antara aku, kau dan dia part 3 (Something about Passion)

Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin menulis masalah ini, tetapi masih menunggu inspirasi-inspirasi berikutnya, tapi rasanya otak ini ingin segera menuangkan hal ini🙂. Semua berawal dari ujian mid, di mana salah satu temanku tidak datang, Miftah Faried. Hmm, tak biasanya dia tak datang ujian dan ketika aku tanya kenapa dia tak datang ujian, jawabannya itu bukan passionku (halah). Pada awalnya aku tak percaya dengan apa yang dia katakan panjang lebar tentang passion, tapi pada akhirnya aku percaya juga hehe. Tepatnya ketika ada sebuah kejadian “memalukan” hingga aku dan dua orang temanku harus dipanggil oleh salah seorang dosen, gara-gara beberapa mahasiswa yang mengambil mata kuliah itu tidak memiliki passion yang sama.

Passion dalam kamus bahasa inggris berarti nafsu, hasrat. Yap! Nafsu, hasrat itulah terkadang yang dipahami secara sempit dengan keinginan untuk berhubungan badan dengan lawan jenis. Padahal jika kita sejenak memikirkan apa itu passion dan apa pengaruhnya dalam kehidupan kita maka sebuah hal yang luar biasa akan kita temui di sana. Passion juga bisa diartikan dengan semangat, hasrat, minat yah setidaknya saya mengartikan demikian, suatu hal yang membuat kita merasa nyaman, menyenangkan dan membuat semangat kita menyala-nyala ketika mengerjakan suatu hal. Passion berarti rasa cinta pada pekerjaan yang sedang kita geluti sekarang, tanpa passion semua hanya akan dikerjakan dengan seenaknya dan DENGAN RASA TERPAKSA. Karena dikerjakan dengan terpaksa, maka hasilnya jelas, tidak akan menghasilkan sesuatu yang terbaik.

Nah, passion inilah yang menjadi kunci sukses dari beberapa “orang besar” di dunia ini. Misalnya saja Linus Torvald yang dulu mengerjakan kernel linux hanya karena hobi, tapi karena keinginannya yang besar akhirnya linux menginspirasi banyak orang hingga dihasilkan OS yang sekarang ini. Begitu juga orang-orang yang sukses dengan bidang yang mereka geluti, Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Yulianto dll. Semua karena memiliki passion dalam diri mereka hingga akhirnya mereka total dalam passion yang mereka geluti.

Dulu dan saat ini (mungkin) saya masih terjebak dengan hal yang bukan menjadi passion saya hanya karena sebuah ketidaktegasan dalam mengambil keputusan. Akibatnya rasanya agak tersiksa juga ketika harus mengerjakan hal itu hehe. Hmm, saya jadi ingat pengalaman dua tahun lalu. Waktu itu saya masih mem-privat anak SD kelas 6. dia bilang lesnya sampai jam 18.30 saja dan saya iyakan keinginannya. Namun, di tengah jalan, saya paksa dia belajar sampai jam 19.00, akibatnya selama setengah jam dia hanya melengos mencoba melepaskan diri dari belajar. Mengapa hal semacam itu bisa terjadi? Jawabnya sederhana, karena dia kehilangan passion untuk belajar, akibatnya jika dipaksa maka secara otomatis dia akan melawan paksaan itu atau menjalaninya dengan rasa terpaksa. Memang, terutama jika passion kita berbeda dengan mainstream kebanyakan orang, maka cap-cap seperti aneh, anak buangan, gak prospektif, gak ada gunanya, buat apa kamu mengerjakan itu, bukan termasuk bidang ini, terus setelah selesai mau diapakan? Dibakar terus diminum dengan air panas? Dll. akan datang menghampiri kita. Ya, semua sudah pernah saya terima hanya karena passion saya di sini, mungkin sama juga dengan teman saya si Faried itu. Kata-kata yang menganggap kita sesuatu yang “aneh”. Nah, jika kita tidak kuat menghadapi kata-kata seperti itu yang jelas pasti kita akan berlari meninggalkan passion kita lalu mengikuti arus kebanyakan atau dalam istilahnya Sponge Bob “menjadi normal” hehe. Kata-kata semacam itu muncul karena orang-orang di luar kita tidak tahu apa yang sedang kita kerjakan sehingga tampak dari luar seolah-olah mengerjakan hal yang “tidak berguna”. Padahal jika kita membuka sedikit pandangan, maka di luar sana banyak orang yang mencari orang-orang dengan tahu akan bidang yang “tidak umum” dan banyak juga orang yang sukses dengan bidang yang “tidak umum” ini misalnya saja pemilik kedai digital, mana ada bikin merchandise cuma satu buah, yang ada dimana-mana bikin dengan jumlah yang banyak, bahkan ada penerima nobel yang spesifikasinya adalah di bidang yang “tidak umum”.

Efek negatif lagi ketika berlari meninggalkan passion kita adalah semua menjadi “magel” alias tidak matang, di passion kita gagal dan di bidang baru kita juga gagal karena tidak memiliki ilmu yang mencukupi serta harus mengejar orang-orang yang terlebih dahulu di depan kita. Nah, mendingkan kita mendalami passion kita, terus jika memang di sini kita tidak dihargai atau tidak terpakai, pergi mencari tempat di mana passion kita akan semakin berkembang dan pada akhirnya kembali lagi ke kampung halaman, seraya berkata “i’m succeded with my passion!”.

Subhanallah, nilai yang jelek di beberapa mata kuliah pada tahun-tahun sebelumnya mengantarkan saya untuk bertemu dengan satu dosen yang selalu berkata di setiap kuliahnya “feel free, be yourself, don’t think a lot, just do it, do the best and leave the rest to the God”. Lalu apakah yang dimaksud dengan kata-kata itu, meski dosen tersebut telah menjelaskan panjang lebar, tetapi tetap saja saya tidak paham. Paling tidak, menurut saya jika dikaitkan dengan bahasan tentang passion berarti bebaskanlah dirimu untuk mencari passionmu, jangan pernah merasa terbebani oleh tugas, tapi jangan juga bersikap seenaknya. Kerjakanlah tugas dengan tanpa rasa stress. Jadilah dirimu sendiri, pahami segala potensi yang kamu miliki. Nah, ketika kamu telah mengerjakan sesuatu, sudahlah jangan pikirkan apa kata orang lain tentang pekerjaanmu dan juga jangan pikirkan apa kata sisi negatif dari dirimu. Kerjakan saja, dan kerjakanlah dengan kemampuanmu yang terbaik dan jika semua telah dikerjakan, tawakkallah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yah, setidak ini penafsiran saya tentang apa kata dosen tersebut.

Lalu, bagaimanakah jika kita sudah terlanjur mengambil pekerjaan yang ternyata bukan passion kita? Ada banyak jawaban dan semua itu tergantung dari diri kita sendiri, tapi yang jelas ketika kita telah merasa bersalah dengan hal yang demikian maka, jangan pernah diulangi lagi di masa depan. Tegaslah, thats not my passion, I don’t want to do it! This my way, I knew what the consequences were and i’ll succed in this way.

Hmm, mengambil pelajaran dari salah satu film India, ketakutan akan masa depan bisa menghancurkan kita meski passion kita di bidang itu, mengerjakan hal yang bukan menjadi passion tidak akan pernah membawa kesuksesan dalam hidup dan kerjakan apa yang kamu cintai, cintai apa yang kamu kerjakan.

Statement terakhir dari saya dan para pencari passion yang lainnya, janganlah pernah takut akan masa depan, bumi ini luas, rizki dari Allah itu luas, kita tidak harus menjadi “normal”, dalam artian mengikuti arus kebanyakan teman-teman kita, jangan takut menjadi berbeda dan tegaslah. Tegaslah untuk berkata tidak, ini bukan passionku, meskipun aku kerjakan sekuat tenaga siang malam, hasilnya tidak akan sempurna/terbaik dan ini passionku, meski sulit, pasti aku bisa mengerjakannya karena aku cinta, cinta bidang ini.

Tetap dalam perdjoengan! (Romi Satria Wahono, pendiri ilmukomputer.com)

semoga bermanfa’at!

# ditulis ketika merasa tersiksa dengan kesalahan di masa lalu yang akhirnya membuat saya terjebak dengan hal yang bukan PASSION saya dan masih dikejar-kejar untuk mengerjakan hal itu hiks, hiks😦.

# ditulis juga setelah bertemu dengan teman lama yang kini menempuh co-ass di Korea Selatan, katanya di sana pendidikan telah diarahkan agar passion-passion anak-anak muda terhadap suatu bidang tertentu, kedokteran, fisika, kimia dll menjadi lebih berkembang hingga pada akhirnya membawa kemajuan bagi negaranya. Bidang yang bukan passion tetap ada tapi hal itu tidak menjadi beban bagi para siswa di sana.

# alhamdulillaah, Engkau mempertemukanku dengan mereka semua.

3 thoughts on “antara aku, kau dan dia part 3 (Something about Passion)

  1. PertamaX gan!!! Koe ki yo, bawa-bawa merk @MiftahFaried. Okey-lah gak apa, karena emang ini yang sebenarnya terjadi.

    Hari ini aku kembali yakin bahwa kita adalah orang yang terlahir untuk sebuah perubahan, perubahan bagi orang-orang disekitar kita agar menemukan passion kita masing-masing, minimal tulisan ini mengingatkan saya dan menginspirasi teman-teman kita yang lain agar mereka mau menemukan “passion” mereka dan berani mengatakan -I dont Love Chemistry-, seperti saya hari ini.

    Subhanallah, Allah memang maha memberi petunjuk kepada semua hamba-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s