antara aku, kau dan dia part 9 timeline of my script

Kemarin sore ketika aku keluar dari SIC dan berjalan menuju parkiran motor MIPA Utara dari belakang ada yang memanggil namaku, salah seorang teman kuliahku yang sedang duduk-duduk dengan 2 temanku yang lain. Sambil tertawa dia bertanya padaku kapan aku akan ujian dan lulus? Ketika dia menanyakan hal itu, temanku yang lainnya mengisyaratkan jangan bertanya seperti itu. Yah, aku jawab saja Mei 2012. Malas meladeni percakapan itu akhirnya aku pamit dan pulang. Sepanjang perjalanan agak kesal juga sih ditanya seperti itu, tapi yang bertanya pun nasibnya tidak lebih baik daripadaku, meski sudah ujian dia masih jadi pengangguran.

Akhirnya kuputuskan saja menulis ini, time line of my script. Mungkin kalian akan bosan membaca tulisan ini karena memang tulisan ini hanya bercerita tentang perjalananku selama kuliah di sini dan banyak bercerita tentang apa yang aku rasakan selama kuliah. Yuk, kita mulai saja🙂


Intro into the My Script

Ada perpisahan, pasti ada pertemuan. Ada akibat, ada sebab. Hukum itu berlaku juga denganku. Semua hal yang kualami selama kuliah bermula ketika di suatu pagi di tahun 2007 aku dan guruku sedang berjalan ke warnet untuk login pendaftaran mahasiswa. Waktu itu beliau bertanya kamu mau masuk jurusan apa? Aku jawab saja kimia pak. Beliau tanya lagi, kamu yakin? Iya, tapi dalam hati aku menjawab tidak. Bagaimana tidak, menjelang lulus SMA aku sangat tertarik dengan komputer hingga aku pengin masuk ke jurusan yang ada komputernya. Tapi apa nasib, semua sudah terjadi, ketika login pun aku memasukkan kimia sebagai tempat kuliahku nanti. Waktu terus berputar dan tak terasa sebulan setelah login, akhirnya aku diterima di jurusan ini, senang sih senang tapi rasanya masih ada yang mengganjal di pikiranku semenjak itu. Kecintaan akan komputer masih mengisi pikiranku bahkan ketika aku memulai perkuliahan di sini.

Ya karena bisa dibilang aku masih suka dengan hal-hal berbau IT, akhirnya beberapa kuliahku terbengkalai ditambah lagi dengan pergaulan sebagai mahasiswa baru dan makrab yang membuatku kecewa semakin membuatku tidak betah di jurusan ini. Yap, bisa ditebak seperti apa aku ketika itu, orang bingung dan robot. Bingung karena tidak tahu apa yang akan aku lakukan ke depannya nanti, robot karena pagi kuliah, siang sampai sore coding VB, malam tidur, kalau ada waktu di sela-sela kuliah aku lebih memilih pergi ke perpustakaan hanya untuk mencari majalah komputer gratisan, kalau pinjam buku di perpus, pasti masuk ke rak ilmu komputer. Ya begitulah, kehidupan pertamaku di kampus ini. Entah apakah hanya aku yang mengalami perasaan seperti ini ataukah teman-teman kuliahku yang lain juga mengalaminya? mungkin saja tidak, karena kulihat mereka kebanyakan rajin, rajin garap tugas, rajin belajar kelompok. Terkadang menyesal juga dulu mengapa waktu itu aku tidak memilih yang lain saja. Memang sih, masih ada perasaan bahwa aku suka kimia, tapi di sisi lain aku juga suka komputer.

Masuk ke semester kedua, di sinilah dimulai praktikum kimia dasar. Entah mengapa perasaanku selalu berbeda ketika masuk lab. Aku masih belum menemukan soul yang pasti, bahkan cenderung mood-moodan dalam praktikum. Namun demikian, inilah tuntutan sebagai seorang mahasiswa kimia, harus selalu tampak rajin praktikum. Dengan segala daya aku paksa agar rajin praktikum, tapi tetap saja dalam hatiku masih ada pertanyaaan “mengapa aku masuk kimia?”. Laporan praktikum aku kerjakan satu malam  menjelang hari praktikum berikutnya hingga tak jarang nilai-nilai laporanku selalu kurang dari 75, bahkan ada yang dikembalikan untuk ditulis ulang. tapi semua itu tak terlalu aku gubris, toh memang benar jika dikembalikan karena tidak ada soul di dalamnya. Bukan cuma laporan yang dikembalikan, tugas mengarang pun juga tak dinilai oleh dosen. Sekali lagi, aku tak terlalu menggubris karena aku bingung nulis apa tentang kimia.

Semakin lama semakin bingung diriku, mau jadi apa aku nanti? Skripsiku mau di lab apa? Kenapa aku tidak bisa seperti teman-temanku yang ber-IP tinggi, cum laude? Yah, hari-hariku hanya kuliah ke perpus atau pulang. Aku sangat jarang main ke markas hima kimia. Penilaianku terhadap teman-temanku mulai berubah, tidak semua dari mereka suka akan kimia. Ada beberapa orang yang secara perlahan mulai hilang, salah satunya Ari. Ari adalah teman sepraktikumku dulu di kimia dasar, bisa dibilang dia adalah salah satu orang yang akrab denganku. Aku masih ingat dengan jelas ketika semester pertama dia juga tidak begitu menonjol, bahkan menjelang ujian akhir dia masih tidak memiliki buku-buku kuliah. Namun demikian, aku pikir dia suka kimia, tapi hanya agak malas saja. Loh? ya, nilai praktikumnya selalu berada di atasku hingga aku iri padanya. Di semester ketiga Ari mulai hilang dari kuliah, sehari dua hari seminggu dua minggu. Karena tidak ada yang bergerak mencari kabarnya dan setiap orang di kelas ketika kutanya kabarnya juga tidak tahu, aku berinisiatif datang saja ke rumahnya. Akhirnya kami saling bertemu dan bercakap-cakap mengapa dia jarang kuliah? Dia hanya menjawab tidak ada soul untuk datang kuliah. Dia juga tak mengerti untuk apa kuliah di kimia. Aku hanya terdiam mendengar jawaban darinya hingga pada akhirnya Ari memilih untuk berhenti kuliah dan lebih memilih untuk bekerja. Aku masih memilih untuk bertahan dan mencari jawabannya. Aetika itulah aku baru sadar akan hal yang disebut dengan passion. Aetika kita tidak memiliki passion akan apa yang kita jalani, maka hasilnya bisa ditebak.

Liburan dua bulan hanya aku habiskan membaca buku tentang Linux yang kupinjam dari perpustakaan. IPku jeblok, stress, malu, jadi hanya itu yang bisa kulakukan, melupakan tentang masalah kuliah dan IP.

Bingung, ditekan orang lain untuk mengerjakan hal yang sama sekali tidak memberi soul dan soul-ku tidak ke sana, iri ketika melihat teman sekelas pas SMA bisa kuliah dengan enjoy, IP yang tidak terlalu tinggi, tidak cum laude arrgghhh!!! Sudah dua tahun kuliah dan pertanyaan itu masih belum terjawab. Memang di sini banyak contoh yang bisa dijadikan teladan. Mahasiswa cerdas, IP cum laude, bahkan summa cum laude, tapi itu semua karena dia (mungkin) cinta kimia dari dulu? Sedangkan aku bak orang poligami? kimia dan komputer. Bagaimana caranya agar dua hal ini bisa bersatu atau paling tidak harus memilih salah satunya? itulah yang menjadi pertanyaanku selama ini. Jika kuliah hanya mengejar IP, nilai, maka semua itu mudah. Tinggal saja cari soal-soal dan kerjakan atau bagi pemuja IP, tinggal saja buka hp pas ujian lalu googling atau sms tanya teman. Fenomena terakhir inilah yang saya jumpai di tahun kedua kuliah ini, bahkan hingga tahun keempat pun masih saja ada yang buka hp pas ujian. Hal ini menandakan mereka sebenarnya sama seperti saya, tapi mereka berusha menutup-nutupinya dengan nilai yang bagus. Namun demikian, ketika malam semakin pekat, pertanda pagi akan segera datang. ketika tali mulai kencang, pertanda akan putus. Di tahun kedua inilah ada mata kuliah kimia komputasi. Gabungan antara kimia dengan komputer, tapi bagi saya ini masih belum bisa menjawab pertanyaan “Mengapa aku masuk kimia? Bagaimana memadukan antara kimia dengan komputer?”

Nilai mid yang seperti biasanya membuatku semakin bingung. Akhirnya aku putuskan saja jalan-jalan ke masjid kampus. Di sepanjang jalan aku terus berpikir dan akhirnya hanya satu jawaban yang muncul yaitu karena kimia adalah bidang yang paling sesuai dengan kemampuanku. Ya hanya ini jawaban yang bisa kuutarakan pada diriku sendiri. Tinggal satu pertanyaan lagi “karena aku sudah terlanjur masuk ke kimia, bagaimana caranya agar aku bisa memadukan antara kimia dan komputer?”. Satu minggu setelah itu, ada dosen baru masuk mengajar kimia komputasi. Kali ini dosen yang berbeda, langkah pertama yang beliau lakukan adalah menampilkan movie tentang ion dalam larutan, tapi bukan itu yang menjadi fokusku. Apa ya OS yang beliau gunakan? Kok beda banget dengan XP? Lalu bagaimana caranya membuat movie semacam itu? Bahkan ketika dua kali movie itu diputar aku masih bisa melihat bahwa tampilan OSnya beda dari yang selama ini kugunakan.

Pertanyaan yang masih kuingat dari beliau adalah kok tidak ada yang tanya caranya membuat movie semacam ini? Gambaran sekilas tampilan OS itu masih melekat di pikiranku hingga berbulan-bulan setelah itu. Semenjak jawaban itu aku ketahui, rasanya kuliah agak mendingan, separuh jiwaku sudah terisi dengan soul untuk belajar dan alhamdulillah semenjak semester itu IP tidak lagi menjadi masalah.

2009 menjadi tahun yang paling berkesan bagiku, di tahun ini aku menemukan jawaban mengapa aku ada di sini. Di penghujung tahun ini juga ada hal sepele yang mengubah jalan pikiranku, Linux? Haa? Ya karena dengan Linux aku tahu akan mengerjakan tugas akhir di mana. Sebenarnya aku mulai mengenal GNU/Linux ketika musim liburan semester 3 tahun 2008. Kala itu untuk membuang rasa penyesalan dan kekesalanku terhadap semester II dan kimia, aku mulai membaca kembali buku-buku tentang GNU/Linux. GNU/Linux pertama yang aku pelajari adalah Mandrake alias Mandriva. Beberapa buku tentang pengenalan GNU/Linux dan cara instalasinya aku baca satu demi satu. Sayangnya, aku tak lekas menginstall GNU/Linux di komputer karena aku tak punya cd installer.

Dua tahun kemudian, SIC menyediakan virtualbox gratis di webnya. Aku pun mendownload program itu dan menginstallnya di rumah. Setelah beberapa kesulitan kecil, akhirnya aku bisa menginstallnya. Lagi-lagi karena aku tak punya cd GNU/Linux, aku masih belum menginstall GNU/Linux. Kira-kira setengah tahun setelah itu, aku meminjam cd GNU/Linux Ubuntu dari Didik yang telah menginstall Ubuntu di laptopnya. Ubuntu pertama yang aku install adalah versi 9.10. Sayangnya, aku tidak dapat mengakses file-fileku di XP dari virtual box ini. Aku pun mulai bertanya pada Mas Hisam, teknisi SIC bagaimana caranya agar Ubuntuku bisa terhubung dengan XP. Sarannya ketika itu adalah menginstall kernel header. Puluhan jam aku habiskan di SIC untuk mencari kernel header dan library yang lain antara lain: glib dan gtk. Puluhan jam jatah internetku aku habiskan agar Ubuntuku menjadi GNU/Linux yang sempurna. Error demi error menghiasi hari-hariku dan gagal demi pesan error gagal menginstall program karena dependencynya menghiasi layar monitorku. Komputerku dipaksa kerja ekstra keras dengan menjalankan GNU/Linux di atas virtualbox karena GNU/Linux menyedot hampir semua memory.

Setelah tiga bulan berpetualang di dunia maya, aku mulai putus asa dan menyerah. Mas Hisam pun menyerah dan menyarankan mengganti distro saja. Aku lebih memilih mendownload virtualbox versi terbaru. Siang hari sebelum ujian akhir koloid aku ke SIC untuk mengambil virtualbox yang telah aku download sebelumnya. Tak kusangka hari itu Nadia akan menginap di rumahku untuk beberapa hari. Aku pun harus membagi waktu antara mengasuh Nadia, belajar ujian KOF dan KBP serta menginstall virtualbox. Dasar aku paling gatal kalo tidak memegang komputer barang sehari saja, Senin tengah malam aku tak belajar malah menginstall virtualbox yang baru. Hasilnya tak sia-sia, Ubuntuku berhasil terhubung ke XP. Alhamdulillaah, setelah tiga bulan berjuang akhirnya aku berhasil juga. Rasa senang itu memenuhi hatiku sampai-sampai Lek Asih heran melihat sikapku yang kekanak-kanakan saking senangnya.

Takdir Allah azza wa jalla juga yang membuat tugas mandiriku akan dibimbing Prof.Harno, salah seorang profesor kimia komputasi di sini, tetapi semua itu tidak jadi dan akhirnya aku harus masuk lab. Terus terang aku akui skill labku di organik sangat kurang pertama karena sangat jarang aku praktikum di lab ini. Kedua, kalaupun praktikum itu masih jaman ketika aku menjadi orang bingung yang tak tahu akan menjadi apa ke depannya.

Di saat semua temanku pindah dari VISTA ke 7, aku malah pindah dari XP ke Ubuntu. tampilan Ubuntu ketika itu sangat-sangat cool dan berbeda. Pindah dari Ubuntu aku coba OpenSuse, Debian, Mandriva, Slackware dan kembali lagi ke Debian karena itulah yang kurasa paling cocok denganku. meski aku ada di lab organik, tapi kecintaanku akan Linux tetap tidak berubah, bagiku Linux adalah sebuah OS yang kucari, stabil, bebas virus, jarang hang dll. Dan alhamdulillaah di saat aku harus tugas akhir, sekarang aku tahu akan ke mana, ya lab yang selama ini tak pernah kujamah, lab yang berada di paling pojok bawah timur jurusan ini, lab kimia komputasi dan di sinilah petualanganku di mulai.

Timeline of My Script..

Semua pekerjaan laporan tugas mandiriku kukerjakan dengan Debian, mulai dari laporan, menggambar struktur, pembuatan file presentasi (dan dari semua mahasiswa yang tugas mandiri di lab hanya aku yang memakai format OpenOffice). Mungkin di Linux aku tidak akan bisa seperti Mas Hisam dan Linggar, teman SMPku yang jadi teknisi SIC karena aku memang baru kenal Linux dan bukan dari ELINS seperti mereka. tapi dengan sisi lain, dengan Linux aku bisa menggabungkan antara kimia dan komputer dengan cara ini aku bisa lulus dari jurusan ini. Tanpa banyak pikir panjang lagi aku menemui dosen komputasi untuk tugas akhir di lab komputasi, ya tugas akhir dengan pertimbangan yang sangat sederhana karena aku suka Linux dan ingin bekerja dengan kimia dan Linux. Tugas akhirku adalah memodelkan interaksi antara gamma-alumina dengan karbon dioksida, software yang kupakai pertama kali adalah Gaussian 98 kemudian pindah ke Gaussian 03. oleh karena itu, aku harus tahu bagaimana membuat gamma-alumina. hampir dua bulan aku mencoba membuat model tersebut.

-> November 2010

Model tersebut bisa kubuat dengan GaussView dengan bantuan dari Prof. Karna untuk penggunaan GaussViewnya. Oke langkah kedua adalah memahami penggunaan Gaussian98. Pertama kali aku pegang Gaussian98 rasanya sangat sulit dan sering error. karena saking kesalnya semua file input yang dibuat oleh gabedit aku ketik ulang di vi dan ku run dengan Gaussian98. eh ternyata bisa jalan🙂.

-> Februari 2011

Aku mulai masuk ke interaksi dengan gamma-alumina. Karena ketidaktahuanku tentang metode-metode kimia komputasi. Aku selalu membayangkan bahwa tugas akhir ini harus seperti apa yang ada di jurnal-jurnal yang sering kubaca atau minimal seperti tesis yang disarankan untuk kubaca. Ya, dengan komputer sekelas pentium 4 dan Gaussian98 tentu saja hal itu tidak mungkin. hampir dua bulan runningaku tidak selesai.

Tak kusangka di bulan ini juga aku yang merasakan kemerdekaan akan menjadi orang terjajah lagi. Suatu sore ada seseorang yang mengataiku “anak buangan dari lab lain!” (karena memang sedikit sekali orang yang minat di lab kimia komputasi, rata-rata orang kimia memang tidak suka dengan komputer) kata-kata itu diucapkan ketika tidak ada S1 lain angkatan 2007 yang ada di lab ini, maklumlah ketika itu setiap lab ada koordinator untuk pembuatan buku tahunan.

Terjajah, ya terjajah karena aku harus mengerjakan hal yang sama sekali tidak ada kaitannya denganku, salahku juga sih mengapa tidak tegas mengatakan tidak. Akhirnya hal itu menyita sebagian dari waktuku. Memang di komputasi runningannya bisa ditinggal, tapi apakah kita ngelab hanya untuk itu? Ah rugi sekali, ketika kita menekuni bidang yang jarang peminatnya tapi kita sendiri tidak mendalaminya. Itulah yang menjadi pikiranku, sudah kubilang dari awal, bahwa aku ingin agar tugas akhir ini seperti apa yang ada di jurnal dan ketika aku lulus nanti aku harus tahu apa itu kimia komputasi, qsar, simulasi, docking dan hal-hal yang berkaitan dengan itu semua. Tapi apa boleh buat, setidaknya aku harus meluangkan waktu untuk mengerjakan hal itu. Memang sih ada hal baru yang kutahu dan fee dari sini, tapi tetap saja jiwaku berteriak “aku orang terjajah!!”

-> April 2011

Aku dipinjami komputer quad core dan Gaussian03 oleh mbak ica, pada awalnya aku berpikir dengan komputer seperti ini semua pasti akan cepat selesai, tapi ternyata tidak. Untuk menjalankan Gaussian03 tidak hanya butuh komputer yang cepat, tapi juga pemahaman akan kimia komputasi dan kimia itu sendiri, sangat berbeda dari apa yang kubayangkan. Oleh karena itu, aku belajar bagaimana bongkar pasang Gaussian03 di komputer orang lain😛, baca-baca lagi tentang kimia komputasi, yah googling-googling lagi. Semakin aku baca tentang Gaussian03, kimia komputasi semakin aku tenggelam di dalamnya, ya bidang inilah yang cocok dengan orang poligami sepertiku. Passion, inilah passionku dengan ini aku tidak akan kehilangan kimia dan komputer🙂. Di tengah-tengah rasa gembiraku ada hal yang bak sambaran petir menimpaku. Aku tidak habis pikir ada seorang yang sangat-sangat menghina komputasi, katanya itu tidak ada gunanya, idealisasi dari sistem. Dia mengatakan bahwa Kimia Komputasi itu tidak ada gunanya selain hanya untuk mendesain obat, menghina QSAR, QSPR dll. Rasanya benar-benar marah aku waktu itu, tapi kutahan saja semua amarahku. Hilang sudah rasa hormatku ketika itu. Gini aja deh, kalo kimia komputasi itu tidak ada gunanya mengapa Pople dan Kohn bisa mendapatkan hadiah Nobel? Mengapa penelitian tentang komputasi bisa masuk publikasi internasional? Mengapa di kampus-kampus luar negeri ada komputasinya? Dan mengapa juga gaussian itu harganya 60 juta kalo tidak gunanya? Terahir mengapa tidak setiap negara bisa memesan Gaussian dari Amerika? apa itu artinya amerika takut gaussian akan disalahgunakan? Ya begitulah, kimia komputasi adalah dunia lain dari kimia.

-> Mei 2011

Hampir kebanyakan pekerjaanku telah selesai dengan quad core itu, tapi rasanya aku kurang puas dengan apa yang kukerjakan hingga akhirnya aku mengerjakan semua dengan metode dan cara-cara yang sedikit berbeda🙂. Kalo pengin nge-cut, sebenarnya bisa saja sih tapi masih banyak hal yang belum aku ketahui dari kimia komputasi, malu rasanya lulus dari tempat ini tapi masih tidak tahu QSAR, simulasi, docking. kudengar bulan juli akan ada semacam kuliah tentang itu semua di lab🙂.
di bulan ini juga, ada Gaussian03 training (cuma sekali) dari Prof.arno, bagaimana tentang memahami input dan output gaussian. Ada juga Gaussian03 in parallel computer, pokoknya manteb lah🙂

-> Juli 2011

Tugas akhirku divonis salah, lho? Bukannya semua sudah kukerjakan dengan benar dan manut jurnal? Akhirnya setelah diskusi lagi semua tetap kujalankan seperti biasanya. Namun beberapa hari setelah itu aku benar-benar vakum dalam mengerjakan tugas akhir dan malah asik main program lain. Di bulan ini juga ada kuliah tentang simulasi dan qsar.
Penjajahan atas diriku juga berakhir di bulan ini, aku sudah capek. Akhirnya aku malah pergi entah kemana dan tidak peduli karena aku pikir semua sudah selesai dan tidak ada lagi keterkaitannya denganku.

-> Oktober 2011

Ini dia seminar STAku yang ketiga kalinya. Semua pekerjaanku telah siap dan bisa dibilang selesai, tapi pak dosen masih meminta dengan model lain, agar aku membuat ke surface bukan unit sel saja. Hmm, model surface sebelumnya sudah kuutarakan dengan pak dosen, tapi beliau mencukupkan agar dengan unit sel saja. Akhirnya aku coba semua dengan surface, yak bisa ditebak quad core pun menyerah dengan hal ini. Aku juga mulai menyerah, listrik yang sering mati, running yang susah selesai, berbagi komputer dengan orang lain, jobku yang tiba-tiba mati sendiri, arrghh..

-> November 2011

ONIOM, satu bulan ini aku fokus mencari solusi dengan ONIOM, tapi semua masih penuh dengan error dan susah konvergen. Masalah semakin runyam ketika dua teman S1 sudah lulus, Mas Noval dan Mbak Ica. di satu sisi, akhirnya aku mencoba garap semua ini hanya dengan cluster kecil saja karena hal ini sudah bisa mewakili interaksi dengan CO2. hihihi, hanya dalam waktu 2 minggu semua sudah selesai dengan frekuensi negatif. Ha? Frekuensi negatif?

-> Desember 2011

Semua pekerjaan yang dengan kluster itu berakhir dengan frekuensi negatif akibatnya hasil itu tidak dapat digunakan dan dipakai. Oke lah, utak-atik sedikit akhirnya bisa juga menghilangkan frekuensi negatif itu. Akhirnya aku berpikir ide komputasi selalu terbentur dengan hardware dan bukan quad core saja yang aku perlukan saat ini, masih ada pentium 4. Ini cukup! Meski terkadang aku rindu dengan quad core lagi, tapi semua itu sudah mustahil. Quad core sibuk semua, mana mungkin bisa dipakai. Akhirnya aku kembali ke pentium 4.

-> Januari 2012

Di bulan ini semua pekerjaanku sudah selesai. Aku mulai lagi membaca manual Gaussian03, kali ini dengan lebih teliti agar aku bisa menjalankan gaussian dengan efektif dan efisien dan akhirnya semua selesai hanya dengan pentium 4.

ya, tak terasa pekerjaanku telah selesai dan kini hanya menunggu revisi skrpsi saja. mungkin ada yang bilang aku ini lambat,telat lulus dsb. Terserahlah mau ngomong apa, karena yang kucari bukan sekedar lulus cepat, tapi juga ilmu di sini. di sinilah aku menemukan passion. Dengan membaca timeline itu tentu kalian tahu kesulitan tersendiri yang kualami dan ketika aku mengambil mata kuliah simulasi dan kemoinformatika aku benar-benar sadar bahwa jika saja aku lulus cepat tentu dan tidak tahu apa-apa tentu akan memalukan sekali, paling tidak sebelum lulus aku sempat belajar tentang hal lain di kimia komputasi.

Salah seorang teman S2ku selalu mengatakan bahwa kita tidak dapat hidup hanya dengan kimia saja, misalnya ketika kita sudah masuk ke pabrik, tentu pihak pabrik sudah punya SOP dan kita hanya tinggal menjalankan SOP tersebut. kalaupun masuk ke R n D pasti kita jadi peneliti junior kan? Maka dari itu kita butuh skill lain di luar kimia, skill untuk mengajar, menulis dan apapun yang kita bisa, maka dari itu juga lah aku mulai menulis, salah satu pekerjaan yang tidak kusukai dari dulu karena aku tidak tahu apa yang akan kutulis, mau bicara organik, banyak teman-temanku yang lebih bisa, mau bicara kimia secara umum, banyak web yang sudah menyediakan, tapi ketika aku masuk ke lab ini, aku tahu apa yang harus kutulis, yaitu tentang kimia komputasi karena banyak sekali aspek yang bisa ditulis dari sini, mulai dari tutorial instalasi, input dll. Beliau juga selalu mengatakan bahwa kimia komputasi hanyalah tool untuk kimia secara umum so kita juga harus bisa eksperimen. Ya, benar sekali. Jika kimia komputasi hanyalah tool, aku pengin bisa memakai tool ini, melihat orang lain menggunakannya, menirunya dan hingga ke tahap modifikasi.

Baik itu di kimia komputasi ataupun di eksperimen, ketika kita suka akan hal itu pasti akan memberikan manfaat bagi kita. Sudah sewajarnya dua sisi kimia itu berjalan bersama, kimia komputasi butuh eksperimen dan eksperimen juga butuh kimia komputasi. Intinya sejauh mana kita mau mendalami bidang itu, mau salah satu boleh, mau keduanya juga boleh🙂, tergantung kemampuan kita, terus terang karena aku dari dulu sangat suka komputer, maka aku pilih mendalami kimia komputasi. Semoga di masa depan hal-hal tidak menyenangkan yang kualami tidak lagi terjadi kepada orang lain.

Kembali lagi ke masalah pendidikan, memang aku bukan juara olimpiade, ber-IP cum laude, pakar dalam semua bidang. Namun demikian, pendidikan harus bisa mengantarkan orang pada bidang yang dia suka entah wirausaha, sains, sosial dll. Hal inilah yang jarang terjadi, ketika SMA siswa tidak diarahkan ke bidang apa yang dia suka, maka ketika kuliah dia bingung. Bingung? Ya, bingung karena sudah terlanjur masuk ke kampus, tapi tidak suka dengan apa yang dia pelajari akibatnya cara-cara curang seperti menyontek, googling pas ujian terjadi. Mungkin mereka mencari IP, pemuja IP.

Semoga saja puluhan bahkan ratusan teman-teman saya se jurusan masuk kimia sesuai dengan passion mereka, atau paling tidak mereka menemukan passion mereka ketika di Kampus Biru ini. yah, semoga saja teman-teman saya yang sudah lulus/minimal sudah ujian skripsi juga sudah menemukan passionnya sehingga mereka berani bertanya kapan kamu lulus pada orang lain, tetapi jika mereka tidak menemukan passionnya selama kuliah ya semoga saja mereka tidak menjadi “robot” dan lekas menemukan passion.

Mungkin ini dulu jawaban mengapa aku lulusnya lama karena memang aku mencari ilmu lain di sini dan ketika lulus nanti aku berharap sudah memiliki bekal untuk memasuki War of Talent. Mau sepakat atau tidak dengan bagian akhir tulisan ini tidak masalahkarena saya tidak suka dipaksa untuk sepakat dan memaksa orang lain untuk sepakat dengan saya.

Satu hal yang selalu saya do’akan pada Allah Azza wa Jalla agar Allah memberikan rizki dari passion saya ini kelak (Amiiin)

# Debian di sini singkatan dari Debian GNU/Linux
# Linux di sini singkatan dari GNU/Linux
# Ditulis ketika masih teringat ekspressi orang yang menanyakan kapan lulus pada saya, hmm.

4 thoughts on “antara aku, kau dan dia part 9 timeline of my script

  1. Mantappppppp bro!
    Tulisan yang menarik asik dan gak kusangka ternyata perjuanmu berat juga. Tetep jaga idealisme mu untuk menggunakan passion kamu dalam bertindak, bekerja dan berfikir. Beri ilmu passion dan kimia komputasi kepada semua orang yang belum tahu dan mulia rubah dunia ini dengan merubah diri kita menjadi manusia yang merdeka, #DoWithOurPassion.

  2. wah gak nyangka nik,
    dengan latar belakang yang kurang lebh sama, dan dengan niatan yang kurang lebih sama juga, sepertinya tulisan tentang passion kita ini memang harus di sebar luaskan. senangnya punya teman senasib😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s