antara aku kau dan dia part 11 semoga bukan akh gawat

Aku memang bukan seorang ustadz, alim ulama, guru dsb. tapi hanyalah seorang biasa yang risau terhadap fenomena yang sering kutemui baik di kampus maupun di tempat-tempat lain. Sebuah fenomena yang kalau kupikir-pikir ternyata tidak masuk akal dan sudah dianggap lumrah oleh banyak orang. Apa itu? Let’s check it out!

Suatu hari di akhir tahun 2011 seperti biasa aku ngampus untuk pergi ke lab dll. Ketika lewat di depan selasar, tiba-tiba ada pemandangan aneh yang tertangkap mataku, yaitu ada seorang akhwat sedang duduk berdekatan dengan seorang mahasiswa. Kok bisa-bisanya? Yah, mungkin saja mereka bersaudara atau pasangan suami istri.

Lain lagi ketika aku berjalan di rektorat menuju UPT, lagi-lagi pemandangan yang sama tertangkap mataku. Lagi-lagi akhwat sedang duduk berdua dengan orang lain. Begitu juga ketika aku lewat di depan sekre salah satu organisasi di fakultas. Kok bisa ya? Terlepas dari apakah mereka memang pasangan suami istri atau saudara (mencoba husnudzon) fenomena ini kok bisa terjadi ya?

Memang kita kuliah di kampus yang bukan berorientasi pada keagamaan, di mana antara mahasiswi dan mahasiswa bebas bergaul, bahkan di ketika aku pertama kali datang ke perkuliahan aku sempat syok karena jumlah mahasiswinya jauh lebih banyak dari pada mahasiswa (sekitar 1 banding 3 sampai 1 banding 4). Dulu aku pikir bahwa jurusan ini lebih banyak mahasiswanya. Oke agar tulisan ini menjadi lebih fokus, kali ini kita spesifikkan ke mahasiswi berjilbab dengan benar daan sudah mengaji atau sering yang disebut dengan akhwat karena 3 contoh fenomena tersebut berkaitan dengan akhwat. Tapi dalam arti sebenarnya akhwat berarti saudara perempuan dan ikhwan berarti saudara laki-laki.

Aku tidak ingin menghakimi atau menduga macam-macam hanya sekedar mengingatkan saja kepada teman-temanku yang akhwat bahwa :

1. kepada teman-temanku yang akhwat, kita harus menjaga pergaulan terutama dengan lawan jenis, baik ikhwan maupun akhwat. Karena fitnah terbesar dari laki-laki adalah wanita. Sebaiknya dihindarkan percakapan yang tidak perlu, sms, telepon, komen status, ngetwit, YM-an. Karena mungkin saja kita pada awalnya tanya jadwal kajian, mengingatkan untuk sholat malam namun lama kelamaan malah jadi pacaran.

2. Kepada teman-temanku yang akhwat, aku ingin tanya apa motivasi kalian menaruh foto-foto kalian di jejaring sosial? Apakah kalian tidak malu orang-orang lain yang bukan mahram kalian memandangi wajah kalian secara gratis? Kenapa tidak kalian jaga wajah kalian agar hanya suamimu yang bisa memandang? Sungguh ini benar-benar musibah bagi kita semua. Bagaimana kelak jika suami kalian tahu bahwa sebelum jadi istrinya kalian adalah seorang aktivis jamaah fesbukiyah? Apa kalian tidak malu?

3. Kepada teman-temanku yang akhwat, mengapa kalian suka mengirim sms nasihat, tausyiah dll. kepada ikhwan? Bukan masalah isi nasihat dan tausyiahnya yang kupermasalahkan tapi kenapa harus juga ke ikhwan? Akan lebih baik jika kalian hanya mengirim nasihat dan tausyiah hanya ke sesama akhwat, begitu juga dengan yang ikhwan.

4. Kepada teman-temanku yang akhwat, sudah menjadi hal yang umum bahwa dalam setiap aksi demonstrasi kalian juga turun ke jalan? Aku ingin bertanya pada kalian, apakah kalian belum pernah mendengar Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam melarang seorang wanita yang pergi haji tanpa mahramnya. Ini haji lho, apalagi cuma demonstrasi. Coba kalian pikir, dalam demonstrasi kalian sudah melanggar larangan Allah subhanahu wa ta’ala, pertama keluar rumah tanpa kebutuhan yang mendesak dan kedua campur baur antara laki-laki dan perempuan dll.

5. Kepada teman-temanku yang akhwat, mengapa kalian bermudah-mudahan untuk berkomunikasi dengan lawan jenis seperti yang ada di 3 contoh di atas (memang tidak semua akhwat seperti itu juga). Kalau yang kalian ajak ngobrol itu muhrim kalian, its okey, tapi kalau bukan? Bukankah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melarang berduaan dengan lawan jenis? Dan jika harus bercakap-cakap dengan lawan jenis harus ada hijabnya. Kalaupun ini adalah tuntutan keadaan karena tidak ada sekre yang memadai, mengapa kalian lebih mengutamakan organisasi dari pada perintah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam? Aku tidak melarang kalian untuk berorganisasi dll. tapi hanya dengan yang akhwat semua atau dengan muhrim kalian.

6. Kepada teman-temanku yang akhwat, sebaiknya kalian juga harus berhati-hati dengan orang yang seolah-olah sholeh hanya lewat telpon, sms, fesbuk, twitter dan juga sms dan telepon nyasar, mengapa? Karena itu semua cuma di dunia maya, kita hidup di alam nyata bukan dunia maya kan? Aku sudah pernah mendengar kisah-kisah pembunuhan yang bermula dari kenalan lewat telepon nyasar kemudian berlanjut hingga ke zina (na’udzubillah), kemudian terjadilah pembunuhan. Kalian adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Islam, maka dari itu janganlah kalian sendiri turunkan derajat kemuliaan tersebut. Untuk sms dan telepon nyasar, janganlah kalian tanggapi karena bisa jadi itu adalah perangkap serigala berbulu kelinci yang hendak memangsa kalian.

7. Kepada teman-temanku yang akhwat, perbanyaklah mengaji dan belajar (bukan cuma masalah politik, palestina, pemilu dll.) Karena kalian adalah pilar-pilar kebangkitan umat Islam. Apakah kalian belum pernah mendengar bagaimana kisah ibunya Imam Syafi’i rahimullah. Bagaimana beliau terus mendorong Syafi’i kecil untuk belajar agama meski hidupnya kekurangan dan ibu imam Masjidil Haram, As Sudais. Beliau terus mengajak Sudais kecil ke Masjidil Haram dan mendorongnya agar kelak menjadi imam Masjidil Haram. Oleh karena itu, banyak orang yang mengincar kalian melalui seruan emansipasi, fashion dll.

Kembali lagi ke bahasan utama, sesungguhnya aku merasa kasihan melihat kaum hawa (secara umum) pacaran, mengapa? Karena dia membiarkan pacarnya memegang tangannya, memandang wajahnya secara gratis paling pol diajak makan dan diberi hadiah. Kalian adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka dari itu untuk bisa mendapatkan kalian secara halal (menikah maksudnya) diperlukan keberanian dan perdjoengan yang keras. Keberanian untuk membulatkan tekad dan kami (kaum pria) untuk bertemu dengan bapak kalian dan berkata aku ingin meminang putri bapak, keberanian untuk mendapatkan resiko ditolak dan perdjoeangan yang keras karena kami memiliki tanggung jawab untuk menyedian tempat tinggal, memberi makan dan pakaian serta mendidik kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian turunkan derajat kemuliaan kalian sendiri.

Mungkin cuma itu yang bisa kutulis dan semoga menjadi renungan bagi kita semua.

# link yang cukup bagus terutama berkaitan dengan cinta antara ikhwan dan akhwat

http://muslimafiyah.com/antara-cintaku-cintamu-dan-cinta-nya-4-permasalahan-utama-cinta-asmara-bag-1.html
http://muslimafiyah.com/antara-cintaku-cintamu-dan-cinta-nya-4-permasalahan-utama-cinta-asmara-bag-2.html
http://muslimafiyah.com/antara-cintaku-cintamu-dan-cinta-nya-4-permasalahan-utama-cinta-asmara-bag-3.html
http://muslimafiyah.com/antara-cintaku-cintamu-dan-cinta-nya-4-permasalahan-utama-cinta-asmara-bag-4.htm
http://muslimafiyah.com/antara-cintaku-cintamu-dan-cinta-nya-4-permasalahan-utama-cinta-asmara-bag-5.html
http://muslimafiyah.com/antara-cintaku-cintamu-dan-cinta-nya-4-permasalahan-utama-cinta-asmara-bag-6.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s