antara aku, kau dan dia part 8 teman lama

Beberapa waktu lalu pas saya sedang on line, tiba-tiba ada teman lama yang kini telah lulus mengajak untuk chatting. Sontak saya kaget karena selama kami kuliah sangat jarang kami bercakap-cakap meski selama 3 tahun satu lab jika praktikum. Tak terasa ingatan saya kembali melayang ke akhir tahun 2008, waktu pertama kali mengenalnya atau lebih tepat disebut dengan tidak sengaja melihat namanya di jas praktikum. Dia adalah orang yang baik dan cerdas, setidaknya menurut saya ketika itu. Tetapi beberapa dari pandangan saya terhadapnya berubah ketika dia mulai mengenal pacaran dan wallahu a’lam saya tak sama sekali tak menduga bahwa dia akan berpacaran. Satu peristiwa yang masih saya ingat dengan jelas adalah ketika mereka berduaan di salah satu perpustakaan kampus. Waktu itu saya terheran-heran orang sepertinya bisa berduaan dengan yang bukan muhrimnya. Entah, apakah dia sekarang masih pacaran atau tidak, saya kurang tahu.


Lalu apa yang bisa kita ambil pelajaran kejadian ini dan semoga ini menjadi renungan bagi diri saya pribadi dan pembaca sekalian.

-> Hidayah itu harganya mahal. Oleh karena itu, ketika hidayah itu telah datang kepada kita hendaknya kita menjaganya agar tidak hilang.

-> Jagalah pergaulan kita dan hendaknya kita melihat dengan siapa kita bergaul. Dengan orang yang baik kah atau dengan orang yang buruk? Karena teman kita akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Orang yang jelek akan bergaul dengan orang yang jelek dan orang yang baik akan bergaul dengan orang yang baik juga.
-> Hendaknya juga kita berpikir untuk realistis mana kala sedang mencintai orang lain. Maksudnya? Cek apakah kita sudah siap menikah atau belum? Jika belum hendaknya kita banyak-banyak puasa, aktivitas agar pikiran kita tidak selalu tertuju pada orang yang kita cintai dan juga menjaga diri kita agar tidak terjerumus dalam jalan cinta yang salah. Ingatlah, Allah menyuruh kita untuk menjaga kesucian diri kita hingga Allah memampukan kita untuk menikah.

-> Sesuatu yang baik menuntut cara yang baik juga. Misalnya begini, kita ingin nilai bagus, maka harus belajar. Ingin cepat lulus, ya harus rajin garap skripsi dan penelitian. Ingin nikah, ya kerja. Nah, pacaran bukanlah jalan yang baik dan benar bagi orang yang ingin menikah, mengapa? Dalam pacaran mengandung berbagai macam hal yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, mulai dari memandang, memegang, berduaan wanita yang bukan muhrimnya. Mungkin juga ada yang mengatakan pacaran kan tidak harus zina? Ya, tapi dalam pacaran terdapat semua pintu dan jalan menuju zina, maka dari itu kita dilarang mendekati segala pintu dan jalan yang mengantarkan pada zina. Logikanya, jika jalan dan pintu pada zina itu sendiri telah dilarang, apalagi berbuat zina, jauh lebih dilarang.

-> Segala yang kita miliki saat ini adalah nikmat dan karunia yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Wajah yang cantik dan rupawan, waktu luang, usia muda, uang yang diberikan oleh orang tua, segala fasilitas yang kita miliki dan segala yang kita punyai. Oleh karena itu, gunakanlah dengan baik dan bijak. Jangan sampai apa yang kita miliki justru kita salah gunakan.

Ingatlah kawan, cinta itu ibarat api yang membakar dan tidaklah api yang membakar itu ada melainkan karena percikan-percikan api. Seorang penyair pernah berkata

“Pindahkanlah hatimu kepada siapa saja yang engkau mau
Namun kecintaan (sejati) hanyalah untuk kekasih yang pertama
Betapa banyak tempat di bumi yang sudah biasa ditinggali seorang pemuda
Namun selamanya kerinduannya selalu kepada tempat yang pertama ia tinggali”

maksudnya, cinta yang akan kita ingat adalah cinta pertama, oleh karena itu rasulullah menganjurkan agar menikahi gadis yang masih perawan bukan janda karena jika kita menikahi janda maka pasti akan dibandingkan dengan suaminya yang pertama. Dengan demikian, agar kita juga tidak menikahi orang yang pernah pacaran, karena pasti akan dibandingkan dengan pacarnya dulu, kecuali orang tersebut telah taubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Jika aktivitas bernama pacaran itu baik, pasti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam akan menganjurkannya, tapi beliau menyuruh pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa bukan untuk pacaran sebelum nikah. Sampai di sini dulu tulisan yang singkat ini, semoga kita bisa mengambil pelajaran.

# Ditulis ketika ingat jumpa dia untuk pertama kali di penghujung tahun 2008.

# Eh iya, akhirnya dia menikah bukan dengan orang yang pernah pacaran dengan dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s