antara aku, kau dan dia part 4 (Episode 30 Juni)

30 Juni kemarin, bagi sebagian teman-teman seangkatanku di Jurusan ini merupakan hari yang paling membuat deg-degan sekaligus menyenangkan karena nama mereka akan bertambah panjang he. Khusus, diriku 30 Juni juga merupakan hari yang paling bersejarah, bukan karena namaku akan bertambah panjang, tapi karena memang di hari inilah ada sesuatu yang terjadi pada waktu itu.
Jika kita cermati fenomena akhir-akhir ini, maka ada satu hal yang agak miris yang kita temui: pacaran. Hampir dari semua teman-teman saya memiliki apa itu yang mereka sebut dengan pacar.

Hmm, bahkan teman-teman saya yang juga jebolan sekolah agama pun memiliki pacar, bahkan saling berbangga-bangga dengan pacar mereka hingga ada yang mengatakan “fesbuk milik berdua, yang lain numpang bikin status”. Ada yang mengatakan bahwa pacaran merupakan ajang penjajakan sebelum menikah, ada juga yang mengatakan bahwa pacar bisa memberikan lebih dari apa itu teman. Gilanya lagi, teman yang tidak memiliki pacar mengaku-aku punya pacar, byuh byuh.

 Satu pertanyaan yang sering muncul di benakku adalah apa arti penting dari pacaran? Jika memang cinta, nikah saja. Sah secara agama, sah secara catatan sipil dan insya ALLAH membawa berkah. Selesai habis perkara. Tapi tetap saja tidak ada yang langsung mau menikah ketika mencintai orang lain, belum siap katanya. Pacaran berani, nikah gak berani. Padahal jika dipikir-pikir, pacaran itu ilegal. Ilegal karena masih belum sah menjadi suami istri sudah berani pegang-pegang, bawa pergi ke bioskop,ke mana-mana berdua dll. Jika diibaratkan naik motor, orang pacaran itu naik motor tanpa punya STNK dan BPKB. Nah lo, dari sini bisa dicurigai kan kalau dia menaiki motor itu secara ilegal alias tanpa seijin yang empunya motor.

Kembali ke apa yang terjadi pada tanggal 30 Juni. 4 tahun lalu aku baru saja lulus MA, tapi tidak seperti layaknya orang yang baru lulus, sibuk mencari kampus, cari motor (hehe), cari info-info tentang SPMB/SNMPTN justru waktu itu aku mencari ijin ke ibuku buat menyempurnakan separuh agama ini hehe. Kontan saja ibuku tertawa malam itu dan mengatakan intinya masih belum saatnya, kamu ini kerja saja belum, adikmu masih kecil dan segudang alasan lainnya. Pada awalnya sih, aku tidak terima juga, tapi setelah dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan ibuku itu.

Ada sebuah hadist dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam yang artinya
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”Yang dimaksud baa-ah dalam hadits ini boleh jadi jima’ yaitu mampu berhubungan badan. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud baa-ah adalah telah mampu memberi nafkah. Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullahh mengatakan bahwa kedua makna tadi kembali pada makna kemampuan memberi nafkah. Itulah yang lebih tepat. Jika menilik ke dalam hadist ini banyak sekali faedah yang bisa kita ambil dari sini, pertama pacaran sebelum menikah bukanlah solusi untuk menyalurkan rasa cinta kita pada lawan jenis. Meski tampaknya di dalam pacaran itu terdapat seabrek “kebaikan” dan kesenangan, tapi semua itu malah akan mengundang murka dari ALLAH Subhanahu wa ta’ala karena kita melanggar larangannya untuk tidak berduaan dengan lawan jenis, memandang lawan jenis, memegang lawan jenis yang bukan mahramnya, kita disuruh berpuasa jika masih belum mampu menikah🙂. Kedua, menikah itu membutuhkan persiapan, baik dari segi finansial maupun mental. Hoho, jadi ingat ketika diskusi dengan takmir mushola mipa utara, dia bilang lha wong kita mau ujian akhir saja semua ada persiapannya kok, cari catatan, fotokopi materi dll, ini mau nikah malah gak ada persiapan.

Nah, alasan finansial inilah yang dulu diutarakan ibuku dulu. Karena setelah menikah, memberi nafkah kepada istri adalah tanggung jawab dari suami. Berdosa jika suami tidak mau memberi makan anak dan istri. Maklum, waktu itu saya masih anak-anak juga😀.

Cinta itu mirip dengan kuliah eldas, di mana kita harus memiliki imajinasi ketika melakukan interpretasi data hasil instrumen. Namun demikian, jangan terlalu percaya diri ketika melakukan eldas, apalagi hanya menggunakan sebuah instrumen. Waktu itu aku terlalu percaya diri hingga berani meminta hal yang demikian pada ibuku, tapi ternyata interpretasiku waktu itu salah ditambah lagi selama kami bersekolah di sini belum pernah bercakap-cakap sama sekali, loh? But anyway, its okey, setidaknya itu jadi pelajaran.

30 Juni, 4 tahun yang lalu pagi hari setelah mengutarakan uneg-uneg kepada ibu, ternyata ada hal yang tidak terduga terjadi. Di hari kami terakhir kali bertemu eh, ternyata dia malah asyik ngobrol dengan orang lain😦. Adzan dhuhur mulai berkumandang, mereka masih tampak asyik mengobrol. Sementara itu, sekolah telah sepi, daun-daun kering berguguran meratapi kepergian kami dari sekolah ini. Aku beranjak ke masjid mengambil air wudhu dan ikut shalat berjama’ah. Pikiranku yang semakin tak menentu memaksaku untuk segera pulang ke rumah meninggalkan teman-temanku dan dirinya yang tengah asyik mengobrol dengan laki-laki itu. Yah, sudahlah! Ternyata kita juga mengikuti hukum entropi, entropi di alam selalu meningkat. Sistem cenderung menuju ke arah yang tidak teratur termasuk kita. Entropi di alam semakin meningkat dan ternyata kita larut di dalamnya.

Selama 4 tahun setelah kejadian itu kami tak pernah bertemu lagi, mungkin karena kesibukan kami yang berbeda. Bahkan sudah lama sekali tak saling kontak. Maklumlah, aku sering tidak puas dengan satu operator dan pindah ke operator lainnya😀. Hanya saja, kami pernah ketemu di jalan, tepatnya selasa sore ketika selesai ujian Analisis Bahan Industri. Itupun aku baru sadar setelah kami berpisah di sebuah pertigaan. Tapi selama itu pula, aku masih ingat dia dan kejadian di hari itu.

So, pelajaran apa yang bisa diambil: jika kalian memang mencintai orang lain, beranilah untuk segera menikah dengannya. Setelah berani, baru berusaha melakukan persiapan seperti kerja, banyak-banyak mengaji ilmu tentang nikah dll. Kalo misalnya belum berani, ya jangan pacaran, tapi banyak-banyaklah berpuasa dan menyibukkan diri dengan hal yang lain agar cinta itu hilang. Cinta itu tidak salah, yang salah ketika penempatannya bukan pada tempatnya. Sama seperti tulisan yang lalu, cinta itu seperti eldas, jika cinta kalian ditolak, atau dia mencintai orang lain. Cek lah diri kalian, apakah sudah benar menginterpretasikan data sehingga berani membuat kesimpulan dia mencintaiku.

#eh, saat ini saya masih belum menikah lho, masih berusaha keluar dari tempat ini.

One thought on “antara aku, kau dan dia part 4 (Episode 30 Juni)

  1. Pingback: antara aku, kau dan dia part 45 memories in gundam’s film | Niko Prasetyo's personal blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s