antara aku dan dia part 5 ( wises version)

Siang ini aku, mas rozaq dan pak amate jum’atan di Balairung UGM. beberapa menit sebelum kami berangkat tiba-tiba ada seorang dosen tua masuk. Wajah beliau sudah sangat aku kenal sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini. Ya, beliau adalah Prof. Muchalal atau yang sering kami panggil pak Muchalal. Beliau sudah pensiun sekitar bulan Mei tahun 2009, tapi beliau masih aktif untuk datang ke kampus bahkan salah seorang temanku, Alfan adalah bimbingan beliau. Tak terasa ingatanku melayang ke pertengahan tahun 2007, saat kami pertama kali bertemu.

Waktu itu aku masih menjadi mahasiswa baru. Ya, suatu pagi di hari Selasa, jadwal kami adalah kuliah Kimia Organik Dasar 1 yang beliau ampu. Maklumlah masih semangat mahasiswa, aku duduk tepat di depan meja dosen. Sst, pak Muchalal masuk membawa sebuah buku tebal. Beliau lalu menyalakan komputer dan mencari-cari M*cr*s*ft W*rd, tapi tampaknya beliau sangat kebingungan karena tak menemukannya. Memang waktu itu MIPA menggunakan OpenOffice di semua komputer ruang kuliah. Beliau yang tidak familiar dengan Open Office bingung mencari M*cr*s*ft W*rd yang dulu tidak diinstall di setiap computer di ruang kuliah. “mana ini wordnya? Kata beliau sambil mengutak atik computer. ”itu pak pakai open office writer aja, itu kayak M*cr*s*ft W*rd” kataku. “coba kamu ke sini” perintahnya. Aku pun maju ke meja komputer dan mengklik dua kali shortcut oow. Beliau tampak tersenyum dan berkata “ biasa ne yang pinter komputer ga pinter kimia”. Seisi kelas langsung tertawa mendengarnya. Pada saat itu Pak Muchalal bertanya padaku “kamu namanya siapa dan asal mana?’. Aku jawab saja “ niko pak, asal jogja”. Keesokan harinya aku pergi menghadap beliau di ruangannya setelah kuliah, kami berbicara banyak hal mulai dari mana sekolahku hingga pak Muchalal menunjukkan satu hal yang menarik saat itu, HyperChem. Waktu itu aku bertanya bagaimana bisa komputer digunakan untuk merancang senyawa-senyawa baru? Beliau hanya menjawab “gini lho, kamu ganti gugus-gugus fungsinya lalu kamu optimasi nah ntar tahu mana senyawa baru yang aktif”. Sejak saat itu beliau selalu ingat dengan namaku dan hampir di setiap kuliah aku selalu dipanggil sehingga teman-temanku heran kenapa Pak Muchalal bisa-bisanya hafal denganku dan menyangka aku ini adalah tetangga dari Pak Muchalal. Waktu itu kami sering berkomunikasi lewat hape, namun karena aku ceroboh nomor hapeku yang lama mati dan akhirnya kami jarang berkomunikasi lagi. Pada waktu Pak Muchalal pergi ke NTT beliau juga sempat meng-sms menanyakan apakah aku tadi bisa menjawab soal ujian. Bahkan beliau sempat komplain padaku karena pada waktu mengoreksi jawaban ujian akhir, tulisanku sulit dibaca hehe.

Semenjak menginjak semester-semester berikutnya aku jadi jarang berkomunikasi kembali dengan Pak Muchalal karena beliau memang tidak mengajar kami lagi, memang kami kadang-kadang berpapasan di jurusan kimia. Sebelum ini terakhir kali aku bertemu dengan pak Muchalal adalah ketika beliau sedang duduk di dekat Mushola Mipa Utara sebelum acara praktikum di tahun kedua kuliah. Aku segera menyalaminya dan pada waktu itu beliau berkata “dah nikah belum?”. Sambil cengar-cengir aku menjawab “belum pak, masih lama kayaknya”.
Bulan mei 2009 beliau pensiun dari jurusan kimia dan untuk menghormati kepensiunan beliau digelar dengan mengadakan seminar nasional tentang kimia organik di mipa utara. Aku akui beliau termasuk orang yang cerdas, banyak alat-alat lab hasil karya beliau sendiri dan itu lebih powerful daripada alat-alat konvensional. Sebagai contoh waktu aku masih dimintai tolong membantu temanku mengerjakan PKM, kami sering melakukan kalsinasi selama seharian, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam dan itu pun belum ada jaminan bahwa hasil kalsinasi kami akan bagus.

Tetapi, Alfan, dengan alat kalsinasi buatan pak Muchalal dia melakukan kalsinasi hanya 15 menit men! Bayangkan! Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya. Itu belum lagi alat-alat distilasi dan kolom GC yang beliau ciptakan. Aku tidak sempat menghadiri seminar tersebut dan tidak mengucapkan sepatah kata pun pada beliau.
Kami saling bertemu kembali ketika aku selesai konsultasi KRS dengan DPA-ku, Prof.Dr.Endang Tri Wahyuni MS. setelah konsultasiku selesai, aku pergi keluar dari ruangannya dan berjalan di lorong lantai 2 jurusan kimia. Tiba- tiba saja aku secara tidak sengaja bertemu dengan Prof. Dr. M. Muchalal, DEA di depan ruangan beliau.
Prof (sambil tersenyum padaku): “niko?..masih belum punya istri kan?”
Niko: “belum pak, sulit nyarinya”
Prof : “nyari apa?”
Niko : “nyari duit dan nyari istrinya, pak”. Entah kenapa Pak Muchalal ingin aku agar segera menikah.
Prof : “ayo masuk dulu temenin aku.” Aku pun masuk dan duduk di ruangannya. Tak terasa sudah dua tahun aku tidak masuk ke ruangan Pak Muchalal. Beliau kemudian bertanya lagi padaku apakah aku sudah mulai kuliah.
Prof : “kamu udah mulai kuliah?”
Niko : “belum, pak. Ini saya baru saja krsan sama bu endang”
Prof : “ ambil berapa sks?”
Niko : “23 pak, saya ngulang kimia analitik dasar 1 “
Prof:”kimia analitik dasar 1?”
Niko :”iya, pak. Saya sering kesulitan menghitung ph buffer, asam dsb”
Prof:”itu gampang! buffer kan Cuma begini dan begini(Pak Muchalal kemudian menunjukkan cara menghitung buffer padaku)”
Niko :”iya pak, kalo buffer asam berbasa satu saya bisa tapi bagaimana dengan buffer fosfat pak, dia kan punya 3 Ka?”
Prof:”kalo buffer fosfat, kamu hitung dulu garam terbentuk garam apa yang terbentuk(beliau kemudian kembali mengajariku cara menghitung buffer fosfat). Ni tak kasih print2an kamu pelajari ini”
Niko :’iya pak terima kasih..”
Prof :”kad 1 dosennya siapa?”
Niko:” pak roto sama pak suherman, oiya pak saya juga masih bingung dengan kesetimbangan dan koefisien reaksi”
Prof:” kalo koefisien reaksi itu adalah kesetimbangan sesaat dan begini…begini(pak muchalal kembali menunjukkan cara menghitung pada ku). Sama pak roto kamu diajari kinetika gak?”
Niko: :”tidak pak..itu di kimia fisika 2”
Prof: “kapan kamu mau lulus?”
Niko:”insyaALLAH 5 tahun pak, banyak yang ingin saya ketahui”
Prof(dengan nada agak tinggi):” salah kamu!!kamu rugi kalo lulus 5 tahun hanya karena banyak yang belum kamu ketahui, tak itung-itung setahun itu bisa habis 13 juta buat kuliah untuk SPP, pulsa dll. saya punya mahasiswa, namanya yusuf”.
Niko :” yusuf, mantan ketua kmk?”
Prof :”iya. Dia lulus 4 tahun kurang satu bulan. Pas dia udah ketrima kerja gaji awalnya 4,7 juta, transportasi 700ribu, pondokan 700 ribu sebulan. Orang yang lulus 4 tahun tandanya orang itu mampu mengenali dirinya sendiri dan mampu mengatur dirinya sendiri. Jika kamu lulus 5 tahun maka secara psiko kamu itu tidak mampu mengenali dirimu sendiri dan kamu udah telat”.
Niko:”telat apa pak?”
Prof: “telat kerja setahun. Yang lulus 4 tahun udah ketrima kerja kamu masih kuliah. Selain itu kamu bakal kalah saingan dengan mereka-mereka yang lulus 4 tahun. Sedih aku dengar kamu kayak gitu. Yang lain aja berlomba-lomba cepet-cepetan lulus kamu malah mau 5 setengah tahun lebih”.
Aku cuma terdiam saja mendengar ceramah dari pak muchalal.
Prof :” kamu sudah paham?”
Niko : “iya pak”.
Prof :”kamu ada waktu kapan?”
Niko:” hari jumat, senin..”
Beliau lalu meminta KRSku dan mencatat jadwal kosongku.

Tahun 2009 menjadi tahun yang sangat berarti bagiku karena aku kembali mengikuti kuliah pilihan yang diajarkan oleh pak Muchalal, teknik laboratorium. Di semester berikutnya aku jarang bertemu dengan beliau karena kesibukan kuliah dan tugas mandiri. Hingga tak terasa aku sudah menjalani KKN di Gunung Kidul. Satu yang kuingat dari pesan beliau pada saat KKN itu adalah kalau cintamu ditolak justru kamu harus bahagia, bukan bersedih. Lama sekali aku memikirkan hal ini hingga akhirnya aku sadar bahwa mungkin dia bukan yang terbaik bagi kita dan masih ada kesempatan untuk mencari yang lebih baik dari dia hehe😀.

Aku bertemu dengan Pak Muchalal setelah lama sekali kami tak pernah bertemu. Ini semula bermula ketika aku membolos kuliah pada hari Senin kemarin, tak disangka ini malah menimbulkan masalah baru di hatiku ini, gelisah, merasa bersalah dsb. Jauh hari sebelum kejadian itu Pak Muchalal pernah bertanya padaku jika ada seorang koruptor A dan B, lalu si A ketangkap polisi dan dihukum, maka kamu akan milih mana? Aku jawab saja B. namun, Pak Muchalal malah marah dan berkata kamu ini gimana, mengapa kamu milih hidup sebagai penjahat. Seharusnya kamu milih A karena dia mash diberi kesempatan untuk bertaubat. Ketika orang berbuat jahat itu dia tidak punya iman. Jika dia punya iman pada Allah, bahwa Allah Maha Melihat, Mendengar dan Mengetahui maka ia tidak akan berbuat jahat. Kamu mengerti? Kemudian aku berkonsultasi dengan beliau. Rencananya sih pada Rabu siang, tapi beliau terlanjur pulang. Akhirnya keesokan harinya aku beranikan diri menemui beliau. Tak disangka beliau malah memberi nasihat berharga yang akan aku ingat sepanjang hidupku. Nasihat itu antara lain: aku harus membuat prioritas dalam hidup, mengerjakannya dengan penuh disiplin, semangat dan keikhlasan. Kedua aku harus mengatur strategi agar prioritas itu dapat terlaksana dengan baik dengan energi yang minimal, tepat pada waktunya dan nilai yang bagus. Ketiga, jangan mudah menyerah, putus asa dan mengeluh yang tanpa alasan. Apalagi mengeluh hanya karena kamu diacuhkan oleh cewek. Ketika itu terjadi, acuhkan saja dia, jika dia cinta padamu niscaya dia pasti akan menanyakan kabarmu dan memulai komunikasi denganmu. Keempat, menjaga iman, ketika kita bersalah, dan dihukum jadikan itu sebagai pelajaran karena orang yang melakukan kesalahan tidak memiliki iman, bagaimana jika dia terus menerus melakukan kesalahan hingga mati, imannya hilang. Dan karena itu, jadikan musibah yang menimpa kita menambah rasa syukur kita terhadap Tuhan. Kelima, jangan mudah jatuh cinta. Lihat kanan jatuh cinta, lihat kiri jatuh cinta. Tapi ingatlah istri itu seperti baju. Harus dipilih dan dipilah karena istri akan membersamai kita setiap waktu dan dijadikan teman untuk mengambil keputusan. Saya tahu kamu suka dengan orang yang lebih kaya darimu. Ketika kamu menikah dengannya buatlah komitmen bahwa kita tidak akan membawa kekayaan ortu kita. Cari kontrakan sendiri, berjuang untuk bertahan hidup. Keenam, luluslah dengan waktu 4 tahun dan nilai yang bagus. Karena nilai yang bagus adalah syarat mutlak untuk mendapatkan kebahagiaan di masa depan. Dengan nilai yang bagus kamu bisa bekerja dengan gaji tinggi. Dengan gaji tinggi kamu bisa membuat usaha enterpreneurship. Ketujuh, setelah ini kamu akan memasuki hutan belantara di mana kawan menjadi lawan, tidak ada bekal kecuali transkrip nilaimu sendiri. Oleh karena itu, jika kamu hendak menaklukkan hutan belantara tersebut, kamu harus paham bahasa belantara, bahasa inggris.

Beliau kemudian menanyakan padaku di manakah tugas akhirku. Aku jawab saja di komputasi. Kenapa malah milih komputasi? Kenapa tidak kerja lab saja? Aku jawab karena aku suka komputasi. Hal itu berarti aku akan bersaing dengan para ahli komputer dari kampus-kampus ternama. Selain itu, bagaimana jika terdapat lowongan sebagai kepala lab? Kerja lab itu sebenarnya melatih kita bekerja sama dengan orang lain dan menghargai orang lain serta merancang masa depan. Ketika kita butuh bahan kita harus meminta pada laboran, mempersiapkan alat lab itupun dengan laboran dan tidak keroyokan dengan orang lain. Ketika kita tidak bisa, kita tanya teman satu lab. Nah, jika di komputasi kamu tanya siapa? Ya tanya dosen dan teman-teman S2 dan S3. Anak S2 dan S3 itu lama-lama bosan jika kamu tanyai terus dan mereka pasti ngrasani kamu ketika kamu tidak ada. Tulisan kamu jelek, mungkin karena kamu tidak suka menulis. Tes pekerjaan itu akan lebih suka dengan tulisan tangan. Tulisan tangan dianalisis oleh para psikolog, begitu juga dengan cara berjalan, berpakaian bahkan retina mata. Semua bisa dianalisis dengan psikolog. Oia, Pak Muchalal juga bercerita bahwa mahasiswa itu tidak sayang dengan dirinya sendiri. Ketika mereka tidak tahu, tidak mau bertanya entah pada dosen atau teman, jarang ke perpustakaan dan selalu duduk di belakang. Ditambah lagi jika mereka tidak pernah mencatat, karena catatan itu merupakan ingatan.
Semua nasihat dari Pak Muchalal kembali menggairahkan hidupku ini. Hidup adalah sebuah pilihan, termasuk juga ketika aku memilih tugas akhir di bidang kimia komputasi. Hal ini akan sangat mengurangi jumlah kerjaku di lab. Tapi untunglah kerja labku lumayan banyak juga dulu. Ya, ini bisa menjadi nilai cacatku manakala aku bersaing dengan teman-teman yang lebih banyak jam kerja labnya. Mungkin aku harus tanya ke Pak Ria sebagaimana saran dari Pak Muchalal. Terkadang aku sempat menyesal juga kenapa tidak dari dulu aku pergi dari kimia jika memang suka dengan komputer. Namun demikian, penyesalan tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Itulah terakhir kali aku bertemu dengan beliau dan berbincang-bincang dengannya. Memang dalam kurun waktu kuliah aku masih mendengar kabar Pk Muchalal yang dikabarkan tengah sakit. Mas hafiz, temanku mahasiswa S2 kimia organik juga pernah bercerita tentang beliau, satu kalimat yang paling kuingat dari cerita mas hafiz adalah bahwa pak Muchalal pernah berkata padanya “aku iki oleh kere, tapi aku ra entuk bodho”. Sebuah kata-kata yang menyadarkan pada kita bahwa uang bukanlah segala-galanya. Hal itu menjadi tamparan keras di saat banyak orang rebutan ingin populer hingga mencampakkan rasa malu mereka, ingin kaya dengan melakukan segala cara, berebut kekuasaan dll. Uang memang bukan jaminan bahwa hidup kita akan bahagia. Kata-kata itu justru mengingatkan kita bahwa ilmu itu lebih dari sekadar uang.

Mungkin ini dulu sekelumit pengalamanku dengan seorang profesor (tapi beliau tidak suka dipanggil profesor), mengapa cerita ini aku angkat? Apa hanya untuk nostalgia belaka? Tidak, bukan cuma sekedar itu, yang ingin kusampaikan di sini adalah bahwa dosen, guru dan tenaga pengajar itu seharusnya tidak hanya mengajarkan materi kuliah saja, tapi juga harus membimbing, mengarahkan mahasiswa agar tidak salah arah. Dosen adalah orang-orang yang pengalamannya jauh lebih banyak daripada mahasiswa, pelajaran dari pengalaman-pengalaman itulah yang harus mereka tularkan bagi para mahasiswa karena kita kuliah bukan saja sekedar ingin mendapatkan materi kuliah, tapi way of life as legend. Pendidikan bertujuan untuk mengajarkan yang benar adalah benar, yang salah adalah salah, bukan cuma sekadar materi kuliah. Sebagai kalimat penutup, Pak Muchalal pernah berkata padaku “ Niko, penyakit yang paling saya takutkan adalah kemunduran otak. Otak tidak bisa lagi diajak berpikir jika telah tua, makanya banyak-banyaklah makan sayuran, buah dan yang sehat. Maka dari itu aku selalu pergi ke kampus ini. Karena kalau di rumah hanya sendiri, tidak mengerjakan apa-apa, itulah yang menyebabkan kemunduran berpikir otak. Kan kalau di sini, aku bisa menulis buku, jalan-jalan masuk lab lha wong aku sudah pensiun dan bertemu dengan orang lain sehingga otak itu selalu mikir, mikir dan mikir”. Sekian

# taken from my autobiograph
# sesungguhnya ukuran seorang lelaki tidak diukur dari ketampanan wajah, fisik, melainkan dari ilmu yang dia miliki.

6 thoughts on “antara aku dan dia part 5 ( wises version)

  1. Inspiratif sekali mas, makasi sudah berbagi.
    Pak muchalal juga sekarang masih mengajar di kampus saya.
    Beliau masih sama dengan yang mas ceritakan. Selalu menjadi inspirator dan pembimbing yang luar biasa bagi kami.

  2. subhannallah, semoga Bapak Muchalal diberi kesehatan.. aku termasuk murid beliau ka’, skrg beliau masih mengajar di Universitas Setia Budi.. salam kenal untuk kk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s