Antara, aku, kau dan dia part 2 an Ending

Pagi hari setelah posting antara aku, kau dan dia ke blog rasanya agak sedikit mendingan, tapi entah kenapa ketika siang hari tadi tiba-tiba perasaanku galau lagi. Ya, melupakan bukanlah suatu perkara yang mudah dilakukan dan tidak dapat dilakukan dengan instan karena semua itu butuh proses sama halnya ketika dia masuk ke dalam pikiran kita dan mengenggam hati kita, tentu tidak dalam serta merta kan? Otak kita telah terbiasa menghadirkan gambaran tentang dia sehingga menimbulkan perasaan tenang, tenteram, damai, indah. Ketika kita memaksa otak untuk melupakannya maka sebagai konsekuensi adalah otak akan memberikan gambaran tentang kecewa, sedih dll. Kemunculan rasa-rasa ini didukung dengan adanya perasaan ketidakikhlasan dalam hati kita untuk melepaskannya. Nah, rasa ketidakikhlasan ini juga yang membuat mental kita down/drop ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan.

Cinta adalah hasil interpretasi otak, maka sebenarnya patah hati juga interpretasi otak juga atas input sms-nya terhadap orang lain, chattingannya, kebersamaan mereka dll. Jika kita membiarkan otak kita menganggur, maka kerja otak kita hanya akan menampilkan fragmen-fragmen negatif patah hati itu sendiri. Sialnya lagi yang muncul bukan fragmen indah, tapi fragmen-fragmen buruk. Fragmen ketika kita melihat dia bersama orang lain di depan mata kita, fragmen ketika orang itu menunggunya di depan lab dan fragmen ketika memergoki mereka saling ber-sms-an, chattingan dll.

Di antara banyak cara melupakannya adalah dengan tidak membiarkan pikiran kita menganggur karena jika pikiran kita kosong alias menganggur maka yang terjadi adalah akan muncul kenangan-kenangan bersamanya. Oleh karena itu, salah satu kebiasaan saya ketika rasa sakit akibat patah hati itu muncul adalah mengutak-atik komputer, entah mengkompilasi kernel ulang, atau kembali mencoba menginstall program dari source, menulis autobiografi dll yang penting agar pikiran saya sibuk sehingga tak sempat lagi memikirkannya.

Imam Syafi’i pernah diberi nasihat oleh seorang sufi, jika engkau tidak menghabiskan waktumu dalam kebaikan niscaya engkau akan menghabiskannya di dalam kejelekan. Nah, cara lain adalah berusaha menyibukkan diri kita dengan berbagai macam kegiatan, entah jualan, menulis skripsi, mengaji dll. Nglokro karena putus cinta atau patah hati hanyalah akan merugikan diri kita sendiri karena kita kehilangan waktu untuk berbuat yang lebih baik, kehilangan semangat untuk mencoba hal-hal yang baru. Oleh karena itu, ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan, take easy saja. Pada saat kita berusia 120 hari, ALLAH telah menggariskan kehidupan kita, rezeki, mati dan jodoh kita telah ditentukan. Nah, karena telah ditentukan itulah rasanya tak masuk akal jika nglokro gara-gara patah hati, karena telah ditentukan itu pula, kita harus berjuang dengan memperbaiki diri kita. Di dalam ilmu kimia ada asas yang disebut dengan “like dissolve like”. Ketika kita ingin jodoh yang terbaik bagi kita, maka perbaikilah diri kita dulu. Banyak di antara teman saya sering salah langkah dalam menjemput jodoh dengan melakukan apa yang disebut dengan pacaran. Menjemput jodoh adalah tidak dengan berpacaran, tapi dengan ta’aruf ketika kita telah siap untuk menikah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menyuruh pada pemuda yang ingin menikah namun belum siap untuk berpuasa bukan dengan berpacaran. Seharusnya kita bersyukur ketika cinta kita ditolak karena kita dapat mengintrospeksi diri, apakah kita telah siap menikah?

Pencegahan awal agar kita tidak patah hati adalah dengan mengubah interpretasi otak kita atas input-input darinya. Jika sejak awal kita telah salah menginterpretasikan kebaikan sikapnya kepada kita, maka ketika hasil interpretasi itu diuji di dunia nyata dan hasilnya ternyata interpretasi otak kita tidak sesuai dengan kenyataan, maka yang muncul pasti rasa kecewa dsb. Jangan biarkan otak kita menginterpretasikan semua input tentangnya secara berlebihan, berpikirlah sederhana. Sederhana, ah mungkin kebaikannya karena kita teman satu lab misalnya, bukan karena apa-apa. Dengan demikian manakala kita mengetahui bahwa dia sudah ada yang punya, maka otak tidak akan memberikan reaksi yang berlebihan yang kemudian pada akhirnya akan membuat kita nglokro.

Kecewa, gundah, gelisah juga bisa muncul karena kita belum tahu hikmah akan apa yang terjadi sekarang. Jika kita telah mengetahui hikmah dari kejadian itu, pasti yang akan muncul ada bersyukur. Salah satu cara lain agar bisa melupakannya adalah mencoba mencari hikmah akan apa yang terjadi. Dalam kehidupan ini tidak ada yang sia-sia dan pasti mengandung hikmah, percayalah bahwa jodoh kita sudah ditentukan oleh Allah, meski kita berusaha mengejar dia tapi jika memang dia bukan jodoh kita tetap saja tidak akan bisa bertemu. Lalu muncul pertanyaan bagaimana kita tahu jodoh apa bukan? Apa ukurannya? Sederhana saja, jika dapat menikah dengannya berarti itulah jodoh kita hehe. Oleh karena itu, kalau memang belum siap menikah lebih baik lupakan saja dia dari pikiran kita atau biarkan dia yang melupakan kita. Anggaplah tidak ada apa-apa dengannya, itulah pencegahan awal.

Wah, tampaknya saya terlalu menggurui ya, sebenarnya ketika menulis ini, perasaan saya juga sedang galau-galaunya sampai-sampai tidak berkonsentrasi ketika praktikum tadi hehe. Ya, karena sedang galau-galaunya itu saya mencoba mengeluarkan “dia” dari pikiran saya agar bisa lekas sembuh (amiin). Ah, saya sudah bosan menjadi korban dari keganasan cinta😛.
Tetap semangat kawan! Jalan masih panjang, dunia masih belum berakhir. Bumi ini luas kawan, tidak hanya selebar layar LCD/monitor🙂, meski dari layar monitor kita bisa melihat luasnya dunia ini. Jangan pernah kecewakan orang tua kita yang tulus mencintai kita. Tidak ada obat yang nikmat kawan, justru dibalik pahitnya obat, ada sebuah aktivitas untuk mencapai kesembuhan. Oke😀

# Sabtu, 30 April 2011 02:30 WIB, ditulis setelah melihat dia di dalam mimpi dan masih dalam rangka untuk melupakannya.

“I know that there’s a future where we will love each other (Solitude of Ocean Depth)”

2 thoughts on “Antara, aku, kau dan dia part 2 an Ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s