok ajako nunggu zakat.
Aku          : jare biyen tau ngadake pelatihan zakat mas?
Mas K        : oraa, rung tau. jadi kene ki yo ra ngerti ilmu zakat. Kepriye to bagi ne, terus ka              dar e sepiro wae ngono. Yo jane aku ngerti si X ki jane butuh duit, tapi kan ora n                  gono cara ne to?
Aku        : ho oh. yo wis mas, sesuk tak pikire meneh wae.

Akhirnya feel aneh yang kurasakan itu terjawab, jadi ini to masalahnya dan mengapa dia bersikeras untuk tidak mengadakan sosialisasi tentang zakat dan mengatakan sulit mengubah teknis pembagian zakat di kampung ini karena dia sendiri diduga membawa uang titipan orang lain untuk dibagikan.

Sejak hari itu si X menjadi agak canggung ketika berada di masjid. Dia langsung pulang setelah tadarus, akibatnya aku harus menjadi seksi cuci mencuci gelas. Kemudian aku dan Mas J bergerak mencari pembicara tentang zakat, agak telat sih mengingat Ramadhan akan segera berakhir. Dengan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akhirnya dapat juga pembicara dari salah satu lembaga pengelola zakat di kotaku. Peristiwa uring-uringan antara si X dengan Bendahara ternyata banyak yang tidak tahu, hanya anak-anak muda yang sedang membuat dekorasi saja yang tahu. Bahkan Mas J yang notabene sudah puluhan tahun mengurs zakat di kampungku mengetahui masalah itu dari si D, Sekretaris Panitia. Sore hari sebelum aku berbicara dengan Mas K, adikku pulang dari TPA dengan membawa kabar yang cukup heboh, guru-guru TPA mogok ngajar. Katanya sih gara-gara duit untuk mereka belum dikasihkan si X, padahal Mas J sudah menitipkannya lama. Meksi berita ini perlu dicek lagi kebenarannya, haduuhh, lagi-lagi si X. aku pun bertekad untuk melihat TPA karena menurutku selama ini TPA adalah seksi yang paling adem ayem. Kata Pak S, beliau sudah menelpon pihak guru TPA dan insya Allah besok sudah bisa datang kembali.

Keesokan sorenya, aku datang ke TPA. Sebelum ke sana aku sempat mampir ke bazaar dan melihat si D, Mas J, Mas J2 dan beberapa ibu-ibu sudah ada di sana.
Aku    : pie mas, guru ne kok ra teko ki ngopo?
Mas J    : ho oh ki, si X kae ra mesakke konco tenan og, nek gurune ra teko mbok ngandhani, jadi aku           siap materi.
Aku    : lah ngopo ra teko?
Mas J    : jare duite sing nggo TPA ki ra dinehke po piye sing pasti ki wonge ngomong nek rong dina i          ki ana pelatihan muda-mudi jadi TPA libur sik.
Aku    : pelatihan muda-mudi -__-“. Saiki wis beres to?
Mas J    : ho oh, wingi Pak S wis telpon jare saiki wis iso mangkat.

Pandanganku pada si X berubah sejak saat itu, aku menjadi tidak simpatik bercampur kasihan melihat anak-anaknya yang masih kecil-kecil, curiga apakah dia kali ini juga akan “makan” duit zakat lagi secara tidak sah. Kasihan? Ya karena anaknya selalu ikut ndobel snack untuk guru TPA karena bapaknya juga turut membantu TPA (kalo pas lagi datang), bahkan ada yang protes padaku dua kali gara-gara dia membawa pulang sisa snack masjid dan TPA sehingga kadang TPA kekurangan snack, pernah lho ini terjadidan aku melihat dengan kepalaku sendiri.

Hari di mana sosialisasi tentang zakat tiba, malam hari sebelum sosialisasi itu dia memprotes Mas K soalnya undangan salah karena tidak ada tanda tangan sekretaris, katanya sih tidak sah. Namun Mas K hanya diam saja mengingat diapun tahu bahwa akan ada sosialisasi itu, dia sendiri pun terus mengusikku dengan menanyakan program-program yang belum berjalan seperti i’tikaf dan kajian rutin. Aku pun diam saja dan berkata yang menjadi fokusku adalah pembenahan di pembagian zakat fitri soalnya itu yang wajib, nek iki wis bener lagi tahun ngarep mbenahi sektor lain. Dia pun langsung diam mendengar jawabanku itu. Alhamdulillaah sosialisasi itu berjalan lancar apalagi ada donatur untuk makanan berbuka puasa🙂.

Hari penerimaan zakat telah tiba, hari pertama aku absen seharian soalnya harus memperbaiki pompa air. Subuh di hari kedua penerimaan zakat Mas J sudah memintaku untuk menjaga zakat pagi ini karena dia akan pergi. Aku jaga shift pagi hari itu, waktu kubuka form zakat, aku kaget ada nama si X jaga. Memang sih aku dan Mas J sempat bercakap-cakap dan sepakat si X tahun ini masih boleh jaga tapi harus ada yang mengawasi. waduh, kok bisa, dia jaga dengan siapa ya?. Hmm, mungkin dia menggantikan si D yang sore itu jaga. Aku agak khawatir juga jangan-jangan ada yang tidak beres ini. Untungnya si X jaga cuma sore hari, pagi hari Mas J yang jaga zakat. Intinya aku berusaha agar tidak “mendepak” si X secara langsung tapi mengurangi porsi jaganya. Bahkan aku secara terang-terangan mengambil map dari sekretariat sementara ketika itu si X ada dan menitipkannya kepada Bendahara masjid.

Malam penimbangan beras zakat, si X yang membawa map catatan zakat. aku sempat melihat dia memasukkna uang Rp 140.000, 00 ke amplop masjid. Aku diam saja melihat hal ini karena kupikir dia akan memasukkan amplop itu ke dalam map. Dia lalu pergi ke pendopo masjid kami. Aku terus mengawasinya dari kejauhan dan masya Allah amplop tadi dia masukkan ke dalam sakunya! Wah ini tak bisa dibiarkan, aku keluar dari tadarusan di masjid lalu menyapanya “ono opo mas? lak wis cocok to?”. Aku kemudian menghitung kembali uang zakat maal, infak dan shadaqah serta meminta map zakat darinya. Alhamdulillaah semua masih cocok dengan yang tercatat, tapi entah bagaimana dengan yang tidak tercatat. Ini bukan masalah sepele bagiku karena ini adalah titipan dari orang banyak. Jangan sampai hanya karena satu orang, semua panitia Ramadhan kena dampaknya. Orang-orang lalu mulai banyak berdatanngan, terutama mereka yang bertugas di perzakatan. Meski demikian, pada malam itu aku mendengar kisah-kisah tentang si X yang ternyata membuatku cukup merinding dan ini bukan sembarangan orang yang cerita lho, Bendahara masjid yang sudah 11 tahun menjadi bendahara masjid kampungku dan juga Mas J yang mungkin sudah lebih dari puluhan tahun mengurus masalah kegiatan bulan Ramadhan dan TPA.

Pagi harinya, si X sms padaku bahwa dia tidak dapat membantu membagi zakat, tapi tidak kubalas smsnya. Pagi itu dia dan Pak J telah mengambil bagian zakat untuk RT-nya dan menyebarkannya sendiri. Hingga malam takbiran pun dia tidak terlihat di masjid. Alhamdulillaah tahun ini telah ada perbaikan dalam teknis pembagian zakat meski masih belum terlalu sempurna, tapi insya Allah tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin, insya Allah lebih tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan, insya Allah.

Perasaan kasihan padanya itu masih ada manakala dia masih juga tercatat sebagai salah satu orang yang menerima zakat fitri, mungkin orang-orang di tempat kami masih merasa kasihan padanya. Bukan hanya pas itu saja, ibuku sering bilang kalau ada orang atau anak kecil yang mau makan snack yang tersisa itu tandanya kemungkinan di rumahnya memang tidak ada makanan dan ibuku sering juga berkata jangan sampai kita makan dari snack yang masih sisa kecuali itu sudah diberikan pada kita atau memang jatah kita. Pada pagi Syawalan kemarin pun, aku merasa kasihan ketika melihat istrinya datang membawa anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Ya begitulah.

Apa yang kita bisa petik dari kejadian ini?

1. Hendaknya kita berilmu sebelum beramal, ilmu dulu sebelum bertindak. Dosa beramal tanpa ilmu. Ini kaidah umum di kehidupan ini.

2. Hendaknya menikah itu melihat kondisi kita, bukan sekadar siap untuk berhubungan badan, tapi melihat kemampuan finansial juga. Mau diberi makan apa anak isteri kita ketika kita menikah tanpa kemampuan finansial yang cukup? Allah Maha Pemberi Rizki, iya tapi kita harus berusaha juga kan?

3. Keluarga Berencana itu bukan untuk membatasi keturunan cukup dua orang saja, tapi merencanakan masa depan anak-anak kita. Berapapun jumlah anak kita terserah, yang penting semua berkualitas dan tercana dengan matang.

4. Nikah itu butuh preparasi, mungkin bisa saja istri kita beri makan cinta tetapi anak-anak kita? Jangan sampai mereka makan dari snack yang tersisa atau hak orang lain yang bukan merupakan hak kita, maka dari itu jangan menikah hanya dengan bermodal semangat saja, tapi persiapkan yang matang. kalau belum siap nikah, jangan pacaran. Tidak usah memikirkan wanita, sibukkan diri dengan kegiatan bermanfaat dan puasa.

5. Kita sering koar-koar pemerintah kita korup, oke mungkin ini fakta. Namun demikian ingat, masyarakat kita juga ada yang korup, bahkan mungkin banyak yang korup. Kalau kita ingin pemerintah kita bersih, maka bersihkanlah dulu diri kita, sudahkah kita amanah terhadap titipan orang lain?

Oke mungkin cukup dulu secuil kisahku di bulan Ramadhan ini, semoga kita bisa mengambil manfa’at dar kisah ini.

“TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM, SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H”

# ditulis pada malam 5 Syawal 1433 H, teruntuk si X.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s