internet,nge-blog dan malu

Menulis adalah hal yang sebelumnya sangat sukar saya lakukan, penyebabnya sederhana karena saya memang tidak tahu apa yang harus saya tulis hehe. Dari semester kedua hingga semester keenam saya kuliah, mungkin sudah lebih dari 5 blog yang saya buat, tapi semuanya hanya sekedar membuat saja hehe, setelah itu mati karena tidak pernah saya isi, bahkan mati karena lupa password dan usernamenya. Padahal menulis itu suatu hal yang penting, ketika ingin lulus sarjana, master dan doktoral harus menulis kan? Budaya menulis merupakan indikasi majunya suatu bangsa, ya logika saja semakin sering menulis makin sering juga membaca, membaca jembatan ilmu (kata gurunya Upin & Ipin). Selain itu, menulis lebih baik daripada hanya sekadar berkata-kata karena tulisan akan diingat sepanjang masa sedangkan kata kadang mudah dilupakan. Dosen saya pernah berpesan “ikatlah ilmu dengan tulisan agar kamu tidak lupa”. Oleh karena itu, saya kepengin sekali bisa menulis yang baik. Jika perlu bisa mendapatkan penghasilan dari pekerjaaan menulis seperti Onno W. Purbo, mantan dosen ITB yang pensiun dini dan menjadi penulis lalu sering melalang buana ke mana-mana (ebook linimas(s)a, 2011).

Meski dulu saya termasuk orang yang jarang menulis, tapi saya termasuk orang yang sering berada di dunia maya, bukan untuk friendster-an (jaman itu masih belum booming facebook, twitter dll) hanya untuk sekedar mencari-cari artikel tentang komputer dan beberapa web lainnya. Ya, saya memang suka komputer tapi “salah” masuk ke Jurusan Kimia di salah satu kampus di tanah jawa ini. Hingga tak terasa koleksi file-file tutorial komputer ternyata jauh lebih banyak dari pada file-file kuliah saya hehe. Sampai-sampai saya pernah berniat membuat blog tentang tutorial pelajaran kimia karena terinspirasi oleh ilmukomputer.com, mengumpulkan semua presentasi dosen dan teman-teman lalu mengupload-nya ke web agar bisa didownload secara online, bebas. Tapi ini ternyata cuma sebatas ide belaka dan tidak pernah terrealisasi. Hambatan terbesar ketika itu untuk mulai menulis adalah karena saya merasa tidak tahu apa-apa akan bidang yang sedang saya pelajari, IP standar, tidak pernah ikut olimpiade, jarang ikut penelitian, so apa yang harus saya tulis? Masih ingat dengan jelas diingatan saya, blog terakhir yang sempat saya buat adalah blog KKN tentang pembuatan makanan olahan dari pisang. Cuma sehari itu saja saya buka blog tersebut pada hari di mana saya membuatnya, kemudian lupa apa username dan passwordnya lagi. Yah, karena saya memang tidak punya hasrat untuk mengembangkan blog itu.

Mengutip perkataan dari Mbak Salsabeela dari ebook linimas(s)a, “Kamu adalah orang yang paling tahu apa misi hidupmu dan apa passionmu. Jika belum tahu, pikirkan terlebih dahulu. What wakes you up every morning? What drive you? Apa yang akan tetap lakukan saat kamu punya all the money in the world? That, is your passion”. Waktu itu saya masih belum menemukan passion saya di Kimia hingga akhirnya berujung pada kebingungan ketika hendak menulis alias nge-blog.

Meski saya tidak tahu apa yang akan saya tulis tapi pada dasarnya internet dunia yang bebas, tidak akan ada yang melarang kita untuk mengungkapkan semua yang ada di otak kita,mulai dari hal-hal positif misalnya membuat tutorial, artikel-artikel tentang topik tertentu hingga hal-hal yang negatif misalnya berpose porno sehingga tidak akan ada yang tahu apa benar ini kita sendiri yang menulis atau cuma sekedar copy-paste. Pornografi membuat saya jadi ingat bahwa sudah menjadi rahasia umum bahwa pornografi merupakan salah satu konten yang banyak dicari para pengguna internet di negara kita, semua ini karena kebebasan yang keblabasan, bahkan warnet-warnet pun entah apa maksudnya membuat semacam bilik tertutup di setiap komputernya. Untuk itulah pihak-pihak terkait harus mengatur, bukan membatasi kebebasan berekspresi di dunia maya. Bahkan saking bebasnya Menkominfo harus susah payah memblokir situs porno yang masuk ke Indonesia. Bukannya saya meremehkan atau tidak sepakat dengan hal ini, tapi usaha ini tampaknya terlalu muluk karena di internet banyak sekali halaman web yang mengandung konten porno, mungkin ada jutaan halaman porno di internet. Dapat dibayangkan betapa susahnya pekerjaaan memblokir situs porno itu, lebih aneh lagi sempat ada rumor bahwa twitter pun akan ikut dimata-matai alias diawasi. Untuk itulah saya menggunakan kata mengatur bukan membatasi. Mengatur hanya sebatas menjaga agar hal-hal negatif dari internet tidak dapat diakses oleh generasi muda bangsa ini. Sedangkan membatasi artinya menutup-nutupi informasi yang masuk sehingga tidak semua pengetahuan, dapat diakses. Silakan kalau mau berpose porno, tapi cuma di hadapan suami/istri jangan sampai menjadi konsumsi umum yang justru tidak membawa nikmat, tapi malah membawa sengsara dan sudah menjadi rahasia umum juga bahwa internet merupakan ladang informasi yang tak terbatas, kehadiran semua peraturan tersebut tidak boleh membatasi akses informasi masyarakat. Disadari atau tidak kehadiran internet juga turut mencerdaskan bangsa, banyak informasi yang tidak tertulis di buku, tapi dengan bebas dapat diakses di dunia maya. Bahkan riset-riset ilmiah terbaru juga hadir dalam bentuk pdf dan bisa diakses secara on-line. Bukan hanya masalah pornografi, masalah plagiarisme juga menjadi perhatian. Saya sering mendapati blog-blog yang hanya sekedar copy paste tulisan dari artikel-artikel lain lalu di publish ulang tanpa menyebutkan daftar pustaka. Bukan hanya itu, banyak juga yang mengambil tulisan dari internet lalu mengklaim sebagai karyanya. Inilah bentuk penyalahgunaan dari kecanggihan teknologi internet saat ini.

Kebebasan berekspresi di internet semakin ditunjang dengan adanya situs jejaring sosial semacam facebook, twitter dll. Mereka tanpa canggung menuliskan status-status yang notabene isi hatinya, menampilkan status bahwa dia sedang berpacaran, menikah, lajang, galau. Bahkan ada yang memaki-maki di facebook seolah-olah tiada rasa takut dan khawatir. Sering saya di facebook mendapati teman-teman saling menggombal satu sama lain, facebook milik berdua yang lain nitip status.

Kembali ke kasus saya dulu, karena merasa “putus asa” akhirnya saya berhenti berusaha nge-blog dan mulai menulis autobiografi, siapa tahu suatu saat saya akan menjadi orang terkenal hehe dan mencari apa yang menjadi passion saya. Akhirnya saya tahu apa itu passion ketika aku batal mengikuti kuliah Komputasi Rancang Obat. Gara-garanya tidak semua mahasiswa yang ikut kuliah itu punya passion yang sama denganku. Passion berarti rasa cinta pada pekerjaan yang sedang kita geluti sekarang, tanpa passion semua hanya akan dikerjakan dengan seenaknya dan DENGAN RASA TERPAKSA. Memang sih saya agak berbeda dengan teman seangkatanku yang kebanyakan mengambil tugas akhir di lab basah. Dari semua mahasiswa Kimia angkatanku hanya dirikulah yang mengambil tugas akhir di lab kimia komputasi.

Nah, setelah menemukan bahwa passion saya di sini, ide-ide untuk nge-blog muncul secara sendiri dan ternyata ide itu ada di sekitar kita. Tulisan Pak Antyo Rentjoko (antyo.rentjoko.net) di ebook linimas(s)a, http://linimassa.org terus mengingatkan saya untuk mencari-cari ide-ide tulisan dari hal-hal yang simple, tidak usah muluk-muluk. Saya masih ingat tulisan pertama waktu itu adalah ucapan selamat datang di blog dan pengalaman instalasi OpenSuse di rumah. Kemudian dari hasil curhatan keluh kesah teman di lab karena seringnya muncul pesan error, cinta saya yang “ditolak”, “dipaksa” mengerjakan hal-hal yang tidak saya suka, saya publish juga haha😀 Absolutely, saya suka dengan tulisan beliau.

Karena internet merupakan dunia yang bebas, maka tanpa rasa khawatir saya mem-posting hal-hal di atas. Namun demikian, satu hal yang masih saya dan harus dipegang oleh setiap pengguna internet di Indonesia adalah kebebasan itu dibatasi oleh rasa malu. Malu untuk dicap plagiat membuat kita menulis sesuatu yang orisinil atau membuat daftar pustaka untuk tulisan kita. Malu dicap tak bermoral membuat kita berhati-hati mengambil foto lalu menguploadnya ke internet. Malu dicap miss update membuat kita hati-hati dan tidak sembarangan dalam membuat status-status di facebook atau twit di twitter. Malu dicap pembohong membuat kita menulis artikel yang bagus, tidak asal booming saja. Masalahnya, apakah ketika kita masuk bilik warnet rasa malu itu masih ada atau malah menggunakan aji mumpung, mumpung gak ada yang lihat, buka yang gitu-gituan? Nah, inilah yang perlu dibatasi, bukan pemerintah yang membatasi, tapi kita sendiri yang membatasi diri kita bahwa saya tidak ngenet kecuali untuk hal-hal yang penting dan saat butuh informasi penting saja, misalnya ketika harus mencari referensi di internet, nge-blog. Dengan sibuk mencari informasi yang bermanfa’at maka tidak mungkin akan terbesit di benak kita untuk membuka atau mencari hal yang berbau porno. Kalau kita mengakses internet tanpa tahu apa yang harus dicari maka tidak mungkin justru akan membuka halaman web yang amoral dan ini dapat merusak fisik dan masa depan kita sendiri. Atau jika tidak bisa, maka pelaku bisnis internet, maka tidak boleh membuat warnet dengan bilik, kalau memang rizki kita dari usaha warnet maka tanpa bilik pun warnet kita akan laku asal koneksi cepat dan tarifnya murah. Oke😀.

“kalau kau tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s